TIDAK ADA YANG DAPAT ADIL SELAIN AJARAN ISLAM

OPINI 0

Abu Muhammad Ziddan

Hari ini Senin, dibulan Dzulhijjah 1437 H  saya  mengantar anak ke salah satu rumah sakit Islam (lebelnya) di Cibinong yang bisa dengan jaminan kesehatan, artinya ada kerjasama dengan pemerintah. Menurut bidan dengan berat badannya yang tidak normal kemungkinan terkena sakit “plek” maka diperlukan tes untuk tau positif atau negatif nya. Dan di daerah kami satu-satunya yang bisa melakukan tes “mantuk” nama nya hanya di rumah sakit tersebut.

Rumah sakit buka jam 08.00, kami dan keluarga antri menunggu dokternya datang, tepat 09.30 dokter datang dan giliran antrinya kami dipanggil, ditanya-tanya “pernah panas lebih dari tiga minggu?, pernah batuk lebih dari tiga minggu? Dan lain-lain. Selanjutnya harus cek Laboratorium dan Rontgen. saya menunggu hasil agar tau, apakah anak saya sakit “plek” atau ada penyakit lain (khawatir kena TBC). Ternyata tidak bisa hari itu, dan kemudian saya diminta melunasi biayanya. Tanpa jaminan kesehatan apapun, murni kantong sendiri dan daftar umum, semua hampir Rp 500.000,-. Agak sedikit kaget, mahal juga kata saya dalam hati. Harga ini hanya untuk mengetahui anak saya sakit apa, dan ini belum tindakan, pemberian obat dan lain-lain dan menurut dokternya kami harus datang tiga hari lagi, yaitu hari Rabu sore, karena jadwal dokter adanya pada jam tersebut.

Dengan lima ratus ribu pun saya masih belum tau anak saya sakit apa, bagaimana kalau benar ternyata anak saya sakit seperti yang diprediksi tentu membutuhkan tindakan intensif dengan pemberian obat yang kontinyu kedepan. Wah berapa lagi ya harus menyiapkan dana nya? Masya Allah … !

Masyarakat yang mayoritas muslim di negri kita ini harus terkena beban layaknya yang saya alami. Bagaimana kalau orang itu tidak punya sama sekali, dengan biaya yang seperti tergambar seolah memaksa “kalian orang miskin tidak boleh sakit”, kalau sakit siapa yang mau bayar?. Padahal di negri kita ini yang mayoritas muslim terkena yang namanya “pajak”, di segala hal. Coba kita lihat, mulai beli sembako sudah kena pajak sekian persen, beli perabotan yang kecil sampai yang besar kena pajak, punya motor kena pajak, punya rumah kena pajak, punya tanah kena pajak, punya penghasilan juga kena pajak, jual beli kena pajak, boleh dibilang apa yang kita butuhkan dalam kehidupan ini semua kena yang namanya “pajak”. Sementara untuk kesehatan harus “tanggung sendiri”. Ada jaminan kesehatan katanya “gratis” kalau pas sakit, tetapi harus membayar tiap bulannya, padahal tidak setiap bulan kita sakit, seperti dibodohi saja!

Pertanyaanya, kemanakah perginya “pajak” yang kita bayar itu? Kenapa tidak ke pendidikan dan kesehatan masyarakat yang menjadi haknya agar “free” alias “gratis 100 %” tanpa syarat tetek bengek. Kenapa malah untuk membiayai para penjahat, maling, koruptor, pemerkosa, pelaku sodomi, pembunuh yang di penjara itu salah satunya. Mereka enak di penjara, makan gratis, sakit ditanggung, tempat tinggal gratis, listrik gratis, fasilitas olah raga gratis. Sementara orang yang baik-baik yang kebetulan miskin, tinggal di kolong jembatan, hari ini makan entah besok bisa makan apa tidak, tidak boleh sakit karena mahal, jangankan bisa menyekolahkan anak-anaknya, sungguh ironis sekali! Pajak juga untuk membiayai kemewahan yang katanya para “wakil rakyat” di parlemen yang kerjannya hampir tidak mewakili aspirasi rakyat. Ada keadilan kah di negri ini dengan demokrasi dan hukum buatannya yang tajam kebawah, tumpul ke atas?

Allah SWT berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi Ad Dien bagimu …”. (QS. Al Maidah : 03).

“Islam” yang merupakan ajaran dari Yang Maha Sempurna pastinya memiliki segudang solusi sempurna bagi makhluk ciptaan-Nya, tidak hanya bagi pemeluk Islam itu saja tetapi seluruh makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini termasuk binatang, pohon dan tumbuh-tumbuhan bahkan termasuk orang-orang non muslim jika berada di bawah naungannya, karena Islam adalah “Rahmatan Lil ‘alamin”.

Termasuk salah satunya adalah hal Kesehatan dan Pendidikan, didalam Islam harus “free” alias gratis 100 %, ini adalah dua hal yang tidak boleh dikomersilkan oleh pemerintahan Islam di zaman tegak nya Kekhalifahan dimulai Kekhalifahan pertama, Abu Bakar Ash Shidik RA hingga Kekhalifahan Islam terakhir di Turki, dan ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri. Bahkan orang Eropa, Inggris ketika dipimpin oleh raja George mengirimkan anak-anak mudanya yang notabene-nya adalah non muslim untuk belajar “ilmu pengetahuan” kepada Kekhalifahan dan ini digratiskan dan ditanggung oleh pemerintah Kekhalifahan pada waktu itu. Saat ini Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) telah merintis dua hal ini dengan segala kekurangannya dan secara “free” alias gratis 100 %, insya Allah.

Sumber dana yang dikelola oleh Islam sebagaimana yang Allah perintahkan yaitu dari ZIS (Zakat, Infaq dan Shodaqoh) dan Jizyah (harta non muslim yang disetor sebagai bentuk siap dipimpin oleh pemerintahan Islam) di Baitul Maal Kekhalifahan Islam. Dan sebagai orang yang beriman menunaikan Zakat, membayar infaq dan menyuburkan shodaqoh adalah bentuk dari ibadah kepada Allah SWT sebagai konsekuensi logis dari keimananya. Dengan membayar ZIS maka Allah akan membalas dengan pahala dan kenikmatan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diperuntukan bagi orang yang beriman dan bertaqwa dan Allah akan melipat gandakan rejeki sebagai mana Allah berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah (2) : 261).

Sungguh beruntung orang-orang beriman yang telah yakin atas ketentuan Allah dan kesempurnaan syari’at-Nya, tentunya untuk kesejahteraan diri dan ummat Islam secara keseluruhan di dunia dan selamat pula di akhirat. Di dunia terasa keadilan-Nya, kesejahteraan dimana-mana, keberkahan akan tercurah dari langit dan dari bumi akibat orang-orangnya beriman dan bertaqwa (QS. Al A’raf : 96) dan pada saat “pulang” nanti dikehidupan yang kekal mendapat kan kampung Surga yang penuh kenikmatan yang hakiki. Wallahu a’lam.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts