TEGAK KHILAFAH DAN SYARI’AT, BUMI PASTI SELAMAT

TARBIYAH 0

Tubagus Herzamli

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiadalah ilah (yang berhak disembah) selain Dia (Allah)”. (QS. Ali Imran:18).

Ketika orang menyatakan menerima Islam maka wajib atasnya bersyahadat (bersaksi). Syahadat berarti mengakui, membenarkan dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak di sembah, tidak ada yang berhak di ibadahi kecuali hanya kepada Allah SWT dan tidak boleh ada sekutu bagi Nya, dan tidak boleh juga meyakini kekuatan lain selain kekuatan Nya, serta tidak boleh berbuat andad (tandingan) bagi Nya.

Inilah Aqidah yang sahih yang harus dimiliki setiap orang yang telah menyatakan diri sebagai muslim. Maka kita berbaik sangka bahwa setiap orang Islam pasti mau dan rela kalau hanya menjadikan Allah sebagai sandaran, mau dan rela menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung, mau dan rela hanya menjadikan aturan dan Undang-undang Allah sebagai “Way of Life” nya. Dan kita berbaik sangka kepada mereka ummat Islam, yang kebetulan berada di instansi selain sistem Islam (instansi thagut) ketika disampaikan tentang Iqomatuddien (menegakkan Khilafah dan syari’at Islam) mereka mau dan rela, insya Allah.

Maka Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) senantiasa berdakwah menyampaikan Islam yang Haq kepada semua ummat manusia dengan misi “rahmatan lil ‘alamin”. Apakah mereka Yahudi, Nasrani dan non Islam lainnya, dakwah akan kebenaran Islam ini wajib disampaikan, termasuk orang Islam yang kebetulan berada di instansi thagut (instansi suatu pemerintahan yang tidak menjadikan aturan dan Undang-undang Allah sebagai pedoman) sekalipun. Tugas kita sebagai mana tugas para Nabi yakni menyampaikan risalah Allah yang tertera didalam Al Qur’an dan Hadits dengan jelas. Sebagaimana Allah berfirman, “Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”, (QS. Al Maidah : 99). “…maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan Jelas (terang)”, (QS. Al Maidah : 92).

Setelah kita menyampaikan dengan sejelas-jelasnya maka kita tawakal kepada Allah, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah apakah orang tersebut akan di sesatkan Nya atau bahkan akan di beri hidayah. Karena bukan hak kita memaksa orang, bahkan nabi sekalipun tidak bisa memberikan hidayah, sesungguhnya hidayah itu hak penuh milik Allah. Sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”, (QS. Al Qashash (28 ): 56). Periksa juga QS. Al Baqarah (2) : 272.

Di zaman Rasulullah SAW, beliau menugaskan sahabat Mush’ab bin Umair RA untuk menyampaikan dakwah Islam di Yastrib (Madinah) kepada orang-orang selain Islam, ada yang Yahudi dan Nasrani (mereka disebut ahli kitab). Sebagian ada yang menerima dan ada pula yang masih belum mau menerima. Mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam, mereka di bebaskan dengan keyakinan nya. Sahabat Mush’ab bin Umair meyakinkan kepada warga Yatsrib bahwa misi yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah wahyu dari Allah yang sebagian mereka meyakini di dalam kitab sebelumnya. Sehingga mereka mau menerima kepemimpinan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah didalam sistem An Nubuwah (kenabian) hingga Allah taqdirkan kemenangan atas Islam (Futuh Mekah). Dan ketika Islam futuh pada saat itu, Rasulullah SAW membebaskan semua pemeluk selain Islam yang rela dipimpin oleh kepemimpinan Islam untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya, karena tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Sebagaimana Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”, (QS. Al Baqarah (2) : 256).

Di zaman sekarang ini secara rasionil tentu harusnya lebih mudah lagi, yang kita dakwahi adalah orang yang sudah menerima Islam untuk di ajak menegakkan Islam yang saat ini belum tegak Khilafah sebagai wadah dan syari’at sebagai aturannya. Khusus nya di Indonesia ini jumlah penduduk yang hampir 250 juta jiwa dan hampir 90 % nya adalah muslim mempunyai potensi besar untuk ditegakkan Khilafah dan Syari’at Islam secara kaffah. Pertanyaan nya adalah apakah ummat Islam nya mau atau tidak mendukung tegaknya Khilafah dan Syari’ah ? inilah yang menjadi kunci.

Sunatullahnya, setiap misi menegakkan Dien harus adanya dukungan ummat. Maka mustahil Dienullah itu akan tegak kalau ummat Islam sendiri tidak mendukung tegaknya Dienul Islam. Maka misi Iqomatuddien yang Allah perintahkan di dalam ayat Nya harus dengan syarat “Bersatu” (dukungan penuh dari ummat Islam). Allah berfirman, “…Tegakkanlah Dien (Iqomatuddien) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya (wajib bersatu) …” (QS. Asy Syura (42) : 13).

Setiap perintah Allah pasti ada contoh tata cara didalam melaksanakannya, maka merealisasikan dari peritah Allah di atas maka Rasulullah SAW telah mencontohkan tata caranya sebagaimana dijelaskan di dalam hadits, “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu : Berjama’ah (bersatu di dalam sistem Islam). Mendengar & Tha’at (mengangkat seorang pemimpin Islam, dulu Nabi setelahnya adalah Khalifah Amirul /Mukminin). Hijrah (ke tempat yang mau menerima syari’at Islam jika diperlukan) dan Jihad fi sabilillah (berperang “Jihad Qital”, ketika ada orang yang tidak senang dan memerangi Khilafah yang sudah tegak syari’ah, apakah dari kalangan munafiqin, musyrikin atau bahkan orang kafir)…”. (HR.Ahmad).

Visi dan misi inilah yang harus kita sampaikan kepada para tokoh, ulama, cendikiawan muslim, ormas Islam, aparat pemerintah baik sipil dan militer agar mempunyai cara berfikir yang sama, satu kesepahaman sehingga bisa satu derap dan satu langkah untuk menegakkan Dien di dalam wadah Khilafah. Tugas para da’i Khilafatul Muslimin saat ini mencari simpul-simpulnya agar semua tokoh, ulama, ormas Islam, aparat serta seluruh ummat Islam yang mengaku beriman agar terikat didalam satu simpul atau satu ikatan Islam yakni bersatu didalam satu-satu nya sistem Islam yakni Kekhalifahan agar tegak syari’at secara kaffah, karena tidak ada khilaf dari para ulama akan hal ini. Dan berpecah belah serta bergolong golongan hanya akan membuat Islam ini menjadi hancur berkeping-keping tidak memiliki kekuatan dan ini faktanya sudah terjadi dan bisa di pikirkan secara rasional dewasa ini, dan secara dalil qhot’i Allah sangat melarang berpecah belah didalam firqah-firqah (QS. Ar Rum : 31-32, QS. Ali Imran 103 dan 105, QS. Asy Syura : 13).

Saat ini ketiadaan Khilafah dan tidak tegaknya syari’at Islam secara kaffah telah menjadikan ummat Islam ini rusak disegala dimensi kehidupan, baik secara materil, kita lihat alamnya yang diambil secara brutal oleh pihak asing, bencana alam dimana-mana karena ketidak seimbangan dalam pengaturannya. Begitu juga secara moril, budaya barat telah diadopsi oleh ummat Islam, sex bebas, perselingkuhan, perzinahan, pencurian (korupsi), perampokan dan murahnya nyawa seorang muslim. Allah berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, (QS Ar Ruum : 41).

Maka kerusakan di segala dimensi kehidupan inilah akibat tidak tegaknya Khilafah dan syari’ah Islam secara kaffah yang mengundang azab dari Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”, (QS. Al A’raf (7) : 96).

Semoga ummat Islam yang ada di Indonesia ini khususnya yang mayoritas baik dari kalangan tokoh dan ulamanya, ormas dan harakahnya, aparat pemerintah baik sipil dan militernya mau menyadari hal ini dan tidak ada satupun kebahagiaan yang hakiki selain kebahagian di akhirat nanti, kebahagiaan di akhirat hanya akan di raih manakala kita hanya mendengar dan taat kepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri mingkum yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadits. Tegakkan Khilafah dan syari’at Islam secara kaffah maka pasti bumi ini akan selamat, insya Allah. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts