UST. AHMAD MS, BERGABUNGNYA DENGAN KHILAFATUL MUSLIMIN JUSTRU KARENA MENDENGAR ISU MIRING

Di awali mendengar isu miring yang santer di daerahnya tentang al jamaah /Khilafatul Muslimin membuat ustad yang menjadi penulis tetap di majalah al khilafah ini ingin mengetahui lebih jauh tentang jama’ah.

“Setelah mendapat kajian makna Syahadatain pada Tahdzib pertama hati sayapun “mulai terjerumus”. Demikianlah pernyataan nya kepada redaksi yang senantiasa teringat awal-awal mengenal al jamaah /Khilafatul Muslimin.

Untuk mengetahui lebih rinci tentang Ust. Ahmad MS hingga proses bergabung nya dengan Khilafatul Muslimin dan bagaimana kisah perjuangannya dalam Kekhalifahan ini, mari kita simak wawancara singkat redaksi majalah al khilafah dengan beliau, semoga ada ibroh yang dapat kita ambil.

Assalamu ‘alaikum Ustadz, apa kabar?

Alhamdulillah, kabar saya baik, demikian juga dengan keluarga dan warga di Sumbawa Barat, semoga antum dan staf Majalah Islam Al Khilafah lainnya dalam kebaikan dan keberkahan selalu. Aamiin!

Langsung saja ustad, kami dari redaksi Majalah al khilafah, mohon dapat memperkenalkan kepada redaksi dari riwayat keluarga dan pendidikan, ustad !

Nama saya, Ahmad MS, lahir di Bima, 14 Rajab 1399 H (13 Juni 1979 M), dari Bapak Muhammad Saleh dan Ibu Na’imah. Secara formal sekolah di SDN Inpres Sanolo, tamat 1991, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Bolo (sekarang SMP N 2 Bolo) Tamat 1994, SLTA nya di STM Negeri Bima (SMK Negeri 2 Bima) jurusan Tekhnik Bangunan, namun Program Sistem Gandanya di Proyek Peningkatan Jalan dan Jembatan Sumbawa Timur, tamat 1997. Setelah pindah ke Sumbawa Barat sempat kuliah di Universitas Cordova (Undova) Jurusan IT hingga semester III dan harus putus karena kesibukan lain yang tak dapat dihindari. Saya menikah pada 29 Desember 2001 dengan Virda Amir (Bugis-Makassar), alhamdulillah dikaruniai 6 putra-putri. Muhammad Al Fatih Farhat, Muhammad Hanif Robbani, Qoni’ah Lu’lu Qurrota A’yun (ketiganya di PPUI Sumbawa Barat) kemudian Muhammad Muflih Kamil di TK Ali Bin Abi Thalib, Faridah Na’imah Az Zahro dan Muhammad Zaidan Akhtar masih balita.

Apa kegiatan Ustad selain pendidikan formal?

Atas izin Allah, saya sering ikut nimbrung sejak kecil di halaqoh kakek, H. Abidin Ajrun, seorang khathib kampung yang membacakan beberapa kitab sesuai permintaan tamunya, saya ingat beberapa judul diantaranya, Miftahul Jannah dan Qaishul Ghaibiyyah. Dalam masyarakat suku Bima napas kehidupan Islam masih bertahan saat saya remaja, dari orang tua kami diajarkan sedini mungkin tentang batasan pergaulan dan ditekankan akan bahaya dan hukuman bagi pelaku zina baru bisa diampuni dosanya. Walaupun lingkungan pendidikan yang dicitrakan keras karena “serba laki” di STM saya berinisiatif mengikuti berbagai kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) dan berbagai dauroh. Dari situ saya kenal dengan aktifis Islam di Kota Bima, dulu ada seorang yang juga bernama Ahmad sering datang ke kamar kost untuk berdiskusi tentang aqidah dan perjuangan. Bersama sepupu saya, Sdr. Darwis Yusra, yang aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslimn Indonesia (KAMMI) sering diajak mengunjungi para pejuang Islam di Bima bahkan para mantan Tapol dan Napol. Saya ingat pernah berkunjung ke rumah Ust. Zainal Arifin (sekarang Wazir Daulah Khilafatul Muslimin Indonesia Timur) saat masih kelas III STM, keluar dari rumah beliau menjadi perhatian masyarakat karena datang ke rumah mantan Tapol yang masih dalam pengawasan. Saya juga punya teman sekolah yang orang tuanya juga mantan Tapol, sudah kayak orang tua bagi saya. Mereka banyak menanamkan prinsip lewat ilmu dan sejarah perjuangan. Selain itu sekitar 3 bulan juga pernah khuruj bersama jamaah tabligh.

Dari berbagai kegiatan tersebut, bagaimana history-nya hingga Ustadz sampai kepada sistem Khilafah?

Saya mulai kenal Partai Keadilan (PK) sejak dideklarasikan. Oleh sepupu yang dari KAMMI diperkenalkan dengan para tokohnya, dulu sudah kenal Dr. Luthfi Hasan Ishaq (LHI) saat menjemput beliau di Bandara Sultan Salahuddin Bima sebelum menjadi Presiden PKS. Saat Pemilu 1999 saya sempat ikut kampanye dan menjadi Sekretaris TPS mewakili PK, kami juga membina Kelompok Studi Islam (KSI) untuk remaja dan anak-anak, setelah lepas dari jenjang STM dan kembali ke kampung.

Di kampung saya mendengar isu adanya “aliran sesat” bahkan disebut “agama baru” dengan ciri kesesatan yang saya dengar seperti, para lelakinya tidak mau bersalaman dengan wanita bahkan orang tua mereka, syahadatnya beda, Nabinya beda, dan lain sebagainya. Saya diingatkan agar tidak mendekati mereka, namun karena mereka adalah masih keluarga dekat dari jalur ibu, dengan segenap rasa penasaran saya mencoba menghadiri kajiannya, saya mendapatkan materi pertama sebelum bai’at, “Makna syahadatain” dari pematerinya Ust. Zainal Arifin. Saat itu rasanya hati saya sudah mulai “terjerumus” lah.

Dalam rangka menjelaskan berbagai isu di masyarakat, kami sempat mengadakan kegiatan, Dialog terbuka antara Ust. Ali Ghani Al Wahyubi dari jama’ah dengan Kepala KUA Kecamatan. Dari paparan Ust. Ali Ghani saya sudah merasa bagian dari jama’ah hingga berbai’at pada tahun 1999 ketika Ust. Zulkifli Rahman berkunjung ke Bima masih sebagai Pembina dan Koordinator Wilayah Nusa Tenggara.

Apa poin penting yang membuat Ustadz memilih Khilafatul Muslimin?

Sebenarnya sejak lama ada tanda tanya besar terkait dengan krisis yang dihadapi ummat Islam, sementara saya biasa berorganisasi dan suka membaca dan meyakini perjuangan harus dengan kepemimpinan. Saat itu Khilafah dan Khalifah hanya bisa dibaca dari sejarahnya, seolah hanya utopia masa lalu. Awalnya sebenarnya saya berbai’at dalam lembaga NII, kemudian melakukan tajdiidul bai’at (pembaharuan) ke Khilafah. Apa yang saya pelajari dari beberapa sumber selama ini, saya melihatnya dalam sistem Khilafah inilah yang ideal, baik ditinjau dari sisi normatif maupun history-nya.

Bagaimana aktifitas Ustad setelah di Khilafah?

Sebenarnya tak ada yang istimewa. Selama di Bima saya rasakan beragam isu, ancaman dan citra buruk yang dialamatkan kepada jama’ah, saat pengajian di rumah ada yang melempar rumah karena dianggap “pengajian gelap”, namun begitu dipindahkan ke masjid malah masjidnya juga dilempar. Alhamdulillah atas hidayah Allah pelakuknya taubat dan bergabung, “mereka terharu setelah melempar justeru mendengar Ust. Zainal mendoakan kebaikan buat mereka”. Tak lama setelah bai’at saya pindah ke Sumbawa Barat pada 10 Oktober 1999, atas panggilan pekerjaan yang merekrut saya sejak belum tamat STM. Sebenarnya dilarang oleh Ust. Zainal, tapi saya minta izin untuk sekedar memenuhi harapan orang tua dan nenek saya untuk segera kembali lagi. Namun ternyata setelah bertemu Ust. Zulkifli Rahman, saya malah ditahan di Sumbawa, saya diajak untuk mengikut berbagai kegiatan taklim bersama beliau, saya catat materinya hingga ada beberapa buku saya penuh, sekarang masih tersimpan.

Ust. Zulkifli Rahman sudah seperti kakak kandung bagi saya, keluarganya adalah keluarga saya, bahkan tak jarang beliau memberi uang saku jika saya belum gajian. Saya bekerja sambil tugas dakwah dan diberi target satu orang satu bulan saat itu, dari kerjasama para sahabat yang hebat saat itu ada sekitar 23 orang berbai’at dan terbentuklah Kemasulan Townsite (Kota tambang) dengan Mas’ul Ummahnya, H. Nashrul Budiyanto, ST (Atsitek dari Development Departement), warganya ada yang Mechanic, Teknician Service, Trainer, Electrician, Control Room Power Plant, Labratory dan lain sebagainya. Jika libur banyak dari kami yang menginap di rumah Ust. Abdul Bashir Sinene, sehingga rumah beliau layaknya tempat pengkaderan mujahid, saat kami masih bujang.

Pada 5-7 Agustus tahun 2000 saya bersama warga Khilafah di Sumbawa ikut berpartisipasi dalam Kongres Mujahidin Indonesia I di Jogjakarta, sejak awal Ust. Zulkifli Rahman menjadi sumber informasi panitia untuk Wilayah NTB dan bersama beliau kami ikut secara aktif dalam menyukseskan kongres, satu alasannya karena ada misi penegakkan Khilafah, namun  semuanya jelas tidak terbukti. Para sahabat yang dulu tinggal di camp sekarang banyak aktif di Kemas’ulan luar tambang setelah memilih “Out Camp”, merekalah yang kini menjadi Amir Ummil Quro, Mas’ul Ummah, bahkan Amir Wilayah kami, Ust. Ma’ruf Mande. Saya sendiri Out Camp setelah menikah yakni pada awal 2002 dan tinggal di Kemasulan Taliwang III, sempat memegang amanat sebagai petugas Baitul Maal di situ, kemudian diangkat sebagai Kaatib Wilayah Nusa Tenggara oleh Ust. Zulkifli Rahman sekitar tahun 2003, hingga berubah menjadi Wilayah Sumbawa Barat. Selanjutnya saya dibai’at tugas sebagai Kaatib Daulah Khilafatul Muslimin pertama yang berpusat di Sumbawa pada 13 Muharram 1432 H (18 Desember 2010). Pada Syawwal 1435 H (2014) dilakukan musyawarah lintas struktural; Daulah, Wilayah dan Ummul Quro di Sumbawa mengantisipasi ketimpangan struktural sehingga dilakukan rolling tugas, saya pun minta dipilihkan dan jatuhlah taqdir-nya di Tarbiyyah Wa Ta’lim Wilayah Sumbawa Barat sampai saat ini.

Apa problematika dakwah menurut Ustad dan apa nasihat Ustad bagi warga dan para da’i ?

Problematika kita tampaknya masih masalah pijakan ideologis dalam keyakinan dan ketaatan juga kedisiplinan struktural, belum terintegrasi secara keseluruhan, sehingga masih perlu meningkatkan koordinasi dan pembagian tugas secara jelas sesuai dengan bidangnya. Kita sedang membangun sistem, maka semua pekerjaan kembalikan ke dalam sistem dan kerja tim yang integral sehingga sistem kita tumbuh berkembang. Kita hanya butuh jujur dan bertanggung jawab dengan tugasnya, rajin belajar sesuai bidang tugas untuk meningkatkan skill dan etos kerja. Saat menjadi Kaatib Daulah saya harus merekap 16 laporan Wilayah dari Flores hingga Lampung Timur, dan terkadang harus selesai dalam semalam karena Amir harus ikut Syuro ke kantor pusat esok hari. Untuk itu saya secara autodidak belajar ilmu administrasi dan kesekretariatan, sehingga atas izin Allah meskipun sudah tidak Kaatib lagi masih bisa berbagi ilmu administrasi dan kesekretriatan lewat ta’dib-ta’dib. Saat ini Qismut Tarbiyyah Wa Ta’lim Wilayah Sumbawa Barat bersama para Murobbi lain sedang membuat semacam “Bank Materi” ‘ta’dib dalam dua versi, versi word dan power point, tujuannya untuk meningkatkan efektifitas dan professionalitas kerja pembinaan. Mohon doa’nya.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts