USTADZ HAMZAH SAT, SEORANG HAFIDZ QUR’AN YANG SENANG DENGAN JULUKAN SAT (SINGA ANTI THAGUT)

Ustad yang juga Hafidz Qur’an ini lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 13 November 1971. Suka dengan gelar SAT (singa Anti Thagut) disandingkan di namanya. Dengan berbagai macam pendidikan yang di ikuti hingga perguruan tinggi menunjukan bahwa beliau juga dari kalangan akademisi/intelektual.

Malang melintang di beberapa harakah Islam, partai politik Islam. Hal ini dilakukannya dalam rangka mencari kebenaran Islam yang benar-benar Islam. Meyakini janji Allah didalam QS. Al Ankabut ayat 69, sehingga atas petunjuk Allah SWT dipertemukan dengan kebenaran yang Haq yakni Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) dan berharap menjadikannya sebagai muara yang terakhir dalam Iqomatuddiennya.

Bagaimana kemudian beliau bergabung dengan Khilafatul Muslimin dan kiprahnya setelah bergabung, mari kita simak wawancara singkat redaksi dengan beliau via handphone di bulan Muharam 1438 H berikut :

Assalamu’alaikum Wr Wb, bagai mana khabarnya ustad dan keluarga?

Wa’alaikum salam Wr Wb, Alhamdulillah sehat wal ‘afiat, berkat do’a antum dan ana do’akan antum dan keredaksian dalam keadaan yang sama dan senantiasa didalam Rahmat Allah, aamiin.

Kami dari redaksi majalah al khilafah, sebelumnya bisa berkenalan dulu ustad, mulai dari data pribadi, keluarga, pendidikan dan pekerjaan ustad !

Nama saya Hamzah SAT, SAT ini multi tafsir, tetapi saya lebih suka kalau di juluki SAT (singa anti thogut). Lahir sekitar 45 tahun silam tepatnya 13 Nov 1971 M di Kebumen, Jawa Tengah. Pernah menikah 5 kali, istri yang pertama sudah meninggal sekitar tahun 2006. Kemudian saat ini ada tiga istri yang mendampingi saya dalam jihad fi sabilillah dan ada 17 orang anak yang menjadi tanggung jawab saya untuk dibina dengan tuntunan Islam. Karena saya yakin Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ini yang benar, alhamdulillah semua anak-anak yang dewasa sudah berada didalam shaf Kekhalifahan dan sudah ada yang berkiprah di lembaga pendidikan berbasis Khilafah bernama PPUI (Ponpes Ukhuwah Islamiyyah).

Lulus SMA dari Kebumen ana masuk Ponpes Modern di Jakarta, tepatnya Ponpes Husnayain, tetapi tidak lulus dan masuk harakah NII sekitar tahun 1991, tahun 1992 ana melanjutkan ke LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) As-Siradj lulus diploma 1, kemudian melanjutkan ke pesantren tahfdizul Qur’an hingga selesai pada Januari 1996. Tahfidz Qur’an nya bersanad kepada KH. Abdul Ma’sum Al-Hafidz, yang nyambung sanadnya kepada KH. Arwani di Kudus dan seterusnya.

Usaha saat ini ana berdagang, masih menjadi penasihat di Perguruan Islam Terpadu dan Holistik Gema Nurani. Dulu sempat mengajar dan pernah menjadi kepala sekolah SDIT.

Punya pengalaman berorganisasi dimana saja dan pernahkah ikut dalam pergerakan Islam apa saja ustad sebelum akhirnya memilih bergabung dengan khilafatul muslimin?

Dulu pernah bergabung di harakah NII Jakarta, bersama Ust. Hadi Salam (saat ini Amir Daulah Barat, red), sebagai koordinator team dakwah Jakarta Timur. Kemudian pindah ke NII Solo jalur Ngruki sampai peristiwa cikal bakalnya JI yang di motori oleh Ust. Abdulah Sungkar dan Ust. Abu Bakar Ba’asyir di Malaysia sementara saya bergabung dengan JI yang di Jakarta. Kemudian masuk ke LMI (Liga Muslim Indonesia), ketika itu presiden LMI nya Budi Santoso. Ana sebagai ketua dewan syuro LMI Bekasi juga sebagai sekjen TBHP (Team Bina Harian Pusat) bersama Ust. Muhammad Abu Dan (saat ini beliau warga Khilafah Jakarta, red). Sempat juga ikut “Jamaah Tabligh”, pernah juga di Gerakan Dakwah Ikhwanul Muslimin.

Sementara juga pernah ikut di Partai Politik, diantaranya pernah ikut merintis PAN daerah Bekasi Utara. Juga pernah ikut melahirkan PBB nya Bekasi. Sementara di beberapa Partai Islam lain hanya sebagai pastisipan saja. Ana aktif disana sini di dalam harakah Islam tentunya ingin mencari Kebenaran Islam, ingin mengabdikan diri sebagai abdullah di Islam yang sebenar-benarnya Islam. Dan ana punya prinsip bahwa orang yang bersungguh-sunguh mencari ridha Allah (berjihad) pasti akan Allah tunjukan jalan keridhaan-Nya (QS. Al Ankabut : 69). Dari sinilah akhirnya ana ditunjukan dengan Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) dan mudah-mudahan inilah tempat muara terakhir ana, insya Allah.

Bagaimana proses pencarian antum hingga kepada Khilafatul Muslimin dan poin apa yang membuat antum yakin untuk berjuang menegakkan Dien (Iqomatuddien) didalam Kekhalifahan Islam milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ini ustad?

Kenal dengan Khilafatul Musimin ini hasil dialog pertama dengan sahabat Al Ustad Buya Majelis (Allahu yarham), kemudian lanjut dialog dengan Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja’ langsung di PPUI Bekasi. Proses dialog seharian dari pagi hingga Dzuhur dengan Buya majelis, dari Zuhur hingga Magrib dengan Khalifah akhirnya ana pun mantap tidak ada bantahan, kemudian ba’da Magrib ana bergabung dengan Kekhalifahan dan mengikrarkan bai’at.

Poin penting yang membuat ana merasa yakin diantaranya kewajiban bersatu /berjamaah ketika ada Nabi Muhammad SAW ummat Islam dipimpin oleh Nabi didalam sistem an nubuwah, dan kewajiban bersatu setelah Rasulullah dari dalil yang ana fahami dan fakta sejarah adalah sistem Khilafah dan Khalifah /Amirul Mukimin sebagai Ulil Amrinya. Dulu sempat punya pemahaman kalau menegakkan Khilafah harus ada wilayah sebagaimana pemahaman sebagian banyak kaum muslimin hari ini, tetapi setelah dikaji dalilnya pun tidak ada, maka manhaj Kenabian ketika awal-awal berjama’ah inilah yang kita ikuti hingga nanti Allah yang memberikan kekuasaan didalam kesempurnaanya (QS. An Nur : 55).

Kemudian bagaimana kiprah antum atau pernah menjabat apa saja setelah bergabung dengan Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ini ustad !

Setelah bergabung di PPUI Bekasi ana langsung diamanahkan sebagai Qismut Tarbiyah wa Taklim (TWT) Ummulquro Bekasi. Kemudian ada pemekaran wilayah dan terbentuk Wilayah Jakarta dan wilayah Jawa Barat yang ketika itu Ust. Abdul Aziz sebagai Amir Wilayah Jawa Barat dan ana diamanahkan menjadi Qismut TWT wilayah. Kemudian sempat terpilih menjadi Amir Ummilquro Bekasi, dan dalam perkembangannya ketika ada pemekaran wilayah Jawa Barat menjadi Priyangan dan Jawa Barat Al-Ghorbiyyah ana terpilih menjadi amir wilayah Jawa Barat Al Ghorbiyyah membawahi tiga Ummulquro (Bekasi, Karawang dan Subang).

Beberapa tahun ana menjadi amir wilayah Jabar Al-Ghorbiyyah terjadi perkembangan dengan mekarnya struktural kemas’ulan dan Ummulquro sehingga ketika merasa sudah cukup syarat untuk di mekarkan wilayah maka wilayah Jabar Al Ghorbiyyah mekar menjadi wilayah Karawang dan wilayah Bekasi Raya dan ana menjadi amir wilayah Bekasi Raya. Didalam perjalanan ana sebagai amir wilayah diganti dengan saudara yang lain pilihan ummat. Kemudian setelah itu ana di tugaskan langsung oleh Khalifah menjadi Murobbi PPUI Bekasi sempat berjalan beberapa tahun.

Setelah selesai tugas di PPUI Bekasi kemudian ana dikembalikan ke struktural dan saat ini diamanahkan sebagai Qismut TWT wilayah Bekasi Raya pimpinan Ust. Wuri Handoyo. Inilah Kekhalifahan yang dibangun, ana melihat Khalifah /Amirul Mukimin mengajarkan agar tidak ada lebih atau kurang dengan sebuah jabatan, bahwa  semua sama hanya bagi-bagi tugas saja, sehingga tetap berjiwa besar walau tidak menjabat, layaknya seorang Khalid bin Walid RA tetap semangat walaupun diturunkan jabatannya menjadi prajurit.

Punya kisah menarik ustad ketika antum telah berada di Khilafatul Muslimin ?

Ada beberapa pengalaman tetapi ada satu yang terkesan bagi ana, yakni kejadian penyerangan terhadap kantor wilayah Jabar Al Ghorbiyyah oleh orang jahil di Jomin, Cikampek, ketika itu ana menjadi amir wilayah. Jamaah / Khilafatul Muslimin di fitnah oleh orang yang tidak suka akan keberadaan kita, sehingga memobilisasi masa untuk menyerang dan memporak porandakan markaz kita. Penyerangan pertama hanya beberapa ratus orang datang ke kantor, kondisi ana sendiri di kantor karena staf wilayah yang lain sedang bertugas turba ke Ummulquro, kemudian ana diamankan oleh aparat kepolisian ke Polres Karawang.

Esoknya ana mendesak agar hal ini diselesaikan dan kita menyampaikan klarifikasi atau penjelasan akan fitnah yang terjadi, kita datangi camat, kades dan tokoh masyarakat untuk diadakan dialog. Ketika terjadi dialog di kantor desa mereka malah memobilisasi masa lebih besar lagi hingga ribuan orang. Dan atas izin Allah dan do’a dari Khalifah dan ikhwan-ikhwan semua akhirnya semua bisa terselesaikan. Justru dengan kejadian ini menjadi cikal bakal pesatnya perkembangan Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) di Karawang, karena Khilafatul Muslimin menjadi dikenal.

Apa harapan Ustad kepada warga khilafatul muslimin khususnya dan ummat Islam secara umum terhadap Kekhalifahan ini?

Kepada warga Khilafah ana selalu memotifasi diri dan ikhwan semuanya agar senantiasa SDI (Sungguh-sungguh, Disiplin dan Ikhlas). Agar dengan SDI ini lahirlah istiqamah dalam diri kita, kemudian diakhir perjuangan kita khusnul khotimah atau mendapat kan syahadah di sisi Allah SWT. Kepada kaum muslimin secara umum ana menyarankan agar segera bergabung dengan satu-satunya sistem Islam yang sempat hilang yakni Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) agar mendapatkan Rahmat dari Allah dan mendapat kemuliaan di sisi-Nya di akhirat, karena tiada kemuliaan kecuali bergabung dengan Al Jama’ah /Al Khilafah agar dengan itu maka do’a kita Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasahan, wakina ajabannar, dikabulkan oleh Allah, aamiin.

Baik Ustad, jazakumullah khairan katsiran atas waktunya, semoga apa yang Ustad sampaikan dapat kita ambil ibrah, hikmah dan manfaatnya untuk kejayaan dan kemuliaan islam, aamiin.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts