USTADZ ABAD BADRI TAMAM, MENJADIKAN KHILAFATUL MUSLIMIN SEBAGAI PELABUHAN TERAKHIR DALAM IQOMATUDDIENNYA

Ustadz kelahiran Aceh 52 tahun silam ini pernah merasakan sebagaimana pepatah “anak ayam kehilangan induknya” setelah wafatnya Ust. Gaos Taufik yang selama ini sudah dianggap orang tua olehnya.

Butuh waktu yang cukup lama dalam pencarian untuk menemukan wadah (jama’ah) yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Beberapa harakah di Indonesia diajak dialog meskipun belum semua namun menurutnya perjuangannya masih bersifat partial (tidak menyeluruh), hingga akhirnya bertemu dengan Ust. Tatang Kusnita yang tentang menyampaikan Khilafatul Muslimin sehingga menjadi bahan pemikirannya.

Kegigihan Ust. Rasudin selaku mas’ul  Sukabumi dafis (dakwah fisabilillah) dan silaturahim kerumahnya, dan senantiasa memberikan majalah al-khilafah setiap terbit edisi terbaru, membuat hatinya terbuka dan melihat kelebihan Khilafatul Muslimin dibanding harakah yang pernah diajak dialog sebelumnya.

Bagaimana kisah hingga ayah Abad memutuskan bergabung dengan Khilafatul Muslimin dan ingin menjadikannya pelabuhan terakhir dalam iqomatuddien, serta semangatnya dalam mendakwahkan Al Haq ini, berikut kita simak wawancara singkat Pimpinan Redaksi Ust. Mukhliansyah dengan ayah Abad pada bulan Rabi’ul Awwal 1437 H berikut :

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Bagaimana khabarnya dan saat ini sedang ada kegiatan apa ustad ?

Wa’alaikumussalam Wr Wb. Alhamdulillah ana sehat wal ‘afiat, semoga keredaksian juga dalam keadaan demikian. Alhamdulillah ana baru selesai menghadiri pernikahan ikhwan dan ana diminta untuk “khutbah nikah” nya.

Bisakah ustad menyampaikan perkenalan kepada redaksi dari data pribadi, keluarga, dan pendidikan ustad?

Nama ana Abad Badri Tamam, ana lahir di Aceh, 17 Sep 1963. Di lingkungan ana saat ini tepatnya di Ponpes Al Fath Urrabbani di Kampung Ranji Cigarung Desa Kebonpedes Sukabumi lebih dikenalnya “Ayah Abad”. Ana setelah lulus sekolah tidak melanjutkan kuliah secara formil namun ana kuliahnya dari pengalaman di dalam perjuangan. Ana selalu mengikuti Abi Ana (Ust. Ebeng Suhaepi) ketika beliau aktif dalam harakah perjuangan Islam di DI (Daarul Islam) sehingga ana terwarnai oleh pemikiran beliau dan menjadi modal bagi ana untuk tetap selalu berada didalam harakah dan perjuangan Islam. Abi ana satu angkatan dengan Ust. Gaos Taufik. Latar belakang keluarga, satu istri dikaruniai empat orang putra, yang paling besar usia 27 tahun dan yang kecil 6 tahun.

Bagaimana antum terwarnai oleh perjuangan di Harakah dan bagaimana antum kemudian mengenal perjuangan dengan sistem Kekhalifahan (Khilafatul Muslimin), ustad?

Ini prosesnya lumayan panjang, berawal ketika Ust. Gaos Taufik wafat kami seperti pepatah mengatakan “anak ayam kehilangan induknya”. Sehingga perjalanan perjuangan kami agak sedikit tersendat, sementara kami tetap berpegang pada pemikiran ikhwan-ikhwan walaupun kita tidak punya orang tua namun dalam kajian-kajian, taklim-taklim tetap berjalan khususnya di wilayah sekitar kami.

Kemudian kami berfikir bahwa kita harus dakwah keluar untuk merealisasikan bahwa Islam Rahmatan lil ‘alamin, sehingga kami merasa butuh satu wadah (jama’ah) yang ideal yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya (Qur’an dan Sunnah) berikut dengan pemimpinnya (Ulil Amri). Maka kurang lebih sekitar tiga tahun proses perjalanan kami dalam pencarian kesana kemari untuk segera kita putuskan mana yang pantas untuk kita ikuti menurut Qur’an dan Sunnah, ini sebagai prinsip kami.

Mulailah kami berdialog dengan beberapa harakah walaupun belum semua harakah kita ajak dialog dan kami belum memutuskan untuk bergabung dengan harakah manapun karena kami masih melihat perjuangan mereka yang partial (belum menyeluruh).

Kemudian bertemulah ana dengan Ust. Tatang Kusnita atas wasilah dari Abi Gaos Taufik dan dijelaskan tentang Khilafatul Muslimin. Atas permintaan Ust. Tatang, Ust. Rasudin selaku mas’ul ummah Sukabumi agar silaturahim ke rumah ana dan menjelaskan tentang Khilafatul Muslimin secara detail. Dengan kegigihan mas’ul datang ke rumah ana walau terkadang sengaja ana cuekin, dan sering ana patahkan pendapatnya (sebenarnya hanya ingin mengetahui sejauh mana keikhlasan dalam mengemban amanah untuk menyampaikan kebenaran ini). Dan Ust. Rasudin terus tanpa kenal lelah datang silaturahim ke rumah ana dan memberikan majalah al-khilafah setiap edisi terbaru. Dari tulisan-tulisan dimajalah al-khilafah dan informasi berita perkembangan Kekhalifahan inilah semakin membuat hati ana terbuka dan ana mulai melihat ada kelebihan di Khilafatul Muslimin yang kami butuhkan selama ini dibanding harakah-harakah yang pernah kami ajak dialog yang ada di Indonesia.

Maka ana kemudian membe-narkan dan memutuskan siap bergabung dengan Khilafatul Muslimin, walau sempat berfikiran kalau ikhwan-ikhwan disini tidak mendukung maka ana sendiri yang akan berjalan. Alhamdulillah ternyata ikhwan-ikhwan di daerah kami mendukung dan merekapun menyatakan siap bergabung dengan Khilafatul Muslimin (Kekhalifahan milik kaum muslimin).

Kedatangannya Ust. Mukhliansyah bersama Ust. Rasudin ke pondok kami pada akhirnya tidak kami sia-siakan, kami bersama 10 ikhwan lain mengikrarkan bai’at menyatakan bergabung dengan Khilafatul Muslimin. Alhamdulillah.

             Sudah berapa jumlah warga yang bergabung hingga saat ini dibawah koordinasi ayah Abad dan apa ada kemungkinan dimekarkan?

Hingga saat ini jumlah warga yang bergabung sudah ada 22 orang dengan tiga tahapan, tahap pertama ketika hadirnya Ust. Mukhliansyah sebanyak 10 orang, tahap kedua ketika Ust. Rasudin dan akhuna Ferry, bergabung 6 orang dan tahap ketiga ketika hadir Ust. Tatang Kusnita bergabung 5 orang, dan sehari setelahnya bergabung lagi 1 orang, alhamdulillah. Do’akan kami semoga ini terakhir pelabuhan bagi kami dalam perjuangan menegakkan Dienullah ini dan senantiasa istiqamah, aamiin. (hasil wawancara redaksi dengan Ust. Rasudin selaku mas’ul ummah Sukabumi insya Allah pasti akan dimekarkan Kemas’ulan Sukabumi, melihat jumlah warga yang telah memenuhi syarat, namun nanti setelah beberapa pembinaan (Tahdzib) sehingga diharapkan struktural kemas’ulan yang baru nanti dapat berjalan sesuai dengan juklak dari pusat Kekhalifahan Islam).

Apa program kedepan ustad dalam mendakwahkan Kekhalifahan Islam ini khususnya didaerah sekitar?

Kami beserta ikhwan yang telah menjadi warga Khilafah walau tanpa sepengetahuan mas’ul secara langsung kami mencoba menyusun program untuk mendakwahkan Kekhalifahan Islam kepada masyarakat secara umum khususnya di Kebonpedes dan lebih luasnya seluruh wilayah Sukabumi, insya Allah. Termasuk kedepan rencana akan mendakwahkan Kekhalifahan ini melalui lisan dan juga tulisan yaitu melalui majalah al-khilafah, insya Allah.

Kemudian kami memulai Dafis (Dakwah Fisabilillah) bersama ikhwan di pekan pertama Rabi’ul Awal ke Ust. Denden pimpinan salah satu Pondok Pesantren di Cilaku, Cianjur. Dari dialog kami insya Allah katanya siap bergabung dan akan kita tindak lanjuti nanti, insya Allah.

Sore ini juga ana kedatangan sahabat ana dari Jakarta dia banyak pengalaman di harakah dan insya Allah punya cukup ilmu, dia sudah ana sampaikan tentang konsep iqomatuddien melalui sistem Kekhalifahan dan insya Allah dia sudah faham, alhamdulilah katanya siap bergabung sore ini. (di sela wawancara pimred dan staf menyaksikan bai’at Ust. Hasanudin bin Enin sahabat Ayah Abad melalui HP di loudspeaker secara langsung, semoga Istiqamah dan menjadi asbab untuk memperkuat Kekhalifahan ini, aamiin).

Sunatullahnya setiap Al Haq yang kita sampaikan pasti ada rintangannya ada yang menerima, ada yang berfikir dulu bahkan ada yang menolak dan memusuhi. Pada intinya kami akan senantiasa Dafis menyampaikan Al haq (Khilafah) ini khusus di daerah sekitar kami, insya Allah kita akan jadwalkan juga Dafis dan sosialisasi ke Sukabumi Utara dimana lokasi tersebut pernah dalam koordinasi kami.

Apa harapan ustad kepada kaum muslimin pada umumnya dan pada warga khilafah khususnya terhadap Kekhalifahan Islam ini ?

Secara umum tugas kita fitrahnya adalah “illa liya’budun” beribadah hanya kepada Allah I semata. Dalam merealisasikan ibadah kita kepada Allah, disini kita butuh wadah (jama’ah) agar ibadah kita sempurna dan diterima Allah I. Tentunya wadah (jama’ah) yang Allah dan Rasul-Nya ridha atasnya. Dan satu-satunya wadah (jama’ah) yang diperin-tahkan adalah Al jama’ah/Khilafah ‘ala minhajiin nubuwah. Kepada warga khilafah yang telah berada di dalam wadah agar berikan cerminan (teladan) kepada ummat Islam dan senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah dengan senantiasa menyam-paikan Al Haq kepada seluruh ummat Islam.

Baik ustad, Jazakumullah Khairan Katsira atas waktunya semoga apa yang antum sampaikan dapat kita ambil ibrah, hikmah dan manfaatnya untuk kemuliaan Islam, aamiin.

 

Facebook Comments
Tags:

Related Posts