TIDAK DIKATAKAN BERTAUHID ORANG YANG BERPECAH BELAH

TARBIYAH 0

TB. Husaini

Kalimat Tauhid berasal dari kata wahada  ( وَحَّدَ ) – yuwahidu (  يُوَحِّدُ) – Tauhidan ( تَوْحِيْدًا) yang artinya : menunggalkan / meng-Esakan atau mempersatukan atau menjadikan sesuatu satu saja. Sedangkan arti Tauhid secara Bahasa (Lughoh) adalah “menetapkan bahwa sesuatu itu satu dan mengetahui (dg Ilmu) bahwa Tuhan / Sesembahan itu satu”.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa Sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Rabb yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya”. (QS. Al Kahfi (18) : 110). Merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam untuk belajar dan mengerti tentang Tauhid, sebagaimana Allah SWT berfirman, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Rabb (yang Hak disembah) melainkan Allah.” (QS. Muhammad (47):19). Rasulullah SAW  bersabda, ”Siapa saja yang mati sedangkan dia mengetahui bahwa tiada Illah (yang berhak disembah) kecuali Allah, pasti masuk surga.” (HR. Muslim).

Allah SWT berfirman “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan–Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa (4) : 36). Ummat Islam adalah ummat yang satu oleh sebab Tauhid, namun meskipun demikian saat ini ummat Islam terbagi menjadi beberapa bagian.  Ummat Islam terbagi menjadi bagian warga negara yang berbeda-beda, menerapkan hukum Islam sebagian dan menjadikan persoalan agama Islam menjadi urusan pribadi masing-masing. Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah, contohnya adalah  jika ada  orang Islam yang tertindas dan teraniaya dimana saja, sebagian ummat Islam lainya hanya mampu menolong sebatas kemampuan masing-masing oleh sebab dibatasi oleh wilayah dan aturan negara yang berbeda-beda.

Perumpamaan Ummat Islam saat ini adalah seperti seorang laki-laki yang tertindas dan mempunyai pemimpin yang banyak (Presiden, Raja, Perdana Mentri, Kaisar) dan saling dibatasi oleh negara-negara dengan aturanya yang berbeda-beda, sebagaimana Allah memberi perumpamaan, “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az-Zumar (39) : 29). Karena itu tidaklah mengherankan jika ada polemik tentang perpecahan ummat, sebagian mengatakan saat ini telah terjadi perpecahan ummat sebagian lagi mengatakan tidak terjadi perpecahan.

Jika menilik arti karta persatuan menurut kamus Bahasa Indonesia kontemporer, persatuan adalah gabungan dari beberapa bagian yang sudah bersatu dalam lembaga. Maka ummat Islam yang sudah bersatu dengan Tauhid selayaknya membuat persatuan dengan mempunyai satu orang pemimpin saja, sebagaimana Nabi saw pada masa Nubuwwah dan pengganti nabi saw pada masa Khilafah. Perpecahan ummat Islam menjadi masalah yang sangat serius dan telah menjadi perhatian para mufasir. Hal ini dikarenakan perpecahan merupakan tanda orang Musyrik yakni lawan dari Tauhid, sebagaimana Allah berfrman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am (6) : 159). Ibnu Katsir berkata, “Orang musyrik suka mengganti dan merubah agamanya, mereka beriman terhadap sebagian akan tetap menolak sebagian yang lain. Mereka meniggalkan agamanya seperti orang Yahudi, Nasrani, Majusi, penyembah berhala dan semua pengikut agama yang bathil sebagaimana dicantumkan di dalam ayat ini QS. Al An’am (6) ayat 159”. (Tafsir Ibnu Katsir 6/282).

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,  Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar-Rum (30) : 31-32). “Adapun firman Allah swt, “min al-ladziina farraquu diinahum wa kaanuu syiya’an kullu hizb bimaa ladaihim farihuun”, maksudnya adalah, “Janganlah kalian menjadi bagian orang-orang musyrik yang telah memecah belah agama mereka, yakni mengganti dan mengubah agamanya, iman terhadap sebagian dan kafir (ingkar) terhadap sebagian yang lain.

Sebagian ulama membaca dengan, “faaraquu diinahum”, yang maknanya adalah “taarakuuhu wara`a dzahrihi”, “meninggalkan agamanya di belakang punggung mereka”. Mereka itu seperti orang-orang Yahudi, Nashrani, Majusiy, penyembah berhala, dan semua pemilik agama bathil, selain penganut agama Islam, sebagaimana firman Allah swt, didalam QS Al An’aam (6):159. Penganut agama sebelum kita telah berselisih di antara mereka mengenai pemikiran-pemikiran dan syariat-syariat agama yang bathil. Setiap kelompok mengaku berada di atas kebenaran. Ummat ini (Ummat Islam) juga akan berselisih dalam urusan agama, dan seluruhnya, kecuali satu kelompok, yakni ahlu al-sunnah wa al-jamaa’ah yang senantiasa berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, dan apa yang telah ditempuh oleh generasi awal Islam dari kalangan shahabat ra dan tabi’uun dan para ulama kaum Muslim baik salaf maupun khalaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam al-Hakim di dalam al-Mustadrak, bahwasanya Nabi saw ditanya tentang firqah an-naajiyah (kelompok yang selamat) dari kalangan mereka. Nabi saw menjawab, ”Kelompok yang berada di atas jalan yang aku tempuh saat ini dan juga para shahabat”. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 hal 282)

Demikianlah kiranya semoga dapat dipahami oleh kaum muslimin yang merindukan persatuan dan kejayaan ummat Islam. Sebagai akhir kata mari kita cermati  kalimat bijak berikut ini,  “Menyembah Allah yang satu, Nabi yang satu, Kitab yang satu dan  Kiblat yang satu belumlah dikatakan persatuan jika pemimpinya banyak”. Wallahu’alam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts