Ta'dib Khos Wilayah Sumbawa Barat - Ust Zulkifli Rahman
Ta'dib Khos Wilayah Sumbawa Barat - Ust Zulkifli Rahman

Ta’dibul Khos Khilafatul Muslimin Wilayah Sumbawa Barat, Materi Iman-Hijrah-Jihad

Sumbawa, 14-15 Jumadil Ula 1435 H (12-13/03). Khilafatul Muslimin Wilayah Sumbawa Barat menjadwalkan penyelenggaraan acara Ta’dibul Khos bersama Khalifah/ Amirul Mu’minin Abdul Qadir Hasan Baraja’.

Berikut ini adalah kutipan materi Iman-Hijrah-Jihad yang disampaikan oleh Amir Daulah Khilafatul Muslimin Yang Berpusat Di Sumbawa, Ustad Zulkifli Rahman.


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Qs. Al Anfal: 72-75).

Dalam rentetan ayat-ayat diatas diulang oleh Allah swt sebanyak tiga kali kata-kata; Iman, Hijrah dan Jihad. Selain itu ada tambahan kata:
” وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا ”

“Orang-orang yang menyediakan tempat kediaman dan pertolongan”

Hal ini menunjukkan betapa besar nilai dari amal-amal tersebut, bahkan mereka disebut oleh Allah swt dengan kalimat:

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيم

“Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia”

Iman adalah keyakinan kuat dalam hati yang tiada tercampur oleh keraguan. Iman yang kuat tanpa ragu ini menuntut kepada kita prakteknya, sehingga iman itu ada buktinya. Bukti iman yang benar adalah kesediaan berhijrah baik hijrah maknawiyyah maupun makkaniyyah, sebagaimana ayat tersebut diatas Allah swt memuji ketinggian nilai muhajirin dengan menjanjikan mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). Selain itu bagi mereka yang tidak mau berhijrah setelah datangnya perintah, maka Allah swt menggambarkan nasib mereka diakhirat dalam firman-Nya:

نَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs. An Nisaa’: 97).

Hijrah makkaniyah dalam siroh Nabi pernah dilakukan ke Habasyah (Abisinia) untuk menemui Raja Najasyi yang dikenal adil, yang tiada orang didzalimi di depannya. Namun hijrah ke Habasyah tidak jua membuahkan hasil meskipun Raja Najasyi sendiri dapat hidayah masuk Islam. Lalu Rasulullah sendiri mencoba kemungkinan hijrah ke Tho’if ditemani oleh Zaid bin Haritsah (pembantu Rasulullah), di Tho’if Rasulullah yang membawa misi kebenaran ini bukannya diterima baik malah dilempari batu oleh orang-orang kurang akal disana sampai para malaikat menawarkan bantuan dengan menimpakan gunung keatas perkampungan kaum tersebut.

Sampai kemudian ada peluang hijrah ke Yatsrib yang dipelopori oleh Mush’ab bin Umair pasca baiat Aqobah I. Di Yatsrib masyarakatnya menerima Islam secara mayoritas bahkan militan, siap menerima, membela dan berjuang menegakkan Islam bersama Rasulullah saw. Dengan kondisi seperti itu berbondong-bondonglah kaum Muslimin melakukan hijrah ke tanah harapan baru, Yatsrib hingga tiba masa bagi Rasulullah saw sendiri, beliau berhijrah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq yang memang ditahan oleh Rasulullah untuk tidak segera hijrah dulu bersama gelombang sebelumnya.

Di Yatsrib-lah aturan Islam disemaikan, hukum ditegakkan dan jihad pun dilaksanakan, baik jihad defensif maupun ofensif. Masyarakat Islam dibangun sehingga peradaban Islam terwujud laksana mercusuar yang memancarkan cahaya petunjuk sebagai pedoman bagi ummat manusia dalam mengarungi samudera kehidupan. Di Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah lah kekuasaan Islam tegak sebagai sarana tegaknya syariah. Kekuasaan ini didapat atas dukungan ummat yang secara mayoritas menerima kepemimpinan Rasulullah atas diri mereka.

Tugas setiap kita saat ini adalah menyiapkan tempat yang layak untuk hijrah diseluruh negeri dan perwakilan yang ada semaksimal kemampuan, dengan menggiatkan dakwah kepada aqidah yang benar dan menghimpun ummat dalam Al Jamaah, Khilafah Islamiyyah. [AMS/NP]

Facebook Comments

Related Posts