TUNTUTAN AQIDAH ADALAH PELAKSANAAN SYARI’AT SECARA KAFFAH

TARBIYAH 0

TB. Ahmad Husaini

Pemahaman terhadap Aqidah yang benar dalam  Islam akan melahirkan sikap kerelaan untuk mau diatur oleh Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupanya. Tatacara pengaturan perilaku hidup manusia untuk mencapai keridhaan Allah SWT dikenal dengan istilah syari’at (syari’ah). Semakna dengan arti kata syari’at  dalam bahasa arab, maka orang yang mematuhi syari’at jiwanya akan jernih sejernih mata air dan mengalir seperti aliran sungai yang suci lagi mensucikan.

Secara bahasa, kata syari’at (syarî’ah/ شريعة) berasal dari kata syara’a ( شرع) yang berarti jalan ke tempat keluarnya air untuk minum atau tempat lalu air di sungai. Dalam perkembangannya, kata syari’ah digunakan orang Arab untuk konotasi jalan lurus (الطريقة المستقيمة ). Sedangkan menurut istilah pengertian syari’at adalah segala ketentuan Allah yang diatur bagi hamba-Nya baik menyangkut Aqidah, ibadah, akhlak maupun mu’amalah.

Aqidah adalah landasan pelaksanaan syari’at yang merupakan pola perilaku perbuatan seseorang, tidak akan tegak syari’at tanpa adanya Aqidah dengan kata lain orang yang beriman akan tergambar dengan melihat indikatornya yaitu terlaksananya tuntutan syari’at (amal shaleh) dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl (16) :97).

Pelaksanaan Syari’at adalah bagian dari penegakan Ad-Dien (way of life) sebagaimana Allah SWT berfirman, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (Dien) itu, maka ikutilah syari’at itu”. (QS. Al Jatsiyah (45) :18). “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Dien (agama) apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, tegakkanlah Ad-Dien dan janganlah kamu berpecah belah didalamnya”. (QS. As- Syuraa (42):13).

Pada masa Nubuwah (kenabian), syari’at Islam dilaksanakan secara bertahap sesuai masa turunya wahyu, dipimpin dan dipraktekan langsung oleh Rasulullah saw. Pada masa Nubuwah, terdapat dua periode pembinaan syari’at Islam, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah dikenal dengan periode penanaman Aqidah dan akhlak. Aqidah berbicara tentang kepercayaan kepada Allah swt, kepada Malaikat, Kepada Rasul, kepada hari akhir dan kepada qada dan qadar. Sementara itu akhlak berbicara tentang larangan membunuh, larangan mengurangi timbangan dan menjauhi perbuatan tercela, dll. Periode Madinah dikenal sebagai periode penaatan dan pemapanan ummat. Oleh karena itu di periode Madinah inilah ayat-ayat yang memuat hukum-hukum mulai diturunkan baik yang bersifat perorangan maupun sosial kemasyarakatan. dalam periode Madinah inilah kaum muslimin sudah memiliki dasar akhlak dan Aqidah yang kuat sebagai landasan tegaknya Syari’at secara keseluruhan (kaaffah).

Masih pada era nubuwah, Nabi saw telah membuat struktur Al-Jama’ah yakni dengan mengangkat Amir sekaligus Qadhi sebagai perwakilan (Rasul) Nabi saw dalam mengambil segala keputusan, hal ini tergambar pada hadist, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pada saat mengutusnya (Mu’adz bin Jabal RA) ke Yaman, Rasulullah berkata padanya, “Bagaimana kamu melakukan ketika kamu hendak memutus perkara?” Mu’adz pun menjawab, “Aku memutus dengan apa yang terdapat di dalam kitab Allah (Al Qur’an)”. Lalu Rasulullah bertanya, “Kalau tidak terdapat di dalam kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Maka dengan memakai sunnah Rasulullah SAW”. Lalu Rasulullah bertanya. “Seumpama tidak ada di sunnah Rasulullah?” Mu’âdz menjawab: “Aku berijtihad sesuai dengan pemikiranku bukan dengan nafsuku”. Lalu Rasulullah SAW menepuk dada Mu’adz, dan Rasulullah bersabda “Segala puji bagi Allah yang telah mencocokkan Rasul Rasullullah pada apa yang diridai Allah terhadap Rasulullah”. (Sunan Abu Daud, Juz II hal. 272; Sunan At-Tirmidzi, hal. 157)

Selanjutnya pada masa Khilafah, syari’at atau hukum Islam tetap dijadikan pedoman hidup kaum muslimin sebagai suatu taklif atau tuntutan Allah SWT dibawah kepemimpinan seorang Khalifah /Amirul Mukminin dan strukturalnya yang lengkap demi menjaga kemurnian dan tegaknya kalimat Allah dimuka bumi.  Ketentuan-ketentuan tersebut bersifat abadi dan tidak berubah hingga saat ini, karena tidak ada yang punya wewenang merubahnya kecuali Allah SWT.

Ketahuilah Allah SWT telah menjadikan  air sebagai penyebab kehidupan lahiriah (QS. Al-Anbiya (21) :30), maka Allah menjadikan syari’at Islam sebagai penyebab kehidupan jiwa (batiniah) manusia. Penolakan terhadap syari’at Islam hanya akan membuat kehidupan manusia menjadi kering dan tidak bermakna. adanya syari’at Islam bertujuan untuk memelihara agama (menegakkan Ad-dien), memelihara akal manusia, memelihara diri dan keturunan serta menjaga harta benda manusia.  Pantas kiranya Allah SWT memberi vonis kepada siapa saja yang tidak mau dan atau menolak hukum (syari’at Islam) dengan vonis Kafir, Dzalim dan Fasik. Sebagaimana Allah berfirman, Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah (5): 44). “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Maidah (5): 45). Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Maidah (5): 47). Periksa juga QS. Al Maidah : 50.

Meski sebab turunnya ayat ini mengenai orang-orang kafir; yahudi (QS:5:44 dan 45) dan Nashrani (QS:4:47) akan tetapi ayat ini juga berlaku bagi kaum muslimin. Karena redaksi مَنْ (barang siapa) berlaku bagi siapa saja termasuk kaum muslimin. Ayat-ayat ini juga berlaku bagi siapa saja yang termasuk dalam obyek seruan ayat ini. Tidak hanya penguasa negara tapi juga individu dan juga masyarakat yang mengaku beragama Islam. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts