Ta'dib Khos Wilayah Sumbawa Barat Bersama Khalifah
Ta'dib Khos Wilayah Sumbawa Barat Bersama Khalifah

TA’DIBUL KHOS KHILAFATUL MUSLIMIN WILAYAH SUMBAWA BARAT BERSAMA KHOLIFAH

Sumbawa, 14-15 Jumadil Ula 1435 H (12-13/03). Khilafatul Muslimin Wilayah Sumbawa Barat menjadwalkan penyelenggaraan acara Ta’dibul Khos bersama Khalifah/ Amirul Mu’minin Abdul Qadir Hasan Baraja’.

Berikut ini adalah kutipan materi pertama yang disampaikan oleh Khalifah, terkait kewajiban mendengar dan ta’at dalam struktural kekhalifahan Islam.

Pada dasarnya tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah baik privat maupun sosial yang terangkum dalam wujud ketaatan kepada tiga unsur; taat kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa: 59).

Sejak sistem An Nubuwwah ketaatan kepada Rasulullah pada dasarnya adalah ketaatan kepada kerasulan dan kenabiannya bukan mentatati pribadi Muhammad semata, demikian juga mentaati Ulil Amri hakikatnya adalah mentaati posisinya sebagai pemimpin yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah bukan mentaati pribadi Ulil Amri semata.

(31) مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي (وفى رواية لإبن ماجة ): وَ مَنْ أَطَاعَ اْلإِمَامَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى اْلإِمَامَ فَقَدْ عَصَانِي (31)

“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia taat kepada Allah dan barangsiapa yang memak siati aku maka sungguh ia telah memaksiati Allah. Barangsiapa yang mentaati amirku maka sungguh ia telah mentaati aku dan barangsiapa yang me maksiati amirku maka sungguh ia telah memaksiati Aku.” (HR.Al-Bukhari dari Abi Hurairah, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/77. Dalam Riwayat Ibnu Majah): “Dan barangsiapa yang mentaati imam maka sungguh ia telah mentaatiku dan barang siapa yang memaksiati imam maka sung guh ia telah memaksiatiku.” (HR.Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah dalam bab Tha’atul Imam: II/201)

Oleh karena itu ketaatan ini tidak ada hubungan dengan ciri fisik, latar belakang pendidikan dan tingkat ilmu seorang pemimpin, tapi semata karena ada perintah Allah swt untuk mentaati mereka selama bukan bernilai maksiyat kepada Allah dan Rasul Nya.Rasulullah saw bersabda:

(34) إِنْ أُمِرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوْا لَهُ وَأَطِيْعُوْا مَا قَادَكُمْ بِكِتَابِ.

“Sekalipun kamu dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang rumpung hidungnya, wajib kamu men dengar dan mentaatinya selama ia memimpin kamu dengan Kitabullah.” (HR.Ibnu Majah dari Ummul Hushain dalam bab Tha’atul Imam: II/201, Muslim, Shahih Muslim: II/130, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi: IV/181 No.1706. Lafadz Ibnu Majah)

Nilai sebuah struktural dalam kewibawaannya sangat tinggi hingga bernilai pengorbanan jiwa (nyawa), sehingga kalau sudah merupakan kebijakan struktural harus dipertanggung jawabkan secara moral dalam wujud amal nyata dan dilaksanakan secara disiplin sehingga nampak bahwa struktural itu ada harganya dan pantas dihormati oleh manusia.

Dalam membangun struktural kendatipun telah terbagi dalam berbagai perwakilan dan kewenangannya tetap saja kebijakan umum berlaku secara terpusat atau sentral. Karena prinsip monoleadership adalah ketaatan kepada kepemimpinan tunggal dan setiap kebijakan parsial dalam suatu perwakilan tidak boleh bertentangan dengan kebijakan pusat yang sudah berlaku umum. Bisa dibayangkan begitu rusaknya struktural kalau setiap level kepemimpinan membuat aturan-aturan sendiri untuk dilaksanakan sendiri-sendiri, apalagi aturan yang dibuat untuk diberlakukan secara umum pada struktural pada level dibawahnya.

Dalam kenyataan sejarah, kedisiplinan struktural adalah kunci kemenangan atau kekalahan, kehancuran atau kejayaan sebuah kepemimpinan, baik itu kebenaran maupun kebathilan. Oleh karenanya penegakkan sistem Khilafah harus ditopang oleh tradisi ketaatan kepada kepemimpinan, hidup dalam poros jamaah dan selalu mengukur gerak langkahnya sesuai arahan jamaah yang berlandaskan Al Quran dan sunnah.

Maka berbagai program jamaah dibuat sebagai pendidikan taat, sebagaimana ribath maktab dan lain-lain. Ketika melaksanakan kewajiban ribath, tidak dapat diukur dengan wujud fisik maktab dan harga-harga barang yang ada di dalamnya, tapi harus dinilai sebagai setinggi-tingginya taat kepada Ulil Amri, sehingga betul-betul struktural jamaah punya wibawa.

Alhamdullilah atas rahmat Allah kita telah diberi kemampuan menyusun struktural jamaah yang benar sesuai sunnah. Hal ini bukan karena kemampuan pribadi seseorang tapi memang karena adanya bimbingan Allah swt. Saat ini bukannya tidak ada yang bercita-cita membangun kekhalifahan tapi menyusun struktural untuk diimplementasikan belum bisa dilakukan. Atas rahmat Allah swt pula berbagai upaya perusakan atas jamaah ini masih dapat diantisipasi dengan baik dan hal ini bisa terus dijaga selama ketaatan kepada kepemimpinan struktural itu bisa tetap kuat. Maka marilah kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban kita sebagai bagian dari jamaah ini.  [AMS/NP]

Facebook Comments

Related Posts