Wgg
TAFAQUR

PARTAI ISLAM

Yang Terkurung Dalam Penjara Sekularisme

oleh : Rafli Alkatiri

 

A

 

Tidak ada pertentangan peradaban antara Barat dan Islam!

Demikian ide yang sering dilontarkan para pengamat Barat (Sekuler).
Yang terjadi sesungguhnya adalah

pertentangan
Dalam Islam sendiri;


Sekularisme itu ibarat pohon, mempunyai akar tunggang yang sangat kuat dan menjadi sumber segala masalah (pemisahan agama dari kehidupan).
Pemahaman yang rusak, serta tidak selaras dengan fitrah manusia. Disebut tak sesuai fitrah, karena seku larisme telah menafikan naluri beragama (gharîzah tadayyun), sebagai bagian dari fitrah manusia. Padahal naluri beragama secara natural mengakui kelemahan dan ketidak mampuan diri dalam mengatur kehidupan.
Kerusakan pada asas yang menda sari Kapitalisme Barat inilah yang mengaki batkan rusaknya segala aspek kehidupan praktis manusia.” Ideologi kapitalisme adalah ideologi yang mengakui adanya pencipta (Tuhan) tapi tidak mengakui atu- ran-aturan kehidupan dari pencipta-Nya.
Berlandaskan kaedah berfikir ini, mereka berpendapat bahwa manusia ber hak membuat UU/peraturan hidupnya. Peraturan ini dibuat melalui sebuah meka nisme sistem Demokrasi dengan memilih para wakil rakyat yang akan duduk di lembaga legislatif, yang selanjutnya UU yang dihasilkan akan dilaksanakan oleh eksekutif dengan badan pengawasan yudikatifnya .
Sehingga sangatlah jelas bahwa semua parpol berasas Islam terjebak dalam penjara sekularisme. Sekalipun tampak "Islami", hal itu cuma sebatas di atas kertas saja. Penerapkan syareat Islam hanya sekadar slogan-slogan belaka walhasil, Islam lagi-lagi hanya muncul sebatas substansinya. Itulah yang kebanya kan diusung parpol Islam. Dengan kata lain, yang diperjuangkan hanyalah ter wujudnya nilai-nilai moral dan kebaikan semata ; apa pun bentuk negaranya tidak perlu dipersoalkan. Bahkan ada yang me- nganggap bentuk negara ini sudah final. Yang penting nilai-nilai kebaikan, keadi lan, kejujuran dan lain-lain bisa Jadi, yang ada hanya sebatas perjuangan moral dan etika yang dibungkus dengan kemasan Islam. Siapapun pejabat yang memerintah, yang penting bisa merefleksikan nilai-nilai Islam, yaitu amanah dan berakhlaqul karimah. Padahal sudah terbukti, dalam sistem sekuler, nilai-nilai di atas tidak pernah tercapai secara hakiki. Pejabat sebersih apapun, apa dia seorang kiyai pasti akan terciprat kotornya sistem.
Keraguan para tokoh Islam dan elit politik dalam mengusung ideologi Islam tergambar, misalnya, dalam ungka pan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin. Ia bahkan menilai gagasan syariah Islam dan Khilafah sebagai produk yang tidak laku di masyarakat.
Bahkan partai politik berbasis massa kader Islam seperti Partai Keadilan sejahtera (PKS) pun, tidak secara terbuka memperjuangkan syariah Islam. Tokoh Zulkiflimansyah mengatakan PKS tidak jualan syariah. Padahal tadinya banyak umat Islam yang berharap PKS mampu menjadi lokomotif bagi kebangkitan Islam, ideologi mereka terkurung dalam Penjara Sekularisme
Benar-benar mereka tidak bisa diharapkan untuk kebangkitan umat Islam. Parpol seperti ini, jelas tak mungkin memperjuangkan syariah Islam karena kadernya sendiri orang yang phobi ter hadap syariah Islam.
Parpol Islam lain mengklaim sebagai wadah perjuangan untuk me wujudkan masyarakat Indonesia yang Islami, sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi politik umat Islam dalam upaya memper kuat demokrasi. Ya, lagi-lagi yang diper juangkan adalah Demokrasi. Bahkan dengan sifatnya yang terbuka, calegnya pun ada yang beragama Katolik atau bahkan berhaluan sosialis/kiri. Bagaimana mungkin tokoh seperti ini akan diharap kan menyuarakan syariah Islam?
Asas Islam kerap pula muncul sebatas simbol, seperti gambar lima bintang yang menunjukkan rukun Islam yang lima ; gambar Ka'bah sebagai kiblat umat Islam; gambar bulan-bintang yang identik dengan masjid ; dan seterusnya.
Ada pula yang hanya istilah-istilahnya saja yang diganti dengan bahasa Arab. Islam masih dianggap kompatibel dengan Demokrasi sehingga itulah yang diperjuangkan. Misalnya, DPR dianggap sebagai majelis umat karena ada aspek musyawarah. Presiden tak ubahnya khalifah sebagai pemimpin tertinggi umat hingga keluar fatwa bahwa memilih presiden wajib hukumnya, haram bagi yang golput, demikian seterusnya.
Lebih aneh lagi, tak sedikit parpol yang bersekutu dengan tokoh-tokoh sekular. Bahkan karena begitu tingginya keinginan untuk dianggap inklusif, ber kolaborasi dengan parpol sekulerpun tak masalah." Di kalangan pekerja sosial, syariah Islam sekadar mengurusi zakat, infak dan sedekah guna pemberdayaan umat. Di kalangan perempuan, syariah Islam identik dengan kewajiban jilbab dan kebolehan poligami. Itu saja. Akhirnya, tak sedikit masyarakat yang masih salah kaprah dengan syariah Islam. Bahkan sebagian dari mereka malah phobi terhadap syariah Islam.
Padahal penerapan syare’at Islam merupakan kewajiban mutlak yang tidak bisa ditwar-tawar lagi dan praktek pelak sanaannya hanya dalam sistem Khilafah sebagai satu-satunya wadah yang benar yang dicontohkan Rasulullah Saw. bukan melalui Partai Politik atau organisasi Politik Islam lainnya. Waulahu ‘alam (Berbagai sumbr.-Rf)


source:alkhilafahmj@yahoo.co.id

 

k

 

ث

ث

 

ث

 

Last edited: 2009-12-04 Time: 07:15:07