TEGAKNYA ISLAM HARUS DIDALAM SISTEM ISLAM

TARBIYAH 0

Ust. Ahmad Shobirin

Ada orang yang bertanya, bisakah Islam ini tegak dengan cara-cara yang tidak Islami? Maka secara tegas jawabannya tidak bisa dan tidak akan pernah bisa ! Karena ketika Islam ditegakan dengan sistem yang tidak Islami akan menghalalkan segala cara. Islam tidak bisa ditegakkan dengan cara Komunis, karena Komunis ini bukan cara Islam. Islam tidak bisa ditegakkan dengan cara-cara Monarkhi, karena Monarkhi bukan cara-cara Islam, begitu juga Islam tidak bisa ditegakkan dengan cara Demokrasi, karena Demokrasi bukan cara-cara Islam. Jadi Komunis, Monarkhi dan Demokrasi adalah bathil dalam pandangan Islam sehingga Islam tidak bisa dan tidak boleh ditegakkan dengan cara-cara yang bathil.

Islam adalah suatu ajaran atau suatu sistem kehidupan yang datangnya dari Sang Pencipta yaitu Allah Subahanahu wata’ala untuk makhluk Ciptaan-Nya yang bernama manusia diatas bumi ini. Periksa QS. Al Jaatsiyah (45) ayat 20, QS. Ali Imran (3) ayat 18, 85 dan 138. Maka konsep Islam ini sudah ditentukan Allah Subahanahu wata’ala, sebagaimana ditegaskan didalam QS. Ali Imran (3) ayat 164, QS. Al Jumu’ah (62) ayat 2. Kepemimpinan di dalam Islam juga telah di atur oleh Allah Subahanahu wata’ala, yang disebut “Ulil Amri minkum” yang tercermin di dalam kepemimpinan Rasulullah, Kulafaur Rasyidin al Mahdiyin sebagaimana Allah jelaskan di dalam QS. An Nisa (4) ayat 59 dan keterangan hadits yang di riwayatkan oleh Muslim.

Begitu juga jalan untuk menegak-kan syari’at Islam telah dijelaskan oleh Allah didalam Al Qur’an dan telah di dipraktekan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam selama 23 tahun lamanya mulai dari periode Mekkah hingga ke periode Madinah dan akhirnya bisa menguasai Mekkah kembali. Mulai dari ummat Islam itu masih lemah sampai ummat Islam menjadi kuat (QS. Al Fath 48 ayat 29).

            Sepak terjang Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabat-sahabatnya di dalam memperjuangkan syari’at Islam ditengah-tengah sistem kepemimpinan musyrikin Quraisy, yang sudah jelas dan gamblang sekali untuk dijadikan contoh dan teladan bagi ummat Islam sekarang ini didalam mengemban amanah Allah Subahanahu wata’ala dengan bertujuan menegakkan syari’at Islam.

Fenomena-fenomena penegakkan Islam di zaman Rasulullah dan para sahabatnya dalam menegakkan Islam di tengah-tengah sistem pemerintahan Quraisy yang tidak berdasarkan Islam dengan fenomena kaum muslimin sekarang ini, sebenarnya tidak jauh berbeda. Hanya fasilitas lah yang mungkin membedakan, hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut :

  1. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabat-sahabatnya berusaha memperjuang-kan tegakknya Islam di tengah-tengah pemerintahan musyrikin Quraisy yang tidak berdasarkan Islam, dimana menurut Haikal didalam bukunya yang berjudul “Hayatu Muhammad”, bahwa sistem pemerintahan musyrikin Quraisy itu sudah hampir mirip dengan sistem Republik sekarang. Jadi sudah merupakan cikal bakal pemerintahan nasional (prototype nation state). Kenyataan ummat Islam dimana-mana di dunia saat ini hampir sama, yakni berada di bawah suatu sistem yang tidak berdasarkan Islam, entah itu dibawah sistem Rapublik, Kerajaan, Monarkhi, dan lain sebagainya.
  2. Pemerintahan musyrikin Quraisy pada waktu itu sudah memiliki “Parlemen” atau Majelis Permusyawaratan Rakyat yang di kenal dengan “Daarun Nadwah”. Dimana yang membangun gedung Parlemen itu adalah Qusay, yaitu salah satu pemimpin dari bani Quraisy. Sedangkan orang-orang yang mendominasi “Parlemen” yaitu golongan Supra Struktral Politik, yakni dari kalangan Quraisy.

Ummat Islam di dunia ini sebenarnya tidak akan pernal lepas dari fenomena ini, dari gambaran ini yang perlu kita tarik kesimpulannya ialah, bagaimana sikap Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya pada zaman itu terhadap fenomena ini, sehingga Rasulullah dan para sahabatnya telah berhasil mengantarkan Islam dan kaum muslimin pada kejayaannya. Karena Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, kita contoh tidak hanya dari sisi ritual saja (cara shalat, puasa, haji dan lain sebagainya), tetapi bagaimana cara menegakkan Islam ditengah-tengah sistem yang tidak berdasarkan Islam sehingga Rasul dan para sahabatnya itu berhasil, inilah yang harus kita teladani oleh kaum musimin saat ini (QS. Al Ahzab (33) : 21 dan QS. At Taubah (9) : 100). Bukan mencontoh kepada Hereditus, Polybius, Aristoteles yang melahirkan metode perjuangan Demokrasi (parlementer) yang kemudian di agung-agungkan oleh dunia Barat serta di jiplak dan dijadikan panutan oleh bangsa-bangsa di dunia saat ini.

JALAN MENUJU TEGAKNYA SYARI’AT

Kalau begitu, bagaimana jalan untuk menuju tegakknya syari’at Islam yang sesuai dengan isyarat Allah dan telah di praktekan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya ? Maka jawabannya adalah, sesuai dengan sunatullah, segala sesuatu akan tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaannya jika sesuai dengan tabi’at nya atau ketentuan Allah.

Pohon Padi tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik kalau tata pengelolaannya (tabi’atnya) memakai cara-cara pohon Kelapa. Binatang Bebek tidak akan bisa berkembang dengan baik, tidak akan menjadi Bebek petelur yang baik, kalau tata cara pemeliharaannya (tabi’at nya) dipelihara dengan menggunakan cara-cara pemeliharaan binatang Unta. Begitu pula untuk tegakknya syari’at Islam, bahwa Islam tidak akan bisa tegak kalau cara penegakkannya memakai cara-cara Demokrasi Barat, atau cara-cara Parlementer karena cara-cara Demokrasi dan Parlementer bukan cara-cara Islam atau bukan tabi’at Islam.

Sistem Parlementer adalah sistem kombinasi anatara Wahyu (yang datangnya dari Allah) dengan ra’yu (akal manusia), yang berarti ada semacam kompromi (tawar menawar) sehingga Talbis (menjadi samar) didalam hasil musyawarah antara Al Haq dan Al Batil. Padahal mencampur adukan antara yang Haq dan batil ini sangat di larang di dalam Islam (QS. Al Baqarah (2) : 42). Perlu kita pahami bersama bahwa musyawarah didalam Islam sebagaimana ditegaskan oleh Allah didalam QS. Asy Syuraa (42) ayat 38 dan QS. Ali Imran (3) ayat 159 ini, adalah musyawarah antara Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dengan para sahabatnya (yakni syuro orang beriman dengan orang beriman), bukan musyawarah antara orang beriman dengan orang kafir. Di samping itu musyawarah ini bukan musyawarah untuk menentukan Undang-undang, tetapi syuro dalam urusan yang menyangkut kepentingan orang banyak, taktik perang, dan lain sebagainya dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Undang-undang Allah dan Rasul-Nya). Dan menempatkan otoritas Pengaturan tertinggi kepada Sang Pencipta Manusia yakni Allah Subahanahu wata’ala.

Maka musyawarah didalam Islam ini sangat jauh berbeda dengan musyawarah ala Demokrasi Barat. Musyawarah didalam sistem Demokrasi ini adalah musyawarah bercampur baur antara orang beriman dengan orang kafir diatas landasan ra’yu (akal manusia) dan meletakan otoritas “Pengaturan Manusia” diatas tangan manusia secara mutlak sebagaimana kata Demokrasi ini berasal dari dua kata, yakni Demos (Rakyat) dan Kratos (Kekuasaan), jadi kekuasaan di tangan Rakyat (ditangan manusia) bukan meletakkan kekuasaan tertinggi di tangan Sang Pencipta manusia.

Maka didalam menegakkan syari’at Islam ditengah-tengah suatu sistem yang bukan Islam (didalam pemerintahan musyrikin Quraisy), Allah telah memberikan konsep-Nya yang tertera di dalam Al Qur’an, agar syari’at-Nya bisa tegak di atas bumi-Nya. Dan hal ini telah di contohkan dan dipraktekan oleh manusia pilihan-Nya yakni Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya, mulai ketika masih lemah di Mekah (periode Mekah) selama 13 tahun, sampai kepada periode Madinah (10 tahun), hingga akhirnya bisa menguasai Mekah kembali (futuh Mekah) dan akhirnya syari’at Islam bisa tegak secara sempurna.

Kepada ummat Islam didalam upaya nya untuk menegakkan syari’at Islam ditengah-tengah sistem yang tidak berdasarkan Islam haruslah mencontoh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabat dalam memperjuangkan tegaknya Islam di tengah sistem kafir Quraisy. Dan inilah sesungguhnya yang disebut manhaj an nubuwah. Jadi tidak malah mencontoh cara-cara Aristoteles dan kawan-kawannya melalui pola Demokrasi dan Parlementer. Mari kita renungi QS. Al Ahzab (33) ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

RASULULLAH DAN PARA SAHABAT JADIKAN SEBAGAI TELADAN

Mencontoh dan meneladani di sini bukan hanya mencontoh dan meneladani didalam ibadah ritual saja, tetapi mencontoh bagaimana caranya menegakkan Islam ini ditengah-tengah sistem yang tidak Islami. Sebagaimana yang digambarkan oleh Allah di dalam Qs. At Taubah (9) ayat 100.

            Selanjutnya, melalui sunatullah-Nya segala sesuatu tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan melalui tahapan-tahapannya secara berproses. Sebagai contoh proses kejadian manusia didalam rahim kandungan seorang ibu, ini juga melalui tahapan-tahapan dan berproses (QS. Al Mu’minun (23) ayat 13-14).

Kemudian proses keilmuan (turunya wahyu) juga berproses selama 23 tahun lamanya, diawali dengan ayat “Iqro bismirobbika ladzi Holaq…” (QS. Al Alaq (96) ayat 1), hingga ayat “Al yauma akmaltu lakum dienakum …” (QS. Al Maidah (5) : 03), melalui dua periode yang berbeda yakni periode Mekah dan Madinah (QS. Al Furqon (25) ayat 32 dan QS. Al Israa (17) ayat 106). Begitu pula tentang proses tegakknya syari’at Islam, Allah memberikan informasi didalam Al Qur’an tentang globalisasi tahapan-tahapannya, yaitu dengan hijrah dan jihad, sebagaimana Allah terangkan didalam QS. At Taubah (9) ayat 20, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

Jadi ketinggian derajat, kemenangan, Izzatul Islam wal muslimin ini akan digapai oleh kaum muslimin jika mengikuti tahapan-tahapan perjuangan yang sesuai dengan konsep Allah dan praktek atau contohnya melalui manusia pilihan-Nya yakni Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan telah di ikuti pula oleh para sahabatnya (QS. Al Anfal (8) ayat 74, QS. Al Baqarah (2) ayat 218). Maka upaya kaum muslimin didalam menegakkan syari’at Islam ditengah-tengah sistem pemerintahan yang tidak Islami adalah menggunakan pola Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya, yakni manhaj An Nubuwah (Iman, Hijrah dan Jihad).

Didalam perjalanan sejarah belum ada fakta sejarahnya bahwa syari’at Islam bisa tegak melalui jalan Demokrasi, Parlementer dan lain sebagainya (bukan cara-cara Islam) karena ini bukan tabi’at Islam. Bagaimana kita lihat perjuangan ummat Islam melalui partai SIS di Aljazair, mereka menang telak dua kali tetapi syari’at Islam hingga kini di Aljazair tidak kunjung tegak. Partai Najamudin di Turki, beberapa tahun yang lalu menang telak tetapi hingga saat ini syari”at Islam tidak bisa tegak di Turki. Begitu juga perjuangan Syeikh Hasan Al Bana melalui partai Ikhwanul Muslimin di Mesir juga pernah menang telak tetapi hingga saat ini di Mesir juga tidak kunjung tegak syari’at Islam.

Sejarah hendaknya dijadikan sebagai pengukuh hati, pelajaran, peringatan bagi kaum muslimin (QS. Huud (11) ayat 120). Semoga ummat Islam tidak terlena oleh jebakan kaum Yahudi dan Nashrani, masuk perangkap Demokrasi yang sangat dilarang oleh Allah Subahanahu wata’ala, (QS. An Nisa (4) ayat 140) dan kembali menegakkan syri’at Islam melalui jalan manhaj an nubuwah dibawah sistem kepemimpinan ummat Islam itu sendiri yaitu sistem Kekhalifahan (Khilafah ‘ala minhajiin nubuwah).

Wallahu a’lam bishowab !

Facebook Comments
Tags:

Related Posts