Sosialisasi Kekhalifahan Di Kampung Teroris
Sosialisasi Kekhalifahan Di Kampung Teroris

Safari Khalifah Ke Sumatra: Sosialisasi Kekhalifahan Di Kampung Teroris

BERITA KEKHALIFAHAN 0

Bengkulu – Masyarakat sekitar desa Mekar Jaya, Pondok Kopi, kecamatan Mukomuko, Bengkulu menstigma perkampungan yang dihuni sekitar 30 Kepala Keluarga ini sebagai perkampungan teroris.

Komunitas masyarakat yang dinilai eksklusif dan menutup diri ini sebagian besar merupakan transmigran dari bandung. Latar belakang profesi sebagai pedagang dan petani membuat kemandirian semakin terasa di komunitas masyarakat ini.

Mereka membangun infrastruktur desa sendiri, mulai dari pengairan, listrik, hingga pemberdayaan ekonomi secara mandiri.

Kajian tauhid setiap pekan, pembangunan masjid sebagai sarana pembinaan dan ibadah, hingga membangun sarana pendidikan sendiri bagi anak-anak.

Anak-anak warga yang tidak disekolahkan di sekolah-sekolah umum, membuat komunitas ini semakin asing bagi masyarakat sekitarnya. Kaum ibu yang berjilbab lebar, para lelaki bercelana ngatung dan berjenggot membuat stigma kampung teroris semakin kental oleh masyarakat sekitarnya.

Kenyataan diatas adalah keadaan setahun yang lalu di desa transmigran ini.

Bermula dari kehadiran da’i utusan pusat kekhalifahan Islam, Ustad Abu Salma, di Mukomuko pada Syawal 1433, perkenalannya dengan salah seorang warga Mekar Jaya, akhuna Rijaludin, menjadi asbab kampung teroris ini menjadi perkampungan khilafah.

“Penjelasan ustad Abu Salma tentang yakfur bittaghut (mengingkari taghut) membuat saya dan paman saya (Bapak Supriyatna) tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut tentang khilafah, hingga akhirnya kami beserta istri menyatakan bai’at,” kata akhuna Rijal kepada Al-khilafah.

“Malam harinya, saya mengabarkan tentang kekhalifahan ini kepada warga kampung di Mekar Jaya. Di Masjid kami berdiskusi hingga kepala kampung dan seluruh warga yang hadir sepakat untuk berbai’at pada kekhalifahan keesokan harinya,” lanjut Rijal.

Suasana haru dirasakan oleh ustad Abu Salma saat pembai’atan massal.

“Sambil menitikkan air mata, warga saling berpelukan setelah menyatakan bai’at,” kenang Abu Salma.

“Kami seperti menemukan tempat untuk mempraktekkan kajian ilmu yang kami pahami selama ini, terutama terkait al-wala’ wal bara’ dalam hidup berjama’ah,” kata Rijal mendukung pernyataan Abu Salma.

Saat ini, komunitas warga desa Mekar Jaya ini lebih terbuka dengan masyarakat sekitarnya. Kalau dulu stigma kampung teroris diberikan oleh masyarakat sekitar, maka “hari ini kami menyebut kampung ini sebagai kampung Khilafah,”.

“Tanggungjawab untuk menyerukan persatuan ummat dibawah sistem kepemimpinan Islam membuat kami harus lebih intens berinteraksi dengan warga sekitar, menganulir perbedaan khilafiyah, dengan mengutamakan persatuan,”.

Memanfaatkan momen kunjungan Khalifah di Bengkulu dalam rangkaian safari dakwahnya ke Sumatra, Hari ini, 12 Dzulqa’dah, kemas’ulan Mekar Jaya – Pondok Kopi mengadakan sosialisasi kekhalifahan Islam, mengundang warga dan aparat desa sekitar.
Acara sosialisasi ini dibarengi juga dengan kegiatan ta’dib (pembinaan ummat) oleh Khalifah/Amirul Mukminin.

“Bersatunya ummat dalam sistem kekhalifahan ini adalah untuk ibadah dalam rangka meraih ridha Allah dengan jalan berupaya menegakkan hukum Allah di muka bumi ini,” kata Khalifah dalam sambutannya. [NP]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts