SATUKAN HATI SATUKAN LANGKAH

Barangsiapa mencari Dien selain Dienul Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (Dien itu) daripada Nya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran : 85).

Sesungguhnya semua manusia memiliki sebuah hati sebagai pusat komando perbuatan /tindakan, baik yang benar maupun yang salah. Untuk mendapatkan sesuatu yang pasti benar manusia tidak dapat mengandalkan akal fikirannya sendiri yang senantiasa di dimonasi oleh kepentingan nafsu. Setiap orang bila melihat /memperhatikan sesuatu akan memeberikan penilaian kepada sesuatu yang dilihatnya dan mengakibatkan timbulnya keinginan dari hasil penilainnya (positif ataupun negative). Jika seseorang menginginkan sesuatu maka hatinya memerintahkan anggota tubuhnya untuk berupaya mencapai yang ia kehendaki lalu lahirlah berbagai aktivitas dalam kehidupan sesuai kemampuan dan kebutuhan hidupnya meraih kesuksesan ataupun kegagalan, keberuntungan ataupun kerugian. Perasaan hati manusia yang berbeda-beda bersama presepsi yang beragam mustahilah dapat dipersatukan /diseragamkan kecuali jika hati-hati itu berpegang teguh pada satu pedoman sebagai prinsip hidupnya. Demi keberuntungan hidup manusia maka mereka harus berpegang teguh  pada prinsip hidup yang mutlak kebenarannya yaitu ajaran Allah SWT, sebagai prinsip jiwa seseorang (ideologinya) melalui persaksian syahadatain yang diaplikasikannya dalam pelaksanaan syariat Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup yang benar dan menyelamatkan demi kebahagian dunia dan akhirat.

Maka hati dari kebanyakan manusia hanya dapat dipersatukan diatas landasan yang haq dan mutlak kebenarannya yaitu, “LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADAR RASULULLOH”. Setelah hati manusia dapat disatukan oleh kalimat tauhid sebagai prinsip hidup mereka /akidah /ideology mereka, maka pengaplikasiannya dalam kehidupan nyata tentu harus pula berpedomankan ajaran Allah dan Rasul-Nya yang telah diyakini kebenarannya dan mempersatukan mereka; sebab melalui berbagai pendapat akal fikiran manusia yang berbeda-beda mustahil dapat mempersatukan hati manusia. Allah berfiman, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat : 13).

Demikianlah Allah telah menciptakan manusia yang berbeda beda jenis dan berbagai suku bangsa, beragam etnis bersama keinginan dan kebutuhan mereka pun berbeda-beda pula menurut kemampuan yang berbeda-beda pula, walaupun hati-hati mereka telah dipersatukan dengan kalimat tauhid namun langkah dan kreativitas hidup dalam kehidupan mereka dalam rangkah mempertahan keutuhan kesatuan hati mereka sebagai orang-orang yang berkeyakinan tidak akan sukses tanpa mempesatukan langkah kerja nyata kearah satu tujuan yang sama. Maka untuk dapat mempersatukan langkah kearah satu tujuan diperlukan satu kepemimpinan bagi keseluruhan demi kebersamaan hidup mereka dalam ketentraman dan damai, mencapai kesejahteraan lahir dan batin dalam wujud ber-JAMA’AH sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana telah dipraktekkan oleh para Nabi terdahulu bersama orang-orang beriman dan disempurnakan dengan diutus nabi terakhir Nabi Muhammad SAW dengan kesempurnaan ajaran yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana (Allah SWT).

Menurut Islam setelah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam sistem kenabian maka kelanjutan kesatuan orang-orang yang sama beriman berada di bawah kepemimpinan seorang Khalifah /Amirul Mukminin dalam sistem ke-Khalifahan, demi meraih kejayaan Islam dan ummatnya mendapatkan curahan rahmat dan ridha Allah SWT. Tanpa sistem hidup Islami (Khilafah setelah kenabian) maka sistem hidup lain hasil pengalaman dan pendapat manusia, mustahil dapat diandalkan untuk mempertahan keutuhan kesatuan hidup ummat manusia yang berbeda-beda.

Khususnya di negeri yang multi etnis, ras dan bermacam-macam suku sebagaimana diciptakan Allah kebhinekaan, mereka hanya dapat dilestarikan secara baik dan benar bila masing-masing kembali berpedomankan ajaran yang dibawa para nabi, sehingga setiap golongan mereka mempraktekkan keyakinannya sesuai tuntunan agamanya masing masing berdasarkan kitab yang telah diyakini kebenarannya, bukan berdasarkan keinginan nafsu dan kemauan fikiran manusia saja tanpa pedoman agama. Maka kaum muslimin wajib bersatu (berjama’ah) demi mempraktekkan syari’at Islam dengam memerdekakan agama-agama lain mempraktekan keyakinan mereka masing-masing tanpa ada paksaan.

Tanpa kembali kepada ajaran Allah atau dengan kata lain lebih mengutamakan ajaran manusia melalui konsep yang dibuat-buat sendiri dalam mempertahan kebhinekaan suatu bangsa adalah  mustahil sampai kapanpun kecuali dengan berbagai pemaksaan, penindasan dan berbagai tindakan kedzaliman lainnya yang berakibat segolongan manusia  menjajah segolongan lainnya dan terciptalah kesombongan dan kerusakan dimana-mana sebagai mana Allah berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum : 41).

Diperingatkan khusus pada keseluruhan kaum muslimin tanpa kecuali agar tetap mengiltizamkan diri dalam kesatuan jama’ah melalui sistem kehidupan Islami yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya berpedomankan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pembawa misi rahmatan lil alamin dan kehidupan penuh barokah dan ridho Allah /wajib ber-SATU dalam SATU kepemimpinan Islam. Berpecah belah dalam berbagai golongan itu adalah kehancuran, kesengsaraan dan azab. Wallahu a’lam

 

 

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts