Tarqiyah
ANTARA GENERASI PENGGANTI
Dan Yang Diganti Dalam Lintasan Sejarah
oleh : Ustadz. Ahmad Shobirin

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
(Qs. Al Maa’idah : 54)
Generasi pengganti
adalah generasi pilihan
Allah Swt.
Ayat diatas memberi kan isyarat kepada orang-orang yang beriman, bahwa Allah akan mendatangkan suatu kaum yang lebih baik sebagai kaum peng- ganti atau generasi pilihan apabila gejala-gejala kemurtadan telah muncul.
Sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa fenomena ummat Islam pada hari ini, sedikit demi sedikit telah bergeser meninggalkan Al-Qur’an sebagai sistem hidup yang datangnya dari sang pen- ciptanya. Mereka asyik mem pelajari budaya, filsafat serta isme-isme yang datangnya dari barat dan timur, setelah itu mereka tegakkan gaya hidup ala barat maupun timur. Yang bobrok dan tak bermoral, dengan berselimutkan slogan (modereni- sasi dan kebebasan).
Inilah diantara kejala-gejala kemurtadan yang telah menimpa kaum muslimin hari ini. Gejala-gejalah lain yang lebih parah lagi yaitu kaburnya pemahaman al Wala wal Baro’ bagi kaum muslimin, dimana kaum muslimin pada hari ini telah banyak memberikan wala nya kepada kekafiran (thoghut) dan meninggalkan kepemim- pinan dari kalangan orang-orang yang beriman.
Kaum muslimin pada hari ini telah banyak yang tidak faham kemana Wala’ yang seha- rusnya mereka berikan dan ke mana Baro’ yang seharusnya mereka arahkan. Dampak yang lebih parah lagi, akibat pengaruh dominasi ajaran dan budaya dari luar/barat itu bahkan ada di antara yang mengaku sebagai ummat Islam yaitu penganut Islam Liberal yang sudah tidak percaya lagi bahwa Al-Qur’an itu wahyu suci dari Allah kepada Rasulullah Muhammad Saw, melainkan merupakan produk budaya atau Ra’yu. Ini berdasar- kan hasil penelitian departemen Agama, pada tanggal 14 November 2006 melalui badan Litbang dan Diklatnya di sejumlah kota-kota besar di Indonesia, eperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makasar. ( Sabili No.8 tertanggal 8/11/1429 H).
Sebagai akibat keasikan ummat Islam hari ini, mempelajari budaya, filsafat, serta isme-isme yang datangnya dari barat, bahkan doktor-doktor bidang studi Islam dikampus-kampus Islam, mereka kebanya- kan lulusan pusat-pusat studi Islam Amerika (orang Islam belajar Islam kepada Musuh-musuh Islam). Ini semkin berjubel memenuhi kampus-kampus berlebel Islam yang perlahan tetapi meyakinkan mulai menggusur peran para dosen alumni Timur Tengah yaitu orang-orang Islam yang belajar Islam kepada orang-orang Islam itu sendiri.
Bertitik tolak dari ini semua, dimana ummat Islam dijaring dan digiring kedalam sistem yang rusak, maka gejala riddah (kemurtadan), kini semakin nam- pak tumbuh dengan suburnya.
Sejarah telah membuktikan bahwa generasi kaum muslimin pada hari ini, dimana-mana dibelahan bumi, telah banyak menjadi penegak aturan-aturan thoghut (aturan sekuler). Dan juga pemimpin-pemimpin sekuler dengan meninggalkan sistem kepemimpinan dari kalangan orang-orang yang beriman itu sendiri. Begitu pula perkembangan “ liberalisasi Islam” itu sendiri terus bergulir, baik di tengah-tengah masyarakat melalui media massa maupun yang secara sistimatis yang di kem bangkan melalui perguruan-perguruan tinggi Islam, kejadian di kampus IAIN Surabaya, seorang maha- sisiwa Islam dengan seenaknya melecehkan Al-Qur’an didepan dosennya yaitu Prof. Dr. HM. Roem Rowi dengan menyatakan bahwa ia merasa yakin bahwa “ Al-Qur’an itu bukan lagi kitab suci “ ini sebagai mana yang dilansirkan oleh majalah Sabili edisi 21 /7/1429 H . No 1.
Kalau pernyataan ini keluar dari lisan orang-orang kafir, sebenarnya wajar-wajar saja. Tapi pernyataan ini keluar dari lisan orang yang mengku dirinya beragama Islam. Akibat gejala Riddah (kemurtadan) yang sudah tumbuh subur di kalangan kaum muslimin hari ini, maka kaum kafir hari ini tidak perlu repot-repot lagi menghadapi Islam, karena kader-kader mereka hari ini yakni para intelek- tual muslim, yang pikirannya telah teracuni oleh kaum orentalis sudah cukup banyak.
Penyebab yang sangat mendasar dari gejala Riddah (kemurtadan) ini, tidah lain karena kaum muslimin hari ini udah tidak tahu terhadap sistem kepemimpinan Islamnya (sistem Khilafah) sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah dalam bebe- rapa hadistnya. (HR. Muslim dan HR. Ahmad), dan kaum muslimin dimana-mana rela untuk memberikan keta’atan dan rela untuk menjadi pimpinan sekuler padahal yang diperjuangkan dan ditegak kan bukan Al-Qur’an dan As sunnah.
Sebenarnya orang-orang yang beriman tidak boleh fakum dalam keta’atan terhadap kepemimpinan dari kalangan orang-orang beriman, dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Ini ditegaskan oleh Allah dalam (Qs. An Nisaa : 59) yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Begitu pula Rasulullah Saw dalam Hr. Buchari dan Muslim dari Ibnu Umar ra berkata : ‘seorang muslim wajib mendengar dan ta’at pada Amirnya dalam apa yang disetujui maupun yang tidak disetujui, kecuali jika diperintahkan ma’shiyat. Maka apabila diperintahkan ma’shiyat, tidak wajib mendengar dan tidak wajib ta’at”
Dalam hadist lain dari ummil Hashim ra berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “wahai sekalian manusia takut- lah kamu kepada munusia takutlah kamu kepada Allah dan jika diperintahkan ke padamu oleh seorang hamba sahaya bangsa Habsyi yang rumpung hidungnya, maka kamu dengarlah dan kamu ta’atilah, selama ia menegakkan kitab Allah (Al-Qur’an) bagi kamu sekalian” (HR. Buchari dan At Tharmidzi).
Untuk tegaknya suatu ajaran, diperlukan kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran tersebut, (ajaran komunis, Kapitalis, kristen, begitu pula ajaran Islam). Maka kalau suatu ajaran sudah tidak ada pemimpin yang sesuai dengan ajaran ter sebut dan penganut-penganutnya berke pemimpinan yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran tersebut, maka ajarannya akan menjadi rusak. Dan penganut-penganut ajaran tersebut pada umumnya menganut ajaran yang udah tidak sesuai dengan ajaran aslinya, se- bagaimana kita lihat fenomena ummat Islam pada hari ini telah banyak menjadi ummat WESTOMANIA alias pemuja segala yang berasal dari barat dan berislam hanya dari Dzikir- Sholat - Shoum dan Haji atau dengan kata lain berislam hanya dari sisi Ibadah-ibadah ritual seremonial belaka sedangkan dalam ber hukum dan ber kepemim pinan, konsep-konsep orang-orang barat atau konsep orang-orang kafir itulah yang lebih baik dari konsepnya Allah Swt.
Fenomena ummat Islam sebagai mana yang kita lihat pada hari ini, mulai dari ummat Islam yang menjadi penegak aturan-aturan thoghut sampai kepada menjadikan kaum thoghut/kaum kafirin sebagai wala’nya yang seharusnya ber- sikap baro’ dan yang lebih eronis lagi ada orang yang mengaku beragama Islam tapi sudah tidak percaya lagi bahwa Al-Qur’an itu merupakan wahyu suci yang datang nya dariAllah Swt.
Kesemuanya ini merupakan tanda-tanda/gejala-gejala Riddah (pemur tadan) yang telah mulai muncul dalam komunitas kaum muslimin. Maka sesuai dengan janji dan penegasan Allah dalam AL-Qur’an (QS. Al Maa’idah (5) : 54) yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberian-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
Tatkala fenomena ini telah mun- cul Allah berjanji akan mendatangkan kaum pengganti dengan kaum yang lebih baik untuk menggantikan kaum yang Plin Plan dan bingung yang diantara ciri-cirinya sebagai berikut :
Pertama :
mereka ini adalah kumpulan hamba-hamba Allah yang betul-betul dicintai Allah dan merekapun sangat men cintai Allah, mereka tidak pernah bergaser dari sistem Allah dan hanyalah Allah-Rasulnya dan orang-orang yang ber iman yang mereka jadikan Wala’ (Qs. Al Maa’ idah : 59). Sedangkan terhadap kaum thoghut atau kaum kafirin mereka bersikap Baro’ (Qs. An Nahl : 36 - Qs. Al Maa’idah : 51). Seluruh aktifitas hidupnya ditegakkan atas dasar niat, metode serta tujuan yang satu yaitu hanya ingin mencari ridho Allah Swt.
Kedua :
jalinan hubungan kasih sayang sesama sudara alam jama’ah atau dalam sistem kepemimpinan Islam betul-betul terwujud diatas dasar ukhuwwah Islamiy- yah, senasip dan sependeritaan dan seperjuang an,satu derap satulang kah, satu komando dibawa ketaatan terhadap Ulil Amri minkum. Satu sama lain saling kuat menguatkan bagaikan bangunan tubuh yang satu, manakala ada bagian tubuh yang sakit maka akan dirasakan yang lainnya.
Ketiga :
mereka senantiasa berjihad dijalan Allah, kegiatan hidupnya senantiasa dihabiskan dalam rangka hanya mencari muka kepada Allah Swt / mencari ridho-Nya. Menegakkan kalimat Allah, mulai dari berjihad dalam dakwah sampai jihad Qital kalau sudah waktunya. Ini sebagai mana diisyaratkan oleh Allah dalam (Qs.Al Hujuraat : 15) yang Artinya : “Sesung guhnya orang-orang yang ber- iman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Keempat :
Mereka tidak pernah bergiming terhadap celaan dan rintangan yang berada didepannya. Mereka senaniasa istiqomah dalam prinsip sampai mereka menghadap kepada Allah Swt. Dalam (Qs. Fushsilat : 30) “Sesungguhnya orang-orang yang meng atakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemu- dian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
Sebagai kesimpulan : yang menjadi suatu pertanyaan sebagai bahan untropeksi bagi kita , dimanakah posisi kita pada hari ini? Kita sebagai generasi pengganti ataukah generasi yang diganti ? Semoga kita termasuk generasi pengganti. Amin
source:alkhilafahmj@yahoo.co.id


Last edited: 2009-12-04 Time: 07:15:07
















