Ustad Hadi Salam, Mantan Petinggi Al-Zaytun Yang Bergabung Ke Khilafatul Muslimin

Tanggal 15 Dzulhijah 1433 H kru majalah Al Khilafah mewawancarai secara langsung melalui seluler kepada Ust. Hadi Salam. Beliau adalah mantan petinggi di Al Zaytun yang telah bergabung ke Khilafatul Muslimin. Kita meminta kepada beliau untuk menceritakan pengalaman yang bisa kita ambil ibroh nya, insya Allah. Berikut wawancara redaksi majalah Al Khilafah dengan Ust. Hadi Salam.

Assalamualaikum Ustadz Hadi Salam, Bagaimana Khabarnya?

Wa ‘alaikumussalam wr wb.. Alhamdulillah baik.

Langsung saja ustadz, bisa ustadz paparkan latar belakang keluarga dan juga pendidikan ? dan informasinya ustadz pernah mengajar, disekolah mana dan berapa lama ustadz ?

Saya lahir di Jakarta, tepatnya di daerah Tanjung Priok 50 tahun yang lalu. Ayah saya berasal dari Yogyakarta, beliau berprofesi sebagai guru SD, sedang ibu dari Purwokerto, seorang ibu rumah tangga. Saya sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi di Jakarta. Tahun 1980 saya lulus dari SMA Negeri kemudian kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Pada tahun 1983, sambil kuliah saya menjadi guru fisika di SMA Negeri 75 Jakarta selama satu tahun, menjadi guru matematika di MTs / MA Al-A’raf, MTs Persis di Tanjung Priok dan tahun 1986 pernah menjadi guru fisika di SMA Sudirman Cijantung sekitar satu semester.

Sebelum bergabung dengan Khilafatul Muslimin ustadz pernah aktif diharakah Islam mana saja? Dan informasinya ustadz pernah menjadi petinggi di jajaran staf Pondok Al Zaitun – Cirebon, bisa ustadz jelaskan bagaimana kondisi Pondok dan apa tugas – tugas ustadz di pondok tersebut?

Saya mulai tertarik dengan Islam setelah mengikuti pesantren kilat yang diadakan di masjid Salman-ITB Bandung, namanya Latihan Mujahid Da’wah (LMD) tahun 1982, ketika itu dipimpin oleh DR. Imaduddin Abdurrohim. Pada tahun 1983 kenal dengan gerakan usroh dari Yogyakarta, yang dimotori oleh Ust.Mukhliansyah, Fikhiruddin Muqti, Aos Firdaos, dan lain lain. Akhirnya saya mengenal dan menjadi anggota NII (Negara Islam Indonesia). Andai saya tidak segera menikah tahun 1985, mungkin saya termasuk yang dikirim ke Afghanistan. Setelah terjadi banyak perpecahan dalam kepemimpinan NII, pada Tahun 1995 saya dikenalkan dengan seorang yang bernama Syamsul Alam, pimpinan NII KW 9, yang sekarang kita mengenalnya dengan Panji Gumilang. Syaikhul Ma’had Al-Zaytun. Tahun 1997 saya mulai diajak melihat dan ikut membangun Proyek Ponpes Al- Zaytun. Sejak tahun itu pula saya ditugaskan menjadi orang no.2 di Wilayah Jawa Barat Utara, yang meliputi: Cirebon, Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya, Majalengka, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang. Jadi secara struktural, saya berada di territorial, yang tugasnya menyuplai dana, mencari santri, menyiapkan tenaga pengajar (mudaris) ke Al-Zaytun. Setelah melihat banyak kekeliruan yang tidak bisa saya luruskan, tahun 2005 saya memutuskan keluar dari struktural yang dipimpin Panji Gumilang tersebut.

alhamdulillah semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam setiap langkah perjuangan ini, kemudian apakah ustadz langsung menerima Khilafatul Muslimin atau sempat berdialog ilmu terlebih dahulu dengan Khalifah? Bisa dijelaskan kronologinya sampai ustadz bisa menerima Khilafatul Muslimin ?

Sejak keluar dari struktur territorial Al-Zaytun, saya menghubungi sahabat- sahabat lama dan mantan para petinggi Al-Zaytun yang telah lebih dahulu meninggalkan Al-Zaytun. Saya teringat dengan nasihat Rasulullah kepada Hudzaifah ibnul Yaman, “Talzamu jama’atal muslimiina wa imamahum”, tepatilah jama’ah muslimin dan imamnya, maka saya banyak mengkaji dan berdiskusi tentang masalah ini. Saya juga banyak berdiskusi dengan sahabat-sahabat yang telah menjadi warga Khilafatul Muslimin, sampai satu saat diajak berkunjung ke kantor pusat Khilafah di Teluk Betung dan sempat berdialog dengan Khalifah Al Ustadz Abdul Qodir Hasan Baraja’. Sebenarnya, nama Ust. Abdul Qadir Baraja sudah saya dengar sejak tahun 1984, sehingga ketika bertemu beliau saya sudah mengetahui latarbelakang perjuangan beliau. Saat itu yang tergambar dalam benak saya, khilafah itu identik dengan kekuasaan. Kalau sudah ada seorang Khalifah, maka harus mampu menegakkan hukum Islam secara sempurna. Diskusi dan dialog berlangsung berkali-kali di tempat yang berbeda-beda dengan sahabat-sahabat saya, diantaranya: ust. Mukhliansyah, Baharuddin Jar, Budiyatno, Sakirman, Almarhum Buya Majlis, dll (semoga Allah melimpahkan rahmat dan maghfirah kepada mereka semua). Maka setelah hampir sekitar dua tahun berdiskusi dan berdialog, barulah pada 23 Jumadal Ula 1429 H saya menyatakan bai’at menjadi warga Khilafatul Muslimin.

Point apa yang akhirnya ustadz bisa menerima Khilafatul Muslimin yangmerupakan Al Jamaah ?

Satu hal yang sangat mengusik hati saya, ketika Khalifah bertanya: “Kalau kita tidak punya pakaian yang menutup aurat, apakah kewajiban sholat menjadi gugur?” Saya menjawab: “Tidak, kewajiban harus tetap ditegakkan walaupun darurat”. Kemudian kata Khalifah: “Demikian juga halnya dengan kewajiban menegakkan khilafah.”

Setelah bergabung dengan Khilafatul Muslimin, apa harapan ustadz kepada umat Islam pada umumnya dan kepada sahabat – sahabat di Pondok Al Zaitun khususnya dalam rangka persatuan Ummat ?

Jika kita ingin mendapatkan cinta Allah maka kita harus ittiba’ (mengikuti) Rasulullah Saw. (Qs. 3:31) sehingga kita mendapatkan keridhoaan-Nya (Qs.9:100) Maka ummat Islam wajib bersatu dengan mengikuti sunnah Rasul-Nya. “Alaikum bi sunnati wa sunnati khulafa-ur rasyidin almahdiyyin.”,  “kewajiban kalian mengikuti sunnahku dan sunnah penggantiku yang lurus dan mendapat petunjuk” Tidak ada pilihan lain, ummat Islam harus bersatu dalam sistem Khilafah. Kalau kambing dipimpin oleh kambing, macan dipimpin oleh macan. Maka kita sebagai khalifah fil-ardhi (Qs. 2:30) hanya pantas dipimpin oleh seorang Khalifah juga, siapapun figurnya.

Terakhir ustadz, mohon berikan masukan dan saran yang membangun agar Khilafatul Muslimin bisa lebih baik kedepan nya !

Mengacu pada Qs. 41:33-35, Ahsanul Qaul (perkataan terbaik) adalah da’ailallah (mengajak kepada Allah), membuktikannya dengan amal sholeh (melaksanakan program untuk menegakkan Dienul Islam) dan menyatakan jati diri bahwa kita adalah bagian dari jama’ah muslimin yang satu. Artinya, Khilafatul Muslimin bukan hanya mengajak orang berjama’ah, tetapi juga harus membuktikan dengan program yang riil dalam menegakkan Islam, dan memperkuat ukhuwah sesama warga, bahwa kita adalah satu tubuh, satu sakit yang lain ikut merasakan. Sehingga orang dengan mudah membedakan, mana Kelompok yang baik dan mana Kelompok yang jahat, kita tolak kejahatan dengan cara yang paling baik (elegant), karena satu saat mereka akan menjadi teman yang sangat setia. Namun ahsanul qaul itu hanya bisa kita amalkan dengan kesabaran dan dengan jiwa yang besar.

Syukron Jazakumulloh Khoir ustadz atas waktunya, semoga dialog ini ada manfaatnya buat ummat Islam dan warga Khilafah khususnya. Aamiin.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts