USTAD MUSTOFA BIN MUHAMMAD HUSAIN, DARI ANIMISME, NASRANI KINI MENJADI MENJADI MUJAHID PENEGAK KHILAFAH, INSYA ALLAH

                Dilahirkan dari keluarga penganut Animisme pada tahun 1967disebuah daerah yang kala itu masuk sebagai Provinsi ke-27 Republik Indonesia (sekarang negara Timor Leste), diberi nama Mauranik. Saat menempuh pendidikan di PREPERMARIO, pendidikan formal setingkat TK dia “di-Kristenkan” dan diganti namanya menjadi Jo’an Dacosta.

            Namun, pada usianya 11 tahun (1978) dia menjadi Muslim di Dili dengan nama baru, Musthofa bersama dengan orangtuanya yang juga berganti nama menjadi Muhammad Husain. Kita simak kisah Ust. Musthofa bin Muhammad Husain dari menjadi Muslim hingga bergabung dengan Khilafatul Muslimin dan kini menjadi mas’ul ummah Lenang Belo, semoga dapat diambil ibrah bagi sahabat pembaca dalam Iqomatddien.

            Redaksi Majalah Islam Al Khilafah menugaskan Wartawannya di Sumbawa, Ahmad MS untuk mewawancarainya pada Ahad, 16 Rajab 1437 H (24 April 2016) di sela-sela kegiatan Taklim Bulanan Khilafatul Muslimin Wilayah Sumbawa , Masjid Nurul Iman, Bukit Tinggi, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, NTB. Berikut petikan wawancara dengan Mas’ul Ummah Lenang Belo, Plampang ini :

Assalamualaikum ustad Musthofa, apa khabar?

Waalaikumussalam, khabar ana baik alhamdulillah, semoga redaksi juga dalam keadaan demikian.

Bisa berta’aruf kepada redaksi dan sudi kiranya dapat menceritakan kisah bagaimana masa kecil dan masa mudanya Ustad?

            Kami dulunya keluarga penganut Animisme, saya lahir pada tahun 1967, tinggal disebuah daerah yang kala itu masuk sebagai Provinsi ke-27 Republik Indonesia (sekarang negara Timor Leste), nama kecil saya yang diberikan orang tua, Mauranik. Ketika masuk di sekolah Kristen di PREPERMARIO (pendidikan formal setingkat TK) diganti nama menjadi Jo’an Dacosta (di “kristenkan”). Kemudian lanjut sekolah di SD Porto tetapi hanya sampai tingkat III (karena pecah perang Timor). Saat itu saya dan keluarga tinggal dibelakang komplek rumah dinas Gubernur Abilio Osoario Soares, karenanya kami bisa tumbuh sebagai pemuda kota dengan pemikiran yang sedikit maju dibandingkan dengan rata-rata pemuda lain di daerah kami.

            Pada usianya 11 tahun (1978) atas Rahmat Allah I kami sekeluarga memilih masuk Islam sehingga nama ana diganti menjadi Musthofa dan bapak ana menjadi Muhammad Husain, sehingga ana sekarang sering dikenal Musthofa bin Muhammad Husein. Saat itu aparat Kristen tidak rela kami menjadi Muslim yang maju dan berkembang karena dikhawatirkan akan memegang peranan penting di Timor Timur.

Pada tahun 1985 hingga 1991 ana bersekolah di Pondok Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Maros Sulawesi Selatan. Disanalah ana kenal dengan Ust. Hasbi Nur, beliau sebagai tenaga pengajar di Ponpes tersebut.

            Di Darul Istiqomah pula saya kenal dengan istri saya Nurlailah yang saya nikahi pada tahun 1994 di kota Dili, dari pernikahan ini kami dikaruniai 9 orang anak dari 15 kelahiran, 6 orang anak saya meninggal saat masih kecil.

Setelah antum menjadi Muslim bagaimana kisahnya kemudian antum kembali ke Timor Timur yang kala itu masih suasana perang ustad?

            Ketika pecah perang Timor Timur dengan Indonesia ana ada di sana, dengan niat menegakkan harga diri ummat Islam dan Bangsa kala itu, ana bergabung ambil bagian dalam kancah peperangan dan segera bergabung dengan milisi Pro Integrasi (mendukung Timor Timur masuk ke Indonesia), dibawah salah satu pemimpinnya, Eurico Gueteres. Dan ana menjadi salah satu Komandan Pleton (Danton) nya.

            Saat itu Pro Integrasi di identikan dengan Pro Islam, walaupun pemimpinnya sendiri Eurico Gueteres adalah seorang Nasrani. Dapat dibuktikan ketika kami yang Pro Integrasi ketika di usir oleh mereka yang Pro Kemerdekaan (Timor Timur merdeka) dengan sebutan Islam Supermi, mau Islam demi Supermi. Selain itu yang menjadi bukti kuat adalah dibakarnya kantor-kantor organisasi Islam, masjid-masjid dan sekolah-sekolah Islam, anak-anak kami yang sekolah diusir dan dipukuli. Kami dianggap sebagai pihak yang tidak setia pada tanah air Timor. Namun sudah menjadi ketentuan Allah I, betapapun besar harapan dan usaha untuk mempertahankan Timor Timur saat itu, tetap saja lepas dari Indonesia, kami terusir.

Bagaimana kemudian nasib para Pro Integrasi usai peperangan ketika itu ustad, setelah mereka yang Pro Kemerdekaan berusaha mengusir?

            Ketika peperangan usai dan tiba jajak pendapat, kemudian pro kemerdekaan Timor Leste “dimenangkan”, masuklah UNTAET (United Nation Transitional Administration in East Timor, yakni lembaga Administrasi Sementara PBB di Timor Timur sebagai pemerintahan sipil yang bertujuan untuk memelihara misi perdamaian yang diperkuat oleh pasukan yang dipimpin oleh Australia, didukung oleh Selandia Baru dan Perancis, Argentina, Brasil, Denmark, Fiji, Republik Irlandia, Jepang, Malaysia, Rusia, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Filipina, Portugal, Swedia, Amerika Serikat dan Britania Raya, red).

            Saat UNTAET masuk saya masih dua hari di Timor sebelum kami melakukan eksodus menuju Indonesia. Dengan bekal sepucuk senjata laras panjang dan 5 butir granat tangan, saya ikut mengawal sebanyak 16.000 pengungsi pada tahun 1999. Kendatipun merasa terusir saya sendiri tidak merasa kecewa bahkan saya merasa cukup puas dengan aksi-aksi kala itu karena merasa terbalaskan kedzaliman atas diri kami. Saya masuk ke Kupang, NTT diteruskan ke Mataram, NTB kemudian atas sebuah program pemerintah kami diarahkan ke Sumbawa, tepatnya di Plampang, kami tiggal di Plampang saat itu sebagai pengungsi.

Bagaimana ustad kemudian bisa mengenal Islam dengan sistem Kekhalifahan (Khilafatul Muslimin) ?

            Setelah di Plampang saya tidak diam dan berusaha mencukupi kebutuhan keluarga dan menjalin silaturrahim dengan masyarakat setempat termasuk para tokohnya. Saat itu saya kenal juga dengan Ust. Abdul Majid (almarhum), Mas’ul Ummah Khilafatul Muslimin pertama di Plampang. Selain kenal, saya juga diajak oleh Ust. Abdul Majid untuk ikuti kajian rutin di Khilafatul Muslimin bahkan hingga ke Taliwang yang jaraknya ratusan kilometer. Yang saya pahami dari kajian-kajian tersebut bahwa ternyata Islam juga mengajarkan sistem kepemimpinnya tersendiri, yakni sistem Khilafah dengan konsep perjuangan yang tanpa kekerasan dalam rangka menebar rahmat bagi seluruh alam.

            Setelah faham ana mengikrarkan bai’at menyatakan bergabung dengan shaf Khilafatul Muslimin pada tahun 2003 bersama sejumlah keluarga besar ana. Setahun kemudian (2004), karena tertarik untuk menimba ilmu dan tanggung jawab ma’isah, saya juga sempat tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat agar dekat dengan Ust. Zulkifli Rahman (sekarang Amirud Daulah Indonesia Bagian Timur). Di Taliwang saya dan keluarga besar saya, ditempatkan dikebun milik warga Khilafatul Muslimin untuk tinggal dan bercocok tanam, selain itu tentu saja saya mulai bersilaturrahim dan berdakwah, mengajak ummat ke dalam sistem Khilafah.

            Pada tahun 2010 saya dan keluarga kembali lagi ke Plampang untuk berdakwah dan mengelola lahan transmigrasi, setelah status kami ditingkatkan sebagai transmigran resmi. Hingga kini kami sudah membentuk Kemasulan sendiri yang pisah dari Plampang, dengan nama Kemasulan Lenang Belo yang isinya dominan para transmigran, mantan eksodusan dari Timor Leste bahkan kebanyakan keluarga besar saya sendiri sebanyak 14 KK.

 Sebagaian keluarga yang ikut bersama antum apakah mereka sudah menjadi muslim semua ustad?

            Mereka tidak semuanya Muslim, terutama anak-anak dan remajanya, sebagiannya ada yang saya bawa masih dalam keyakinan lama Kristen, Kemudian mereka menjadi Muslim setelah di Indonesia, mereka kemudian kami titipkan untuk bersekolah pada beberapa pondok pesantren di Indonesia dan banyaknya di Pulau Jawa. Alhamdulillah.

Apa harapan Ustad ke depannya?

            Sejak dulu saya sangat besar keinginan untuk sesekali kembali ke Timor guna mendakwahkan Islam dan sistem Kekhalifahan Islam ini, juga ada keinginan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Arif Abdullah Sagran sebagai pimpinan CENCISTIL (Centro da Comunidade Islamica de Timor Leste yang didirikan pada 10 Desember 2000, sebelum masa UNTAET, red) semacam Islamic Centre-lah.

Apa nasihat Ustad kepada kaum Muslimin, warga Khilafah dan para da’inya?

            Harapan saya kepada seluruh kaum Muslimin, mari kita bergabung dengan Khilafatul Muslimin sebagai pengemban sistem Khilafah, karena sebagai sistem Islam kekhalifahanlah wadah persatuan dan tempat bagi penjagaan iman yang baik untuk meraih ridha Allah SWT, hingga ke Surga-Nya. Dan kepada para da’i mari kita kuatkan terus tekad kita untuk berdakwah menyebarkan misi kekhalifahan, tekad kuat itulah yang bisa membawa kepada kerja keras dan hasil yang maksimal, insya Allah.

Baik ustad, Jazakumullah Khair atas waktu yang telah bersedia mengisahkan perjuangan dan meyakinkan kepada kita semua akan pentingnya Sistem Kekhalifahan. Semoga menjadi ibrah bagi kita semua kaum muslimin sehingga segera mengambil sikap untk ambil bagian dalam perjuangan ini. Allahu Akbar!

Facebook Comments
Tags:

Related Posts