Sosialisasi Kekhalifahan Di Kampung Teroris
Sosialisasi Kekhalifahan Di Kampung Teroris

SEKAMPUNG “GOLPUT”, BUPATI DAN APARAT DATANGI KAMPUNG KHILAFAH MUKOMUKO

Bengkulu – Bupati Mukomuko, Ikhwan Yunus beserta MUI provinsi yang dikawal oleh aparat kepolisian dan petugas Babinsa melakukan kunjungan bertema silaturahmi ke Kampung Khilafah di Pondok Kopi, Muko-muko, Bengkulu pada Sabtu malam, 8 Ramadhan (5/7/14).

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas eskalasi laporan petugas  KPU dan aparat desa terkait perihal sepinya TPS mereka pada pemilu legislatif yang lalu. Hal ini ditengarai disebabkan oleh golput (tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan) nya seluruh warga kampung Khilafah, sehingga merasa perlu adanya klarifikasi.

Rombongan Bupati, berjumlah 20 orang, disambut oleh warga kekhalifahan di masjid kampung Khilafah, dipimpin oleh Ustad Supriatna sebagai Mas’ul. Setelah menunaikan shalat Isya dan Tarawih berjama’ah, acara yang berformat dialogpun dimulai.

Persoalan pokok yang disampaikan oleh juru bicara rombongan Bupati untuk di klarifikasi adalah seputar massifnya golput  di kampung Khilafah ini. Tak satupun warga yang menghadiri TPS saat pemilu. Lalu bagaimana pula dengan pemilu Presiden yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Warga kampung Khilafah, Diwakili oleh Ustad Maino, Katib Ummul Quro Mukomuko, menjelaskan bahwa pemilu adalah mekanisme pemilihan pemimpin dalam sistem demokrasi, dalam hal ini demokrasi pancasila. Mekanisme ini pula yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk memilih dari pilihan yang ada, sekaligus kebebasan untuk tidak memilih.

“Orang yang memilih pasti punya kepentingan terhadap pilihannya. Sementara kami tidak punya kepentingan apa-apa pada salah satu calon dari calon-calon yang ada. Toh siapapun yang terpilih, pasti sama-sama punya keinginan membangun Indonesia sesuai jalurnya, dan itu sudah cukup bagi kami,”.

“Tidak masalah bagi kami siapa saja yang akan menjadi presiden Indonesia kelak. Semuanya sama saja bagi kami,” ungkap beliau.

Warga Khilafah yang aktif di Muhamadiyah ini juga menjelaskan, “Adapun massifnya golput di kampung  Khilafah ini, bukan karena adanya koordinasi atau semacam kampanye golput, tapi lebih kepada kesadaran individu untuk fokus pada peran membangun sistem Islam,”.

“Sudah banyak ummat Islam yang berperan  dalam sistem demokrasi, sementara sedikit sekali yang peduli dengan pembangunan sistem Islam (Khilafah) saat ini,”, tutup beliau.

Dialog berakhir pada pukul 22:30 WIB. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dengan membagikan Maklumat (ditegakkannya kembali) Khilafah, sekaligus seruan untuk mendukung kekhalifahan.

Kampung Khilafah merupakan sebutan dari warga di kampung ini setelah seluruh warganya berbai’at pada kekhalifahan Islam. Sebelum itu, kampung ini sempat diberi stigma ‘kampung teroris’ oleh warga sekitar karena aktifitasnya yang cenderung menutup diri dari pergaulan sekitar. Baca berita sebelumnya disini (Sosialisasi Kekhalifahan Di Kampung Teroris). [Nanang Pambudianto, redaksi]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts