Ust. Mukhtar Hadiyono, Profil Da’i Tangguh Dari Flores – NTT

Mendengar nama Flores, Nusa Tenggara Timur seringkali yang tergambar dalam benak masyarakat terutama mereka yang tidak pernah ke Flores tentunya, bahwa Flores itu identik dengan Kristen atau Non Muslim. Namun apakah benar demikian?, ternyata tidak!. Perbandingan jumlah umat Kristen/ Protestan dengan Ummat Islam adalah sekitar 60%:40%, setidaknya itulah menurut informasi dari Ust. Mukhtar Hadiyono, 45 tahun (Amir Khilafatul Muslimin, Wilayah Flores – NTT). Jadi bedanya tidak begitu tajam. Hal ini dibuktikan juga dengan banyaknya organisasi dan harokah Islam yang eksis dengan jumlah pengikut yang juga signifikan, seperti Muhammadiyyah, Nahdhatul Ulama (NU), Jama’ah Tabligh, Partai-partai Islam dan Partai berbasis massa Islam lainnya, termasuk kelompok-kelompok Tharikat. Ditengah kondisi demografis, komposisi masyarakat yang heterogen dan umat Islam yang terbagi-bagi seperti itulah Ust.Mukhtar Hadiyono bergelut dengan dakwahnya membawa pesan persatuan demi Izzah Islam dan kaum Muslimin.

Dakwah Islamiyah memang bukan hal baru bagi Ust. Mukhtar Hadiyono, hal itu telah dilakoninya sejak duduk di bangku SLTA sampai Perguruan tinggi. Dan lebih rutin lagi sejak tamat dari “Madrasah Nabi Yusuf”, sebutan beliau untuk tahanan/ Penjara Pemerintah Republik Indonesia selama lebih kurang 4 tahun (1988-1992) akibat tuduhan mengada-ada rezim Soeharto waktu itu, Ust. Mukhtar –panggilan akrabnya- didakwa melanggar undang-undang subversive, melawan pemerintahan yang sah. Saat itu sebenarnya ia lagi menikmati masa-masa indah, kuliah semester V di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muhammadiyah, Bima NTB (1987/1988). Namun seperti yang dinyatakannya kepada media Al Khilafah, kejadian tersebut tidak pernah ia sesali, bahkan ia syukuri, setelah bebas dari sanalah dia merasa seolah diwisuda sebagai “Sarjana Agama Islam” sebenarnya.

Mendengar masa lalunya yang demikian, banyak orang tidak percaya bila bertemu langsung dengan pribadi sederhana kelahiran Muntung, Flores 29 Juli 1964 tersebut.  Kesan pertamanya; murah senyum, suka menegur dan cepat akrab. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh Ummat Islam tapi juga orang-orang Kristen dan Protestan bila berjumpa dengannya, bahkan bila dia memasuki suatu daerah binaanya, orang-orang Kristen-pun menyambut hangat seolah-olah telah lama menunggu kehadirannya. Hal ini kiranya dapat dipahami, karena Ust. Mukhtar dalam dakwahnya tidak pernah menyinggung perasaan siapapun yang berbeda dengannya, bahkan dengan prinsip dakwah yang seperti itu pula pemerintahan setempat yang notabene Kristen sering meminta Ust. Mukhtar untuk bersamanya melakukan kunjungan ke berbagai daerah, khusus daerah yang merupakan kantong Muslim seperti saat bulan suci Ramadhan sekaligus diminta untuk ceramah di hadapan warga yang beragam latar belakang, bila ceramahnya pendek-pun masyarakat seringkali memintanya untuk menambah dilain kali karena menurutnya sangat dibutuhkan bagi warga untuk perbaikan cara pandang dan “sikap hidup”.

Dengan posisi seperti itu, sebaimana lazimnya banyak Ormas dan Partai Politik yang memintannya untuk mengurus bahkan memimpin Parpol dan Ormas mereka, namun banyak ditolaknya dengan halus.

Ust. Mukhtar memang telah dikenal luas di Kabupaten Manggarai Barat dengan aktifitas dakwah dan sosialnya, beberapa orang masyarakat asal Flores, baik Muslim maupun Non Muslim yang ditanyai media Al Khilafah di beberapa tempat di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku kenal dengan Ust. Mukhtar. Namun tentunya hal itu bukan hasil barter dengan mengendorkan prinsip-prinsip Islam yang dianutnya. Bagi Ust. Mukhtar, Islam adalah Islam, dengan nilainya sendiri yang tidak boleh dicampur adukkan dengan ajaran apapun, agama apapun dan di manapun kita berada. Bahkan sikap keislaman tersebutlah yang sempat membuat “cemburu” rezim Soeharto di masa lalu.

Menurut pengakuan suami dari St. Sarinah, S.Ag. dan Bapak dari 4 orang anak yang sedang menunggu kelahiran anak yang kelima ini, bahwa ia  menawarkan bentuk kebersamaan dalam keberagaman masyarakatnya sebagaimana yang dipraktekan oleh Rasulullah di Madinah pada masa lalu dan Khilafatul Muslimin yang telah diperjuangkannya sejak dimaklumatkannya jama’ah ini, bagi Ust. Mukhtar menurutnya pula adalah suatu bentuk ideal untuk mempersatukan ummat baik atas tinjauan syariat maupun dalam tataran realitas kekinian, lebih istimewa lagi baginya karena Khilafatul Muslimin adalah sistim yang diajarkan oleh Allah dan RasulNya serta telah dicontohkan pula oleh Rasulullah dan para sahabat serta generasi setelahnya, di mana di dalamnya hidup bersama masyarakat dengan beragam latar belakang agama, Ras, suku bangsa, dan lain sebagainya.

Menilai medan dakwahnya, Flores, Ust. Mukhtar melihat kekhasan tersendiri jika dibanding dengan daerah lain di Indonesia. Selain masyarakat yang heterogen, kondisi alamnya yang berbukit dan bergunung-gunung, masyarakatnyapun masih jauh dari sentimen agama, mereka masih secara polos memandang perbedaan bahkan mereka yang Non Muslim masih senang mendengar nasehat dari para Da’I Islam, bahkan tidak sedikit diantaranya yang masuk Islam. Kendatipun demikian Ust. Mukhtar tidak menepis dan menyayangkan terjadinya kemerosotan moral dari kaum Muslimin sendiri, sehingga sulit untuk menjadi contoh dalam dakwah.

Di tengah keterbatasan dana dan fasilitas dakwah, kini usaha dakwah Ust. Mukhtar Hadiyono telah mulai menampakkan hasilnya. Di bawah Khilafatul Muslimin Wilayah Flores telah terbentuk 3 Ummul Quro (UQ), yaitu UQ Komodo, UQ. Sanonggoang Utara dan Sanonggoang Timur, dibawah 3 UQ tersebut saat ini juga terbentuk 23 Kemas’ulan yang dimulai dari beberapa Kemas’ulan pelopor yaitu; Merombok (sejak 1426 H), Ndewel (1426 H), Handel (1428 H), Rengkas (1428 H), Nggorang (1429 H), Bambor (1429 H), Muntung (1429) dan terakhir Mas’uliyat Watulendo (1429 H). Kemas’ulan Rengkas dalam hal ini teristimewa, karena hampir seluruh masyarakatnya yang Islam diantara mayoritas Kristen telah menjadi warga Khilafatul Muslimin.

Dalam dakwah Ust. Mukhtar Hadiyono punya kiat-kiat khusus yaitu selalu berpikiran positif dalam memandang keadaan disekitarnya, sebagaimana dikatakannya “Insya’ Allah segala keterbatasan ini bisa memunculkan keunggulan bagi kami, unggul dalam kreatifitas dan kesungguhan” urainya. Kendatipun demikian ia selalu berharap adanya bantuan da’I dari Bima atau Makassar sebagai perwakilan terdekat untuk membantu pembinaan di Flores karena memang, tenaga da’I masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan luas wilayah binaan yang harus ia hadapi bersama da’I Khilafah lain di Flores. Apalagi ditambah lagi dengan aktifitas tambahannya kini yang sedang merintis pondok pesantren untuk anak-anak kaum Muslimin di Flores, kebutuhan akan Asatidz/asatidzah sangat urgen untuk meberi bobot kepada warga yang sudah ada dan pembinaan generasi pelanjut. [AhmadMS]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts