USTAD AKMAL FITRI, SIAP DIKUCILKAN DEMI IQOMATUDDIEN DIDALAM JAMAATUL HAQ KHILAFATUL MUSLIMIN

            Berbagai harakah Islam dalam rangka mencari kebenaran di ikutinya. Mulai dari NII KW 9, FPI hingga Muhammadiyyah. Mendapat maklumat Kekhalifahan justru ketika sedang gencar membela pembongkaran mesjid-mesjid oleh pemerintah, ketika itu masih sebagai kepala ranting ormas Muhammadiyyah, namun belum terlalu memperhatikan.

            Pertemuannya dengan pak Bustamam (warga Khilafah) dan diberikan majalah al khilafah dua edisi membuatnya semakin penasaran dan sangat berkeinginan untuk lebih tau tentang Khilafatul Muslimin dari majalah tersebut, namun sempat hilang kontak akhirnya menghubungi no kontak yang ada di majalah dan kembali disambungkan dengan warga Khilafatul Muslimin di Medan. Bagaimana kisah ustad yang dikenal didaerahnya sebagai mubaligh aktif hingga berlabuh di Khilafatul Muslimin dalam Iqomatuddiennya, berikut kita simak wawancara singkat Ramadhani Nst., star redaksi yang ditugaskan, dengan beliau secara langsung di kediamannya di Helvetia Medan pada Ramadhan 1437 H :

Assalamu’alaikum Wr Wb, bagai mana khabarnya ustad dan keluarga?

            Wa’alaikumusalam Wr Wb, Alhamdulillah,berkat do’a antum dan ikhwan-ikhwan semuanya saat ini  saya dan keluarga dalam keadaan sehat wal’afiat.

            Kami dari redaksi majalah al khilafah, sebelumnya bisa berta’aruf dulu mulai dari data pribadi,  keluarga dan pendidikan ustad !

            Saya lahir di Sumatera Barat, 62 tahun yang silam, tepatnya pada tanggal 13 Agustus 1954. Di beri nama oleh orang tua Akmal Fitri, memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Satu anak saya telah meninggal dunia dan yang lainnya telah berumah tangga. Saat ini saya memiliki dua orang cucu. Saya sendiri terlahir empat bersaudara.

            Untuk pendidikan dikarenakan keadaan yang tidak memungkinkan, maka sekolah saya putus ditengah jalan yaitu hanya sampai tingkat SMP saja. Saat itu saya sudah menjadi tulang punggung keluarga. Saya pergi merantau ke Medan untuk mencari “peruntungan” (istilah bahasa Padang nya), di suatu tempat yang namanya Sambu, tempat yang terkenal dengan lingkungan yang sangat keras dan angker pada zaman itu. Disana saya hidup selama 18 tahun, dan di sana jugalah saya bisa dikatakan mendapatkan hidayah, dipertemukan oleh Allah Subahanahu wata’ala dengan jama’atul haq yaitu Khilafatul Muslimin.

            Pernah aktif di organisasi atau harakah islam apa saja ustad sebelum akhirnya memilih bergabung dengan khilafatul muslimin?

            Kisahnya panjang, karena untuk mencari kebenaran itu pasti tidak akan langsung berjumpa, melainkan pasti butuh peroses dan pasti kita akan menjumpai yang bathil terlebih dahulu, yang kita sangka itu Haq ternyata adalah bathil dan semula pemahaman saya itu seperti orang kebanyakan. Pada tahun 1979 saya mulai mengenal pengajian yang menamakan pengajiannya Qur’an Sunnah, dari sana saya terus mengaji. Sekitar tahun 1994 saya mengenal harakah yang bernama NII KW 9 dan saya menyatakan bergabung. Setelah saya lihat disana terjadi kekacauan maka saya pun memutuskan untuk tidak lagi aktif disana. Tidak lama ketika terjadinya kekacauan di tubuh NII pada saat itu (sempat juga di FPI), saya pun memutuskan untuk  bergabung dengan organisasi Muhammadiyyah pada tahun 1997 sampai saat saya bertemunya dengan Khilafatul Muslimin ini.

            Bertemunya saya dengan Khilafatul muslimin ini adalah ketika Muham madiyyah sedang mengadakan pembelaan terhadap pembongkaran masjid-masjid demi kepentingan pengembang real estate dengan alasan kepentingan pemerintahan. Pada saat itu ada warga Khilafatul Muslimin datang dan membagi-bagikan maklumat terbentuknya kembali Kekhalifahan Islam. Dan ana diberikan maklumat tersebut namun masih belum terlalu memper hatikannya. Setahun kemudian ana ketemu lagi dengan salah satu warga Khilafatul Muslimin tepatnya pak Bustamam, beliau memberikan dua majalah al khilafah kepada saya.

            Dengan membaca majalah al khilafah pemikiran saya terbuka, saya tertarik dengan keilmuan yang disajikan oleh majalah al khilafah mengenai banyak hal dan ada perbedaan dengan majalah-majalah Islam lainnya. Namun sempat bertanya kok terbuka sekali, biasanya hal ini (iqomatuddien) dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ana bandingkan dengan harakah yang ana menetapinya saat itu, ana merasa kok ini agak lebih sempurna, lebih mendekati metode perjuangan Rasulullah dan sahabat. Kemudian ana penasaran lagi ingin mengetahui perkembangan dari majalah al khilafah ini, namun saya kehilangan kontak dengan warga Khilafah.

            Saya mulai mencari-cari warga Khilafah dengan ciri-ciri yang khas, bermaksud ingin mendapatkan majalah al khilafah agar mengetahui perkembangan Iqomatuddien yang di informasikan oleh majalah tersebut.

            Akhirnya saya putuskan pergi ke mesjid di Martubung dan berharap bertemu dengan warga Khilafah disana, tetapi saya salah mesjid dan tidak bertemu dengan warga Khilafah ketika itu. Akhirnya ana putuskan untuk menghubungi kontak yang ada di majalah al khilafah dan terhubung dengan bapak Sutanto. Saya katakan kepada pak Sutanto, “saya dari Medan saya ingin mendapatkan majalah al khilafah namun kehilangan kontak dengan warga khilafah di Medan jadi saya menghubungi nomer kontak yang tercantum di majalah ini”. Kemudian ana diberikan nomer kontak pak Bustamam warga Khilafatul Muslimin Medan dan kami berdialog dan berbincang-bincang tentang perkara Iqomatuddien. Jumadits Tsani 1437 H ana memutuskan bergabung dengan Khilafatul Muslimin dan mengikrarkan bai’at. Dan saat ini ana diamanahkan sebagai Qismut Tarbiyyah wa Taklim Ummulquro Medan Utara pimpinan Ust. Zaid Abu Usamah dibawah wilayah Aceh – Sumut.

            Poin apa yang membuat ustad yakin untuk berjuang menegakkan Dien (Iqomatuddien) didalam Kekhalifahan Islam milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ini ustad?

            Jadi kalau di harakah-harakah lain yang sudah pernah saya ikuti, saya belum melihat keta’atan kepada Ulil Amri sebagai pengamalan dari Qur’an surat An Nisa’ ayat 59. Ulil amri yang dimaksud adalah Khalifah /Amirul Mukminin sebagaimana praktek para sahabat sepeninggal Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sebagai pemimpin ummat Islam ketika itu.

            Berdasarkan dalil yang syar’i bahwa ummat Islam ini hanya dipimpin oleh dua metode, yang pertama kenabian dimana Nabi sebagai pemimpinnya dan ini dibatasi hanya sampai Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sebagai “khotaman nabiyun” (penutup para nabi). Setelahnya dengan metode Kekhalifahan dan Khalifah /Amirul Mukminin sebagai pemimpinnya hingga yaumil akhir. Maka fakta sejarah mempraktekan Khalifah Abu Bakar As Shidiq y adalah Khalifah /Amirul Mukminin pertama menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam hingga hari kiamat seharusnya.

            Sedangkan di harakah yang pernah saya ikuti, ketaatan itu hanya kepada dua unsur yaitu ta’at kepada Allah Subahanahu wata’ala dan Rasul-Nya saja dan ini tidak cocok dengan QS. An Nisa’ ayat 59. Inilah yang membuat saya menjadi yakin dan menyatakan bergabung dengan Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin).

            Bagaimana reaksi teman-teman ustad ketika mengetahui ustad telah berada di Khilafatul Muslimin ini ?

            Waktu saya di organisasi Muhammadiyyah saya sebagai Ketua Ranting di Medan Helvetia dan saya selalu aktif sebagai pembina dan Khatib pada tiap-tiap Jum’at di beberapa mesjid Taqwa Muhammadiyyah dan tidak pernah kosong dari jadwal. Dan banyak binaaan saya dan sahabat-sahabat di Muhammadiyyah. Tetapi selama saya bergabung di Khilafatul Muslimin ini jarang bertemu dengan sahabat-sahabat lama waktu di Muhammadiyyah. Bahkan jadwal saya sebagai Khatib semakin dikurangi tidak seperti biasanya. Karena setiap kali menjadi Khatib yang saya sampaikan adalah visi dan misi Khilafatul Muslimin menyeru kepada ummat agar bersatu didalam bingkai Kekhalifahan. Namun semua itu tidak menyurutkan saya dalam Iqomatuddien dalam jama’atul haq Khilafatul Muslimin ini, Isnya Allah.

            Apa harapan Ustad kepada warga khilafatul muslimin khususnya dan ummat Islam secara umum terhadap Kekhalifahan ini?

            Khususnya kepada warga Khilafatul Muslimin, jangan pernah bergeser lagi telapak kaki kita walaupun setapak dalam memperjuangkan sistem Islam yang haq ini, walau apapun resikonya nanti yang akan kita hadapi kedepan, karena sudah menjadi ketetapan Allah Subahanahu wata’ala bahwa, tiap-tiap memperjuangkan kebenaran itu pastilah akan menemui ujian dan cobaan, baik berupa cemohan, hinaan bahkan sampai pada tingkat ancaman keselamatan jiwa kita,maka tetaplah istiqamah, dan mengalir seperti air saja.

            Sedangkan harapannya bagi seluruh kaum muslimin yang masih belum bergabung dengan Khilafatul Muslimin, agar cepat-cepatlah mengambil sikap untuk  bergabung dengan Kekhalifahan ini, jangan terlalu cepat untuk  menolaknya, karena boleh jadi apa yang kamu tolak itu adalah kebenaran yang memang datangnya dari Allah Subahanahu wata’ala sehingga nantinya kamu akan mendapatkan penyesalan yang luar biasa, hilangkanlah kesombongan dalam hati kita, karena didalam tubuh setiap manusia itu ada sekerat daging dan dia lebih mengetahui mana itu kebenaran dan mana kebathilan, mudah-mudahan dengan kita menundukan hati, maka jalan hidayah itu insya Allah akan terbuka, aamiin.

            Baik Ustad, Jazakumulla khairan katsiran atas waktunya, semoga apa yang ustad sampaikan dapat kita ambil ibrah, hikmah dan manfaatnya untuk kejayaan dan kemuliaan Islam,aamiin.

 

Facebook Comments
Tags:

Related Posts