Urgensi Membai’at Seorang Khalifah Dan Kewajiban Menta’atinya

Oleh : Ustad Ahmad MS

Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al Ma’idah (5): 55).

Sesungguhnya malapetaka terbesar yang menimpa kaum Muslimin hari ini adalah kaburnya loyalitas dan anti loyalitas (wala’ wal baro’) dalam diri mereka, sehingga kebanyakan mereka telah kehilangan orientasi, kemana ia harus ta’at dan loyal dan terhadap siapa ia harus melepaskan diri.

Kemunduran ilmu dan pemahaman yang benar terhadap ad-din dari kehidupan kaum Muslimin secara internal menjadi salah satu sebabnya, sebab lainnya adalah  adanya proses pengaburan (secara sengaja) yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah (eksternal) selama puluhan bahkan ratusan tahun, lewat penjajahan dan pendudukan atas wilayah kaum Muslimin. Lewat penjajahan pula, musuh Islam telah berhasil menanamkan ajaran baru dalam konteks sosial politik, mengganti nilai-nilai Islam yang Robbani dengan nilai-nilai barat yang sekuler. Sistim politik Islam yang berbentuk Kekhalifahan pun hilang, berganti dengan sistim nation state (Negara berdasarkan kebangsaan), yang membuat kaum Muslimin terkotak-kotakan dalam banyak negara dengan batas territorial yang tegas, yang tak boleh dilewati kecuali dengan mengurus berbagai macam bentuk kewajiban administrasi sebagaimana layaknya orang telah kehilangan hak silaturrahim atas saudaranya.

Ummat Islam-pun terjangkiti oleh penyakit inveriority (rasa rendah diri) yang kompleks, hilangnya ukhuwwah Islamiyyah dan tak jelasnya lagi garis pembeda (furqan) antara yang hak dan yang bathil. Puncaknya, kaum Muslimin hari ini banyak yang tidak sadar kalau ia sedang hidup dalam keta’atan kepada thaghut dan bermaksiyat kepada Allah s.w.t berwala’ dan berjuang demi kepentingan musuh-musuhnya dengan meninggalkan Islam, bahkan lebih aneh lagi ketika mereka merasa benar dan merasa mendapatkan pahala ketika ta’at kepada sesuatu yang sesungguhnya salah.

Dalam banyak ayat, Allah s.w.t telah mengingatkan kita akan wajibnya memberi loyalitas kepada sesama orang beriman dan melepaskan diri dari orang-orang kafir dan thaghut, seperti firman Allah s.w.t:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl : 36)

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin, barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. Ali Imran (3): 28).

Oleh karena itu, hendaklah kaum Muslimin hanya berwalikan Allah, Rasul dan orang-orang beriman serta ta’at kepada ulil amri mereka dari kalangan orang-orang beriman yang melaksanakan syari’at Allah, sebagaimana yang diperintahkan dalam Al Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisaa’ (4): 59)

Ayat tersebut tentu sudah dibaca dan dipahami betul oleh para sahabat Nabi yang hidup dengan petunjuk dan sibghah (pewarnaan) langsung dari beliau s.a.w., sehingga dari pemahaman tersebut mereka tanpa ragu telah mengaplikasikannya dengan cara membai’at seorang Khalifah, pasca wafatnya baginda Nabi s.a.w.

Atas dasar itu pula, hukum mengangkat seorang imam ini telah disepakati wajibnya oleh semua kelompok, baik mereka yang masih dijalan selamat maupun yang telah dinyatakan sesat dari jalan yang benar. Imam Ibnu Hazm dalam Al Milal wa An Nihal, 4/87 telah mengutip kesepakatan Ahlu sunnah, Murji’ah, Khawarij bahkan Syi’ah atas wajibnya imamah. Kendatipun secara detail imam yang mereka maksud itu berbeda, tapi yang tak dapat disangkal, baik dari tinjauan syari’at maupun realitas masa lalu bahwa imam kaum Muslmin adalah seorang Khalifah/ Amirul Mu’minin dalam sistim Khilafah.  Maka dikala tidak tegaknya imam/ Khalifah bagi kaum Muslimin yang bersifat global, tentu menjadi keharusan bagi setiap Mukmin untuk mewujudkannya, yaitu dengan memberikan bai’at kepada seseorang sebagai Khalifah dan menta’atinya sesuai petunjuk syari’at Allah s.w.t. Rasulullaah s.a.w. bersaba:

“Barang siapa membai’at seorang imam kemudian imam itu memberikan padanya uluran tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia (orang yang membai’at itu) menta’atinya sedapat mungkin; maka jika datang orang lain yang menentangnya, hendaklah mereka membunuh yang terakhir itu. …” (HR. Abu Daud, 4/97; Muslim, 7/152-154; Ibnu Majah, 2/1306).

Antara bai’at dan hadirnya seorang Khalifah di tengah kaum Muslimin, ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, dimana bai’at hanya boleh diberikan kepada seorang Khalifah, sementara seseorang tak dapat disebut memiliki Khalifah –yang merupakan kewajiban- manakala dia tidak pernah mengikat bai’at dengannya.

Namun, membai’at seorang Khalifah tentu saja tidak sesederhana mengulurkan tangan dan diberi uluran tangan olehnya, karena semua ada konsekwensinya. Dengan kata lain uluran tangan kita saat berbai’at bersamaan dengan penerimaan kita akan tanggung jawab menta’atinya selama dia dalam kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

“Mendengar dan menta’ati (imam/ Khalifah) wajib atas seorang Muslim dalam hal yang ia sukai atau tidak, selama ia tidak diperintahkan (melakukan) kemaksiyatan. Apabila diperintahkan (melakukan) kemaksiyatan maka tidak wajib mendengar dan menta’atinya.” ( HR. Bukhari, dibeberapa tempat, diantaranya, 5/23; Muslim, 3/1466, Ibnu Majah, 2/956; Tirmidzi, 4/209. )

Bai’at dan keta’atan ummat, baik itu dalam hal kwantitas maupun kwalitas begitu urgen, karena hal itu akan menjadi legitimasi kuat bagi seorang imam/ Khalifah dalam melaksanakan kepemimpinannya, sehingga Khalifah dan para pembantunya bisa mempertimbangkan dan merancang berbagai kebijakan sistematis untuk membawa ummat dan jama’ah-nya kepada tahap yang lebih tinggi secara gradual dari waktu ke waktu.

Bisa saja nampak bagi sebagian kaum Muslimin hari ini, berbagai kebijakan Kekhalifahan begitu sederhana, kecil, diikuti sedikit orang dan tidak populer pula. Namun itu semua, hanyalah bagian dari proses pengkaderan untuk menyiapkan pribadi dan komunitas guna menyambut tugas-tugas lebih besar dan berat pada masa yang akan datang. Tentunya setiap pribadi manapun tak dapat berargument bahwa mereka “belum perlu” terlibat dalam program-program sederhana dan mungkin dianggap kecil, karena menunggu hal-hal besar dan fenomenal kemudian, karena sesungguhnya yang paling mendasar dinilai di sisi Allah adalah keberpihakan (loyalitas), ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Adapun wujud dari amal, besar atau kecil tidak menjadi ukuran bahkan tidak bernilai apa-apa jika tidak dilaksanakan dalam bingkai keta’atan, apalagi hanya sekedar berdasarkan kecenderungan pribadi dan selera rendah duniawi semata. Maka bagi kita semua yang berniat menolong agama Allah dan berharap kemenangannya, patutlah kita renungi ayat Allah s.w.t berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash Shaff: 14)

Maka jika ada pertanyaan serupa hari ini, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?”, masya Allah, wahai saudaraku, seolah saya mendengar kita semua serentak berucap, “Kamilah penolong-penolong agama Allah”. Allaahu Akbar…!. Wallaahu a’lam bi ash showaab…!.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts