URGENSI BAI’AT

TAFSIR 0

Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb

URGENSI BAI'AT

Dan jika seseorang dari Isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman. Hai nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al Mumtahanah (60) : 11-12).

             Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata, aku mengikuti shalat Idul Fitri bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, Abu Bakar Radialahu anhuma, Umar Radialahu anhuma dan Utsman Radialahu anhuma mereka semua melaksanakan shalat sebelum khutbah maka seolah-olah aku masih melihat ketika orang-orang duduk didepan beliau dan menasehati mereka hingga datang beberapa wanita bersama Bilal Radialahu anhuma dan turunlah ayat ini, “Wahai Nabi apabila datang kepadamu wanita-wanita mukminat hendak menyatakan bai’at ….”.

            Setelah mereka semua menyatakan bai’at maka Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Kalian semua seperti yang diucapkan tadi, kalian semua setuju dengan apa yang disebutkan tadi ? maka seorang wanita berkata mewakili yang lain-lainnya benar ya Rasulullah”. Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Bersedekahlah kalian, maka Bilal membentangkan bajunya sedang mereka meletakkan shodaqoh mereka pada pakaian Bilal”. Masih banyak lagi riwayat yang serupa yang menerangkan tentang bai’at para wanita serta shodaqoh mereka dan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam tidak berjabat tangan kepada para wanita yang menyatakan bai’atnya.

            Dari berbagai riwayat yang ada tergambar betapa pentingnya bai’at (janji setia) yang mengikat dileher orang-orang beriman sampai-sampai para wanitapun silih berganti menyatakan bai’atnya. Mereka disatu sisi mendambakan Surga yang dijanjikan Allah bagi orang yang berbai’at sebagaimana yang disebutkan didalam QS. At-Taubah (9) : 111, bahwa Allah telah menyatakan membeli (isytaro), maka siapakah gerangan yang bersedia untuk menyatakan menjual (baaya’a /ba’a /bai’at), sementara harga yang ditawarkan adalah Surga, disisi lain lagi mereka juga merasa perlu untuk melepaskan perwalian mereka dari berwala’ kepada orang-orang yang dimurkai Allah untuk berwala’ kepada orang-orang yang diridhai Allah. Bukan hanya kaum laki-laki yang perlu menyatakan bai’atnya tetapi suatu keberuntungan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam diperintahkan juga untuk menerima bai’at dari para wanita.

            Yang demikian itu agar mereka benar-benar terlepas dari kondisi berwalikan orang-orang yang dimurkai Allah, maka pada ayat selanjutnya setelah menerangkan tentang bai’at bagi para wanita  ini Allah menasehati orang-orang beriman secara umum dengan firman-Nya,  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri Akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa”. (QS Al Mumtahanah : 13)

            Jika kita membaca sepintas terjemahan kedua ayat ini (ayat 12 dan 13) sepintas seolah-olah keduanya tidak berhubungan satu sama lain, namun jika kita amati dalam prakteknya bahwa ternyata dalam  bai’at itu terkandung makna kesetiaan dan keta’atan pada kepemimpinan orang beriman serta tunduk pada aturan yang berlaku didalamnya termasuk aturan yang berhubungan dengan mencuri, berzina, dan membunuh. Ketika orang yang beriman menyatakan bahwa dia tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun jua (tidak musyrik) maka itu berarti juga dia tidak akan rela dituntut dengan keadilan hukum manapun selain hukum Allah apabila dia mencuri, berzina atau membunuh karena apabila dia masih bersedia untuk dituntut selain dengan hukum Allah terkandung makna bahwa masih ada hukum lain yang juga baik dalam pandangannya selain hukum Allah dan itu adalah jelas suatu bentuk kemusyrikan.

            Seruan Allah kepada orang yang beriman untuk tidak mengambil penolong (wali) dari kaum yang dimurkai Allah mengandung seruan untuk membebaskan diri dari bentuk kemusyrikan yang akan mengundang murka Allah atas mereka juga akan mengakibatkan kerugian dan keputus-asaan seperti putus asanya orang-orang kafir yaang telah berada didalam kubur. Maka tidak heran jika Rasululllah Shalallahu alaihi wasalam menerangkan bahwa jika sampai mati tidak pernah berbai’at, maka mati jahiliyah sebagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda “Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)

            Meskipun hadits ini shahih namun agaknya tidak banyak mendapat perhatian khusus dari ummat Islam dewasa ini bahkan diantara para ulama mengemukakan berbagai dalih sebagai pembenaran bagi orang yang tidak menyatakan bai’at di zaman ini dengan berbagai alasan yang sepertinya cukup rasional dengan kajian yang panjang lebar yang kesimpulannya bahwa untuk zaman kita sekarang ini kita abaikan saja hadits ini yang penting kita berbuat baik dan beramal shalih sebanyak-banyaknya, ketiadaan Khalifah yang mengayomi kaum muslimin sejak tahun 1924 membuat mereka seperti anak ayam yang kehilangan induk.

            Pada awalnya berteriak kesana kemari namun seiring berjalannya waktu anak-anak ayam itu akan  mengikuti anjing yang lewat atau musang yang lewat atau srigala yang lewat yang dikira induknya, kaum muslimin dewasa ini setiap melihat kekuatan yang lebih besar atau sebuah kekuasaan kerap dianggap sebagai induk mereka hingga menisbatkan kata “KHALIFAH atau ULIL AMRI ” pada sebuah kekuasaan meskipun kekuasaan tersebut tidak bersandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah.

            Pada dasarnya bai’at dizaman Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam adalah perlambang dari kesediaan berkorban, bukan perlambang dari perlindungan atau keamanan, artinya orang yang berbai’at dizaman Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam adalah orang yang sudah siap untuk berkorban apa saja yang dibutuhkan untuk melindungi diri pribadi Nabi r serta ajaran yang dibawa dan mereka sudah siap walaupun untuk berkorban habis-habisan, sementara yang tergambar dibenak kaum muslimin dewasa ini bahwa ketika dia menyatakan bai’at maka dia yang akan mendapat perlindungan dari Khalifah, mendapat pengayoman, mendapat kesejahteraan dan berbagai fasilitas yang menyenangkan. Hal yang demikian itu adalah apa-apa yang didapatkan oleh mereka yang berbai’at setelah tegaknya Kekhalifahan, sementara kondisi kita sekarang ini lebih identik dengan kondisi dizaman Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sebelum Islam tegak dengan semua sendi-sendinya.

            Kekhalifahan yang dinubuwatkan oleh Rasulullah akan muncul diakhir zaman yaitu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti metode Kenabian), bukan Khilafah ‘alaa Minhajil Khulafaur Rasyidin (Kekhalifahan yang mengikuti para Khalifah Rasyidah). Orang yang sekarang menyatakan bai’atnya tidak jauh berbeda dengan orang yang menyatakan bai’atnya dizaman Rasulullah, bukan seperti mereka yang menyatakan bai’at dizaman Khulafaur Rasyidin ketika Islam sudah kuat dan kokoh.

            Mereka yang tidak bersedia untuk berbai’at dizaman Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam hanya diancam Neraka dan mati jahiliyah, sementara mereka yang tidak bersedia berbai’at kepada Kekhalifahan yang sudah tegak, maka Khalifah berhak untuk memerangi mereka. Bahkan tidak bersedia membayar zakat pun berhak untuk diperangi.

            Kita bermohon kepada Allah Subahanahu wata’ala agar dimampukan untuk menata kehidupan kita yang Islami didalam bimbingan Allah, Rasul dan Ulil Amri yang sesuai tuntunan dengan bersungguh-sungguh menyatakan bai’at kepada Khalifah atau dihadapan Ulil Amri yang bertanggung jawab dengan tulus ikhlas, siap berkorban apa saja sesuai kemampuan demi tegaknya ajaran Allah dan Rasul-Nya dan mampu bertahan untuk tetap istiqomah tanpa memperdulikan cercaan orang yang mencerca. Semoga Allah meridhai dan mengampuni kita. Aamiin. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!
URGENSI BAI’AT,5 / 5 ( 1votes )

Related Posts