SYEIKH ABU AHMAD AFIFF, TIDAK MUNGKIN SYARI’AT TEGAK TANPA KHILAFAH

            Syekh Abu Ahmad Afiff, seorang tokoh, Ulama yang dikenal khususnya di daerah Bogor, Jawa Barat, Jogjakarta dan bahkan Indonesia. Banyak membina Ormas, Majelis Taklim, pemateri tetap di salah satu radio dan juga mesjid Mujahidin Jogjakarta, juga sebagai penasehat di kalangan pemerintahan terutama kepada Walikota Bogor bpk. Bima Arya.

            Kali ini pimpinan redaksi majalah al-khilafah, Ust. Mohammad Mukhliansyah beserta salah satu staf redaksi bersilaturahim ke rumah beliau di Warung Jambu, Bogor pada 14 Sya’ban 1437 H (21/05/16) dalam rangka dafis (dakwah fisabilillah). Sekedar beramah tamah dan membahas Iqomatuddien khususnya dalam bingkai Kekhalifahan Islam.

            “Kondisi ummat Islam saat ini sungguh memprihatinkan, sangat lemah dan sering terdzhalimi. Dan sepertinya ummat Islam ini hanya dijadikan garda terdepan untuk melawan penjajah, Komunis dan setelah kemenangannya justru bukan Islam yang muncul. Sebagaimana sahabat di FPI suka mendengungkan, benar bahwa  “Indonesia Merdeka” ini dengan pekikan “Allahu Akbar”. Tetapi tetap saja saat ini kenyataannya bukan Islam yang muncul”. Malah yang berkembang faham Barat seperti sekularisme, Kapitalisme, Liberalisme bahkan Islam tidak bisa berkembang. Apa ummat Islam ini tidak punya Izzah (kemuliaan)?, mungkin kami meminta pendapat Abu mengenai hal ini”, ujar pimred sebagai pembuka ramah tamah ini.

            “Saya teringat hadits, “Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radiallahu anhuma berkata, “Manusia bertanya kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam  tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku …dst”.  Kemudian “Beliau Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Kemudian hadits, dari Tsauban Radiallahu anhuma berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda,  “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka …” (HR. Abu Daud). Hadits pembuka yang diutarakan oleh Habib yang juga sebagai Pimpinan Majelis Syuro FPI kota Bogor.

            “Dari seluruh negara mayoritas muslim yang belum kemasukan faham Barat secara full namun juga sudah di unjung tanduk, salah satunya adalah Indonesia. Di Indonesia mayoritas muslim dan terbesar di dunia, tetapi tidak lebih dari 5 % saja yang bertahan dalam Iqomatuddien. Kita ini sesungguhnya sudah “Kuntum ‘ala syafa hufrotimminanaar” (berada di tepi jurang Neraka), akibat dari perpecahan yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala di QS. Ali Imran ayat 103. Maka kata Allah Subhanahu wata’ala, “Fa ‘angkodzakum minha” (Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkanmu daripadanya), kalau kita kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, ya sistem Khilafah ini”. Maka kita seharusnya tunduk dan patuh pada satu imam (Khalifah). Kalau saat ini imamnya sangat banyak sekali, ini bagaimana?”, tegas beliau melanjutkan.

            Kembali menurut Syeikh Abu Ahmad Afiff yang dikenal dikalangan Habib ini, “maka kata Allah Subhanahu wata’ala “Intan shurullaha yanshurukum” (Jika kita menolong Dienullah, pasti Allah menolong kita), maka saat ini hidup atau mati kita harus bergerak dan berjuang menegakkan Dienullah ini. Cara yang pertama menghimpun ukhuwah (mengajak ummat Islam ini bersatu) ke dalam bingkai Kekhalifahan Islam ini tentunya (sambil menunjukan majalah al khilafah yang diberikan oleh redaksi). Khilafah ini ajaran dan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala, ini dulu kita perjuangkan baru kata Allah Subhanahu wata’ala sedikit bisa mengalahkan yang banyak, (QS. Al Anfal : 65). Dan Tidak mungkin tegaknya syari’at Islam secara kaaffah tanpa Khilafah.

            “Seharusnya kita bertanya, apa yang telah kita korbankan baik harta, tenaga dan bahkan jiwa untuk penegakkan Dienullah ini”, saat ini banyak ulama, bahkan Kiayi dan ustad-ustad yang belum berfikir sampai kesana”. Kita belum bisa men-Tarbiyyah mereka saat ini, karena apa? belum bersatunya ummat Islam ini didalam Kekhalifahan, “Kullu hidzbim bima ladaihim faarihuun” artinya “setiap golongan merasa bangga dengan golongannya” (QS. Ar Rum (32). Maka harusnya dari Muhamadiyyah kita bersatu, dari NU kita bersatu, dari HTI kita bersatu, dari yang lainnya kita bersatu dalam Kekhalifahan ini. Hilangkan perbedaan masalah khilafiyah, dari dulu sampai sekarang gara-gara hal ini kita terpecah, hal ini sudah disekenariokan oleh Barat (Kristen dan Yahudi), papar Syeikh yang merupakan sahabat baik dari Habib Rizieq Syihab ketua FPI.

            “Pemikiran Abu dari yang dipaparkan ini masya Allah, jika mayoritas ulama berfikiran begini adanya, mungkin ummat Islam ini sangat mudah di persatukan, tetapi yang berfikiran seperti Abu ini mungkin tidak banyak. Hal inilah yang kita inginkan untuk memperluas pola pikir yang sama tentang pentingnya persatuan ummat dalam bingkai Kekhalifahan Islam. Dengan memperluas pemikiran yang sama ini nantinya akan kita rajut ukhuwah Islamiyyah dan persatuan di dalam satu-satunya sistem Islam yaitu Khilafah Islamiyyah. Mungkin bagaimana menurut Abu ? kembali Ust. Mohammad Mukhliansyah mengajukan pemikirannya.

            “Hal itu sudah sangat tepat, dan ini harus ada promotor dan pelopornya sekarang ini, harus ada penggeraknya. Berkenaan dengan kepemimpinan di Jakarta sampai ada ummat Islam yang mempunyai pemikiran, “Lebih baik pemimpin kafir tapi baik, daripada pemimpin Islam tetapi tidak baik”, ini kan pemikiran setan. Kita dengan teman-teman FPI sedang berjuang agar pemimpin Jakarta harus Muslim, andaikan hal ini berhasil tetapi nanti akan muncul lagi dan pasti akan muncul lagi karena ketiadaan Khilafah Islamiyyah!” tegas Syeikh yang juga sahabat dekat Muhammad Khathat dari FUI.

            “Jadi intinya bagaimana kita mempersiapkan kekuatan ummat Islam ini yaitu dengan bersatu didalam Kekhalifahan yang merupakan satu-satunya sistem Islam, bukan bagaimana kita mengurusi sistem orang lain, berusaha mengurus mereka tetapi tidak ada habis-habisnya karena  sistem mereka apa saja bisa terjadi, mereka menghalalkan segala cara”. Mungkin seperti ini perjuangan ummat Islam seharusnya Abu! Tegas pimpinan redaksi majalah al khilafah.

            “Ya betul. Mungkin upaya kita ke depan  harus kumpul dan duduk bersama. Jadi saya sependapat dengan ustad, mari kita dengan bismillah, himpun semua kekuatan ummat Islam ini dengan mengajak duduk bersama, mungkin disuatu tempat untuk menyamakan persepsi dan satu suara mari kita ber Khilafah”. Tegas Syeikh Abu Ahmad Afiff.

            “Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ (Khalifah, red) telah mempelopori persatuan ummat Islam ini dalam kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin). Namun untuk kesempurnaan mungkin masih jauh, namanya mempelopori, tetapi kita bersyukur ada yang mau mempelopori. Dengan dipeloporinya oleh beliau ketika tahun 2000, dengan menyuruh Irfan S Awwas mengadakan Kongres Mujahidin yang intinya kita ingin menegakkan Khilafah bukan yang lain. Hadir sekitar 2000 orang diantaranya ada Mansyur Suryanegara, Deliar Noor, Abdurahman Basalamah, Ir. Syahirul Alim, Ustad Abu Bakar Ba’asyir, Abu jibril dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Acara tiga hari tiga malam ini malah yang terbentuk Majelis Mujahidin, akhirnya kata Syeikh Abdul Qadir Baraja’, “Silahkan ustad-ustad berjalan, kami akan meneruskan perjuangan dalam menegakkan Kekhalifahan ini”, kata pimred mengisahkan.

            Ust. Mukhliansyah melanjutkan, dulu ketika Kongres baru ada dua perwakilan di NTB dan Lampung dengan belasan orang yang mendukung, saat ini baru ada sekitar 15 ribuan orang dengan hampir 500 perwakilan yang ada di Indonesia dan Malaysia. Tetapi masih saja ada yang mengatakan, baru 15 ribu orang sudah berani mengangkat seorang Khalifah”.

            “Jangan melihat jumlahnya dong, apa kata Allah Subhanahu wata’ala, 20 orang yang sabar bisa mengalahkan 200 orang yang takut mati”. (QS Al Anfaal : 65)”. Dan bahkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dengan belasan orang telah memulai, mari kita contoh beliau r, tegas Ust. Abu Afiff mendukung penryataan.

            “Ada yang berpendapat per seratus tahun itu, berarti sekitar tahun 2024 adalah era Kebangkitan Islam paska runtuhnya Kekhalifahan 1924 M. Bagaimana kita menyongsong era Kebangkitan Islam ini Abu? Kembali pimred meminta pendapat.

            “Ya harus kita mulai dari sekarang sampai kepada Kebangkitan Islam itu, insya Allah. Kalau untuk daerah Bogor dan Jawa Barat insya Allah nanti kita sama-sama bergerak menghimpun dan mengajak ummat Islam bersatu didalam Khilafah”. Mungkin tahap awal nanti kita akan bertemu dengan Habib Rizieq Syiehab, Insya Allah. Demikianlah ramah tamah kita dengan Syeikh Abu Ahmad Afiff.

            Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) telah mempelopori agar ummat Islam bersatu dan menegakkan Islam secara paripurna dari sejak awal dimaklumatkannya Kekhalifahan (sekitar tahun 1997). Dari belasan pendukung kini hampir 15 ribu yang tergabung dalam shaf Khilafatul Muslimin. Tidaklah terlalu bermimpi kiranya harapan kedepan Khilafatul Muslimin dapat tegak di Indonesia menyongsong era Kebangkitan Islam tentunya dengan dukungan Ulama seperti Syeikh Abu Ahmad Afiff dan seluruh elemen ummat Islam, insya Allah.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts