TIADA PILIHAN LAIN UMMAT ISLAM WAJIB BERSATU

               Bersatu merupakan idaman setiap kelompok manusia yang berakal sehat, karena memang secara rasional tidak ada kelompok manusia yang menyetujui perpecahan dalam kelompoknya sendiri. Maka seruannya adalah, Bersatulah kalian ! dan bukan Berpecah-belahlah kalian ! Kelompok apapun namanya.

           Marilah kita kembali kepada masalah intern kita sebagai kaum Muslimin, dimana pada kenyataannya ummat Islam dewasa ini berada dalam perpecahan dengan nama-nama golongan Islam yang berbeda-beda, sehingga satu sama lain saling salah-menyalahkan dan tidak dapat dipersatukan, sementara seluruh ulama sependapat tanpa khilaf bahwa “Bersatu” itu adalah “Wajib secara mutlak” dan berpecah belah itu adalah Haram, tak mungkin ditolerir. Secara syar’i bahkan dihukumkan sebagai perbuatannya orang-orang musyrik (dosa besar). Allah Subahanhu wata’ala berfirman,

tiada-pilihan-lain-ummat-islam-wajib-bersatu-ayat“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Subahanhu wata’ala, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Rum : 31-32)

(QS. Ar-Rum ayat 31-32).

            Berlarut-larutnya perpecahan kaum muslimin sungguh menggembirakan dan menentramkan orang-orang yang anti Islam (Yahudi dan Nasrani), karena kesuksesan mereka memaksakan kaum muslimin untuk dijauhkan dari kesadaran menegakkan syari’at Islam, sehingga dengan mudah hukum Allah Subahanhu wata’ala dan Rasul-Nya diganti dengan hukum/undang-undang yang dibuat dari hasil pemikiran manusia yang tidak bersumberkan Al-Quran dan Al-Hadits.

               Allah Subahanhu wata’ala berfirman, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui(syariat). Sesungguhnya mereka (dengan aturan yang mereka buat-buat) sekali-kali tidak akan bermanfaat bagimu sedikitpun (untuk menyelamatkanmu) dari azab Allah Subahanhu wata’ala. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah Subahanhu wata’ala adalah pelindung orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Al- Jaatsiyah (45) : 18-19).

            Sangat memperihatinkan ummat Islam jauh tertinggal, kaum muslimin tidak berwibawa, kehilangan izzah (kemuliaan), berpecah-belah menjadi 73 golongan yang keseluruhannya diancam masuk Neraka kecuali hanya Satu golongan saja sebagaimana telah disabdakan Rasulullah. Tentunya yang tetap mempertahankan kesatuan mereka dalam sistem kehidupan Islami yakni sistem Kekhalifahan sebagai pelanjut sistem Kenabian, KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWWAH, bukan yang lainnya.

            Data sejarahnya pun jelas bahwa setelah berakhirnya kepemimpinan Nabi dilanjutkan oleh para Khalifah sebagai Ulil Amri orang-orang beriman, (Qs. An-Nisa’: 59).

            Allah Subahanhu wata’ala telah memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa taat pada Ulil Amri mereka demikian pula Rasulullah juga telah memerintahkan taat pada Ulil Amri, berarti mustahil seorang mukmin dapat dibenarkan hidup mengamalkan ajaran Al-Quran dan Al-Hadits tanpa Ulil Amri yang ia taati, karena berarti dia menentang perintah Allah Subahanhu wata’ala dan Rasul-Nya, sehingga berakibat ia mengamalkan ajaran Islam secara liar menurut maunya sendiri tanpa Ulil Amri. Apakah ada dimuka bumi ini suatu aturan bersama yang hanya dilaksanakan sendiri-sendiri tanpa pemimpin?

            Berbicara tentang kesatuan berarti adanya seorang pemimpin bagi keseluruhan dan Islam sebagai ajaran yang bersifat universal /rahmatan lil alamin menuntut adanya seorang figur pemersatu sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati oleh seluruh ummat Islam yang sadar akan tanggung jawabnya dalam penegakkan ad-Dien. Figur dimaksud tidaklah lain adalah seorang Khalifah /Amirul Mukminin setelah Kenabian berakhir hingga yaumil akhir.

            Di zaman Nabi, pemimpin orang-orang beriman adalah nabi dan sistem kehidupan mereka disebut sistem kenabian (An-Nubuwwah) bukan sistem demokrasi dengan kitab KUHP-nya sebagai pedoman karena sistemnya adalah hasil akal-akalan orang kafir yang tidak memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun setelah berakhirnya kenabian, kaum muslimin dipimpin oleh seorang Khalifah dalam sistem Kekhalifahan dengan pedoman hidup mereka Al-Quran dan As-Sunnah, bukan dalam sistem-sistem selainnya.

            Tanpa kehidupan bermasyarakat dalam sistem Islam (Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah) pastilah terjadi kerusakan dan kehancuran baik didaratan maupun dilautan karena tidak ditegakkan hukum Allah Subahanhu wata’ala dan Rasul-Nya bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah. Secara rasional cobalah kita fikirkan sejenak analogi berikut, seumpamanya ada kendaraan mobil ataupun pesawat yang diciptakan oleh sebuah pabrik dengan segala ketentuannya, lalu kita manfaatkan kendaraan tersebut tanpa mengacu kepada aturan pabrik yang menciptakannya tentu akan segera rusak kendaraan tersebut dan merugikan pembeli berikut penumpangnya.

            Begitu pula halnya kehidupan manusia di muka bumi ini tanpa berpedoman pada aturan Penciptanya, Sang Khalik yakni Allah Subahanhu wata’ala I atau tanpa aturan syari’at Islam pastilah terjadi kerusakan dan kehancuran di segala bidang baik moril maupun materil. Allah Subahanhu wata’ala berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah Subahanhu wata’ala merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, (QS. Ar-Ruum (30) : 41).

            Adakah anda sebagai muslim masih suka dan rela menunggu kehancuran-kehancuran itu lalu anda mati masuk Neraka? Bukankah muslim itu berharap masuk surga?, mengapa tidak melaksanakan /menerapkan hukum Allah Subahanhu wata’ala yang menyiapkan Surga? Sungguh aneh jika kebanyakan kaum muslimin masih juga suka mengikuti langkah-langkah kaum kafirin dan munafikin untuk tidak menjadikan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup disegala bidang kehidupan sehingga mereka berani membuat pedoman hidup sendiri yang tidak bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah alias hukum Thagut. Allah Subahanhu wata’ala  berfirman, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”, (QS. An-Nisa (4) : 60).

            Kiranya tidak mungkin terdapat solusi penyelamatan bumi dan isinya dalam kehidupan dunia yang hanya sementara ini kecuali kita kembali bersatu di dalam sistem kehidupan Islami, yakni Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) dengan mempraktekkan ketundukan kepada semua ketetapan Allah Subahanhu wata’ala dan Rasul-Nya dengan memberlakukan syari’at Islam secara kaaffah dan seluas-luasnya. Maka bersatulah /berjamaahlah /berkhilafahlah wahai ummat Islam, karena sesungguhnya bersama firqah dan perpecahan yang ada hanyalah kehancuran. Tidak terdapat pilihan lain jika memang kita berharap keselamatan hidup dunia dan akhirat. Selamat berjuang! Wallahu a’lam bisshowwab.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts