Islam pernah melahirkan generasi terbaik dalam perjalanan sejarah ummat manusia. Generasi yang didalamnya pe nuh dengan orang-orang yang ikhlas, pem berani dan teguh dalam pendirian.
Generasi yang menjadikan Allah sebagai tujuan dan jihad fisabilillah seba- gai jalan hidupnya. Generasi tersebut tidak lain adalah generasi pertama Islam yaitu generasi para shahabat di bawah kepemim- pinan Rasulullah SAW, Allah berfirman : (Qs At Taubah / 9 : 100).

artinya :
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golong an muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah keme- nangan yang besar”
Sejarah mencatat sepak terjang mereka dengan ta’jub, sebab generasi ini lahir dalam tempo yang sangat singkat (23 tahun), dan dari kalangan orang-orang du’afah menurut penilaian manusia, yaitu dari pengembala kambing dan kalangan budak. “ yang menurut kaca mata ilmiyah tidak mungkin melahirkan suatu perada- ban yang begitu menajubkan dunia dan bisa menguasai negara-negara adikuasa kafir pada waktu itu “ Parsia dan Romawi.
Generasi terbaik pada saat itu adalah orang-orang yang dididik lang- sung oleh Nabi Muhammad SAW. Profil orang-orangnya yang sangat kita kenal Bilal bin Rabah, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, Khalid bin Walid, cerita tentang mereka pasti sudah kita dengar bahkan sejak balita. Apalagi Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, tentu sangat kita hafal sejarah kehidupannya. Predikat menjadi generasi terbaik tentu bukan semata-mata karena yang mendidik mereka adalah seorang Nabi.
Tetapi ada upaya sistematis dilakukan oleh Nabi dalam membangun nilai tersebut. Mereka berhasil menurunkannya bendera-bendera kemusyrikan dan meng gantikannya dengan bendera tauhid se- hingga, tidak ada lagi penyembahan manusia terhadap manusia yang berakibat penindasan dan kedholiman terhadap manusia itu sendiri, serta digantinya dengan penyembahan manusia terhadap sang penciptanya, yang semata-mata berdampak pada “ketentraman, keadilan dan kemakmuran wilayah Islam pada waktu itu.
Mereka ini adalah suatu generasi yang betul-betul memiliki “roh shahada- tain”dan memiliki pemahaman syahada- tain dengan benar. Sejak pertama kali mereka mengikrarkan dua kalimat syaha- dat,“ maka sejak itu pulalah jiwa mereka mulai bergejolak melepaskan diri dan bersifat Baro’ dari nilai-nilai kebathilan (sistem thoghut), kemudian mereka ber- segera mengikatkan diri dari (bersikap Wala) hanya kepada Alloh, Rasul dan orang-orang yang beriman .
Pemahaman dua kalimat syaha dat yang benar dan kemudian menjadi sepak terjang dalam kehidupannya, inilah yang menjadikan roh bagi kehidupan kaum muslimin awal (generasi Islam awal) sehingga mengundang datangnya per- tolongan Allah SWT dan tercapailah“ Izzatul Islam Wal Muslimin.”
Bagaimana dengan generasi Islam sekarang ini memahami syahadat- tainnya, telah mulai kabur bahkan tidak tampak lagi, mereka menyatakan syahadatain tetapi tingkahlakunya malah menginjak-injak syahadatainnya.
Didalam sholat, mereka mem besarkan Allah, tetapi dalam sepak ter- jang kehidupannya mereka membesar kan hukum-hukum thoghut, atau dengan kata lain Alloh sebagai pencipta manusia, tidak berhak mengatur makluk ciptaan- nya, yang lebih pintar dan lebih hebat adalah “manusia sendiri.” Dibandingkan dengan Sang Pencipta manusia itu sendiri yaitu Allah Swt.
Ungkapan “anak-anak yang lemah “, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut diatas, yang menjelaskan tentang generasi masa depan yang lemah, semoga hal ini dapat menyadarkan kita, selaku orang tua yang bertugas memben- tuk generasi harapan ummat, untuk tidak membiarkan anak cucu kita tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif. Mereka harus mendapatan warna Islam dalam kepribadian mereka.
Ada beberapa kelemahan gene- rasi muslim sekarang ini, yang harus kita benahi, dan menjadi tugas kita sebagai generasi hari ini untuk menghadirkan generasi mendatang yang lebih baik.
Lemah Iman ;
Kondisi ini menyebabkan lemah nya keyakinan atas pertolongan Alloh Azza wa Jalla. Rasa bangga sebagai seorang muslim hilang dalam dirinya. Seorang mukmin seharusnya sangat yakin Alloh selalu bersamanya. Karena segala tindakannya dalam upaya mem buktikan keta’atan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri minkum, (Qs. 4 : 59). Nikmat Allah baginya adalah ujian menuju hamba yang terbaik, Musibah bukanlah penghalang usahanya mengga- pai ridho Allah dengan penuh keikhlasan.
Generasi baru harus diajarkan cara berpikir bahwa Allah berada diatas segalanya dengan beraqidah yang bersih dari segala bentuk kemusyrikan. Beri- badah yang bersih dari Taqlid, Bid’ah, dan Khura’ fat. Berakhlaqul karimah, memiliki ke ahlian hidup dan mampu menjadi seorang hamba pengembang misi yang haq yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar agar menjadi generasi harapan ummat untuk membawa misi al Haq dimuka bumi.
Generasi baru muslim harus berupaya menanamkan ajaran Rasululloh Saw, Dalam diri mereka. Tindakan ini akan melahirkan generasi harapan ummat yang akan membawa rahmad bagi semesta. Pemahaman aqidah dan syariat Allah yang sempurna dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari akan membawa berqah dan maghfirah dari Alloh Azza wa Jalla.
Kebanyakan Syahadatain kaum muslimin hari ini, mulai hilang dan terkikis oleh pengaruh orang-orang kafir, bantai membantai sesama kaum muslimin, sampai pada gempa dan tsunami, yang selalu menimpa pada komonitas kaum muslimin khususnya Indonesia, yang mayoritas Islam. Bahkan kepada suatu daerah yang menamakan dirinya “serambi mekah” mungkinkah karena kaum musli- min tidak lagi memiliki Roh syahadatain sehingga menimbulkan kemurkaan Allah ? Maka hendaklah fenomena ini, supaya di jadikan sebuah intropeksi bagi kaum muslimin hari ini.
Generasi baru muslim harus menanamkan ruh perjuangan didalam dirinya dan pemahaman bahwa perang antara haq dan bathil selalu ada sepanjang zaman. Kita selalu di nina bobokan dan disibukkan dengan urusan-urusan dunia yang tak pernah selesai, dan lupa akan kampung akherat sebagai tempat tujuan kita.
Generasi baru harus memiliki keyakinan yang mantap bahwa pembela agama Alloh pasti selalu menang. Siapa yang lebih berhak mendapatkan kemu- liyaan ini, apakah kita ataukah generasi baru yang insya Allah lebih baik dari kita, itu hanya soal waktu : “Yang haq telah datang dan yang bathil telah lenyap, Sesung guhnya yang bathil itu pasti lenyap,” (Qs. Al-Isra : 81)
Semoga kita masih memiliki “ Roh syahadatain” Amin.
Waullahu’alam Dari berbagai sumber (Red)

.
 cc
|