USTAD YUSUF UMAR BAHSEN, ATAS IZIN ALLAH MERINTIS SEBELAS KEMAS’ULAN

              Untuk rubrik “Hikmah dan Peristiwa” kali ini, Wartawan Majalah Islam  Al Khilafah, Ahmad MS mewawancarai Ust. Yusuf bin Umar Bahsen pada tanggal 12 Jumadil Ula 1437 H (21/02/16), wawancara ini berlangsung via handphone dari Taliwang, Sumbawa Barat ke Flores NTT saat beliau dalam perjalanan tugasnya sebagai Wazir Muwasholatil Ijtima’yyah Daulah Khilafatul Muslimin Indonesia Bagian Timur. Berikut petikan wawancaranya:

Assalamu ‘alaikum Ustad, apa kabar?

            Alhamdulillah, kabar ana baik, sekarang lagi dalam tugas dakwah di Flores, NTT, semoga antum dan staf redaksi lainnya dalam kebaikan dan keberkahan selalu. Aamiin!

Kami dari redaksi bermaksud mewawancarai ustad untuk rubrik di majalah, bisa berta’aruf kepada redaksi dari latar belakang pendidikan dan keluarga ustad?       

            Baiklah, nama saya, Yusuf bin Umar Bahsen, lahir di Bima, NTB tanggal 31 Desember 1970. Ana menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Kota Bima, kemudian melanjutkan ke SMP 2 Bima, namun berhenti menempuh pendidikan formal karena satu dan lain hal ketika mau naik kelas III di SMA Negeri 1 Bima, sebagai sekolah yang dianggap elit dan favorit di Bima. Ana menikah pada pada tahun 1996 dengan Su’ud binti Husein Al Musani, dari pernikahan ini kami dianugerahi 4 orang anak, 3 putra dan 1 putri. Dua orang anak saya, Qurrota A’yun dan Chalisul Amal saat ini masih menempuh pendidikan di PPUI Bekasi.

Apa kegiatan Ustad tatkala lepas dari pendidikan formal?

            Sejak SMP saya sudah aktif sebagai kader di Ormas Persatuan Islam (PERSIS),  bahkan saat SMA tepatnya tahun 1987 saya pernah diutus oleh PERSIS Bima untuk mengikuti sebuah kegiatan di Kantor Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) pusat di Jakarta, saat itu saya dan rombongan sempat bertemu dengan sosok Bapak Muhammad Natsir, sebagai ketua DDII. Saya juga aktif sebagai Remaja Masjid Uswatun Hasanah sebagai Masjid sentral dakwah haroaah di Kota Bima.

Dari berbagai kegiatan tersebut, bagaimana kisahnya hingga Ustad menerima dan bergabung dengan sistem Khilafah?

            Pada tahun 1997, saya berinteraksi dengan dakwah Khilafah lewat Ust. Abdul Hakim (Mantan Amir Ummil Quro Bima yang keluar dari jama’ah, saat ini beliau Amir JAS NTB). Beliau kala itu mendakwahkannya ke rumah saya. Setelah saya renungi, saya menanggapi baik dan atas hidayah Allah saya langsung menerima dakwah beliau dalam sekali pertemuan. Kala itu Ust. Abdul Hakim menjelaskan dengan sangat baik bahwa kaum Muslimin terikat dengan kewajiban bersatu dan larangan berpecah belah, dimana misi yang disampaikannya saya lihat sama dengan misi PERSIS, namun seruannya universal dalam kepemimpinan yang mendunia sesuai sunnah, yakni sistem Kekhalifahan.

Apa aktifitas Ustad setelah di Khilafatul Muslimin?

            Masa awal di Khilafah saya seperti umumnya menjadi warga biasa dan pada tahun 2004-2015 dipercaya ummat menjadi Mas’ul Ummah Asa Kota, Ummul Quro Bima menggantikan Ust. Amer Ubud (Mantan Wazir Maaliyah Daulah Indonesia Timur) yang kala itu terpilih menjadi menjadi Amir Ummul Quro Bima Timur yang juga membawahi Kemas’ulan Flores di NTT. Tahun 2015 saya tidak terpilih lagi menjadi  Masul Ummah Asakota, setelah 11 tahun menjabat amanah tersebut digantikan oleh Ust. Irwan Hasan. Namun setelah tidak menjadi mas’ul sekitar 10 hari kemudian dipanggil oleh Amirud Daulah Indonesia Bagian Timur, Al Ustad Zulkifli Rahman ke Sumbawa, ternyata saya dibai’at tugas jadi Wazir Muwasholatil Ijtima’yyah (Humas) dan hingga kini saya sedang dalam tugas dan fungsi tersebut.

            Sebagai petugas Humas, saya aktif dalam mengkoordinir aktifitas jama’ah secara internal dan syiar Khilafah ke luar struktural, dari masyarakat umum hingga pihak kepolisian. Hingga kini saya masih aktif melakukan pembinaan di lingkup Polresta Bima, baik untuk anggota juga anggota Bhayangkari. Penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bima pun saya datangi bersama tim dakwah untuk melakukan pembinaan rutin, agar mereka tetap punya harapan dan bersemangat untuk kembali bertaubat.

Kami mendengar kabar selama dakwah Ustad sudah banyak membentuk Kemasulan, apa kunci suksesnya Ustad?

            Alhamdulillah semua atas izin Allah, hingga kini sudah terbentuk 11 Kemasulan, termasuk satu Kemasulan di Indramayu Jawa Barat, 2 Kemasulan di Flores, NTT  (Kepulauan Seraya dan satu lagi di Merombok), 4 Kemasulan di Sumbawa (Maronge, Muer, Sumbawa Besar, Lito dan Insya Allah akan terbentuk Kemasulan Lape) dan sisanya 4 Kemasulan di Bima (Sape, Pai, Poja dan Punti).

            Kuncinya, kita dakwah secara terus terang mengajak ummat kepada persatuan yang diikat dengan bai’at (janji setia) kepada Allah di hadapan ulil amri. Saya sering memberi analogi dari pernikahan 2 orang insan berbeda, bisa bersatu  dan terikat tanggung jawab karena adanya ikatan aqad nikah, maka untuk mengikat ummat ini Allah juga tunjukkan caranya, yakni dengan bai’at. Dakwah, sesuai namanya memang harus bersifat mengajak bukan membuat gelisah, apalagi menambah perpecahan dan  perseteruan ummat.

Dari berbagai kegiatan dakwah tersebut, tentu ada yang paling berkesan, bisa dibagi ceritanya Ustad?.

            Pertama, ketika dalam perjalanan ke Flores ini, seorang jurnalis menemui saya bersama Ust. Amer Ubud dan lainnya di kapal, ketika ditawarkan untuk menegakkan sistem khilafah dan sedikit membandingkan dengan sistem lainnya, dia langsung mengatakan “Ustad, ini harus menjadi harga mati buat kita, ketika banyak pihak mengatakan ideologi dan sistem lainnya sebagai harga mati”. Dengan segera pula dia berbai’at di atas kapal, menurutnya dia tidak melihat ada alasan untuk menolak ini.

          Kedua, ada anggota masyarakat yang dianggap punya pemahaman agama yang baik dan sangat disegani di Sape, Bima. Beliau adalah H. Mukhtar (Ketua Umum BKM Masjid Raya, Al Munawaroh, Sape) ketika diajukan ayat-ayat tentang persatuan dan bai’at dengan serta merta menyodorkan tangannya untuk bai’at, bahkan  beliau berbai’at dengan mencucurkan air mata tanda keharuan menemukan kebenaran sistem Khilafah yang rindukannya di usianya yang sudah 70-an tahun.

         Ketiga, saya rasa unik, yakni pengalaman membai’at seorang tokoh yang cukup memperhatikan poin per poin dari isi bai’at, hingga sampai pada poin ke-4, yang berbunyi “Saya siapa sedia berkorban apa saja dst.. …….,” tiba-tiba dia menarik kembali tangannya seraya mengatakan, “wah, ini saya rasa berat, saya tidak berani menerimanya,” diapun gagal berjama’ah.

          Keempat, Saat mendakwahi seorang Tuan Guru (tokoh agama) di Sumbawa yang kecanduan merokok, sebelumnya beliau mengatakan belum ada alasan sedikitpun untuk berhenti merokok, namun beliau sangat rajin bertanya tentang Khilafah, nama Khalifah dan kantor pusat, hingga beliau bersedia berbai’at. Setelah bai’at beliau berbalik menyatakan, “Minta do’anya Ustad mulai saat ini, saya berhenti merokok”. Itulah beberapa pengalaman sekedar berbagi.

Apa problematika dakwah menurut Ustad dan apa nasihat Ustad bagi warga dan para da’i Khilafah?

            Kita menemukan karakter ummat yang berbeda-beda, pemahaman yang berbeda-beda. Ini yang butuh perhatian khusus sehingga kita bisa masuk ke dalam hati mereka secara tepat. Hal ini membuat tidak sedikit da’i kehilangan kesabaran. Termasuk dengan keterbatasan sarana dan prasarana, seperti kendaraan dan alat bantu dakwah lainnya. Selain itu, cuaca buruk di perjalanan dan medan yang sulit seperti di Flores ini, saya sendiri pernah mengalami sepeda motor macet di perjalanan saat di tengah hutan, sampai datang mobil tumpangan.

            Saya nasihatkan kepada diri saya sendiri, keluarga saya dan saudara-saudara saya dalam dakwah ini, agar tetap berdakwah bil hikmah dan saat menghadapi kontroversi dan provokasi agar tetap memberi pelajaran yang baik, mengajak ummat untuk beribadah kepada Allah untuk melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Kepada istri saya, agar tetap mendukung dan ridha dengan konsekwensi dakwah ini, seperti kekurangan dan seringnya saya meninggalkan rumah. Alhamdulillah, saya saksikan istri saya sudah terbiasa dan cukup sigap dalam mendukung dakwah, bahkan lekas membekali suami dengan pakaian hingga obat-obatan, karena diketahuinya saya punya penyakit tertentu, Semoga Allah I merahmatinya dan kita semua, Aamiin.

Baik Ustad, Jazakumullah khair atas waktu dan kesediaan berbagi pengalamannya, semoga dapat sama-sama kita jadikan ibrah dan bermanfaat dalam perjuangan dalam Khilafatul Muslimin, aamiin.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts