Runtuhnya Sekulerisme dan Tanda-tanda Kebangkitan Islam

Menurut Professor Al-Attas, seorang ilmuwan asal Malaysia, sekularisme berasal dari bahasa Latin, saeculum. Kata saeculum sendiri mempunyai pengertian time (masa) dan location (tempat atau kedudukan). Saeculum berarti masakini di sini, yang mana masakini berarti masa sekarang, dan di sini pula bermaksud kepada di dunia ini. Jadi faham sekuler atau sekularisme, menurut Al-Attas, merujuk kepada makna dan faham “kekinian”. (Syed Naquib Al-Attas & Al Qardhawy: Tentang Islam dan Sekularisme, Oleh: Dr.Ugi Suharto). Selanjutnya, sekularisme dalam bahasa Inggris, memiliki akar kata; secular, yang diartikan sebagai hal-hal yang bersifat duniawi atau tidak berhubungan dengan urusan agama dan akhirat. (Kamus Inggris-Indonesia, An English-Indonesia Dictionary, Gramedia Pustaka Utama, John M.Echols dan Hassan Shadily, hal.509, cet.XXIX, 2010). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sekularisme dimaknai sebagai paham atau pandangan filsafat yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. (KBBI, Tim Pustaka Phoenix, Jakarta, hal.768, cet. VI, 2012).
Dari berbagai keterangan tersebut dipahami bahwa; sekularisme adalah paham yang ingin menghapus unsur agama dan ketuhanan dari kehidupan manusia, biarlah manusia mengurus urusan duniawi mereka sendiri tanpa campur tangan agama dan biarlah agama berada dalam tembok-tembok dan atap rumah ibadah, tidak perlu keluar ke ranah publik. Pemisahan ini menghendaki manusia menentukan secara sendiri standar moral dan akhlak, standar hukum hingga bentuk sistem kepemimpinan dan pemerintahan dan dengan sendirinya agama-pun terhempas ke pojok ritualitas belaka, bahkan tanpa makna dan jauh dari realitas.

Sejarah Sekularisme
Dalam lembar sejarah disebutkan, bahwa; tahun yang dianggap sebagai cikal bakal munculnya sekularisme adalah 1648 M. Pada tahun itu telah tercapai perjanjian Westphalia yang telah mengakhiri ‘Perang Tiga Puluh Tahun antara Katholik dan Protestan’ di Eropa. Perjanjian tersebut juga telah menetapkan sistem negara merdeka yang didasarkan pada konsep kedaulatan dan menolak ketundukan pada otoritas politik Paus dan Gereja Katholik Roma (Papp, 1988). Inilah awal munculnya sekularisme. Sejak itulah aturan main kehidupan dilepaskan dari gereja (agama) yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Asumsinya adalah bahwa negara itu sendirilah yang paling tahu kebutuhan dan kepentingan warganya, sehingga negaralah yang layak membuat aturan untuk kehidupannya. Sementara itu, Tuhan atau agama hanya diakui keberadaannya di gereja-gereja saja.
Awalnya sekularisme memang hanya berbicara hubungan antara agama dan negara. Namun dalam perkembangannya, semangat sekularisme tumbuh dan berkembang biak ke segala lini pemikiran kaum intelektual pada saat itu. Atas semangat penolakan terhadap campur tangan agama (Kristen) yang sudah penuh noda, sekularisme seolah menjadi bahan bakar sekaligus sumber inspirasi yang menyulut kebakaran hebat ke segenap kawasan pemikiran dan amal perbuatan manusia. Celakanya adalah ketika persebaran paham ini merambah dunia Islam, bersamaan dengan kemunduran yang sedang melanda kaum muslimin akibat jauhnya mereka dari kitab suci mereka (Al Qur’an) dan sunnah, sehingga mereka kehilangan immunitas keimanan dan pemikiran serta gampang dihinggapi paham-paham dari luar Islam, termasuk sekularisme.

Dampak dari sekularisme
Di berbagai tempat, paham sesat sekularisme bermunculan dan menjadi pembicaraan bahkan menjadi gelombang yang menggulung dunia Islam dalam keyakinan, pemikiran dan amal. Langkah barat melepaskan agama dari kehidupan kemasyarakatan dianggap sebagai sebuah kemajuan, bahkan kemajuan materil yang dialami barat diyakini sebagai nilai positif dari penerapan sekularisme. Hingga puncaknya adalah ketika Musthafa Kemal Ataturk yang dikenal sebagai peletak dasar sekularisme Turki bersama Dewan Agung Nasional Pimpinan-nya menghapuskan sistem kekhalifahan pada tanggal 3 Maret 1924 dan memindahkan pusat pemerintahan dari Istanbul ke Ankara. Selanjutnya pada tanggal 29 oktober 1924 Dewan Nasional Agung memproklamasikan terbentuknya Negara Repulik Turki yang dianggap lebih cocok dengan kemajuan zaman dan mengangkat Musthafa Kamal sebagai presiden Republik Turki pertama, pasca Khilafah Utsmaniyyah. Khilafah sebagai sistem kepemimpinan Islam pun hilang ditelan zaman. Inilah keberhasilan besar dari para pengasong sekularisme sepanjang sejarah, setelah menumbangkan dominasi gereja yang memang sesat di Eropa merekapun berhasil menyingkirkan Islam dari ranah publik dengan tangan ummat Islam sendiri.
Terlepasnya manusia dari aturan Islam dan lepasnya sistem Khilafah dari kehidupan ummat Islam menyebabkan mereka kehilangan tembok pengaman dan tiang lampu penerangnya. Ummat Islam mundur diberbagai bidang kehidupan, baik ideologi, hukum, ekonomi, sosial, politik, keamanan hingga hak hidup, dimana nyawa paling murah dikolong langit saat ini adalah nyawa kaum Muslimin. Hal ini sebenarnya sudah diingatkan oleh Allah I dalam firman-Nya, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thahaa [20]: 124).

Arus balik, antara semangat dan kritik
Karena fitrahnya yang suci dan hanif, manusia tidak akan pernah bahagia tanpa agamanya (Islam), baik yang bersifat ubudiyah maupun mu’amalah. Oleh karena itu Allah I mengingatkan manusia untuk senantiasa mengamalkan agamanya. Namun hanya sebagian saja manusia yang menyadarinya; mencari dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan jiwa mereka akan agama, sebagian lagi kufur. Firman Allah I, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Qs. Ar Ruum [30]:30)
Maka sejak dekade awal kehilangan sistem Khilafah sudah banyak bermunculan pergerakan ummat Islam untuk kembali kepada Islam dan kekhalifahan Islam. Ibarat dokter, para ulama dan pemikir Islam mencoba mendiagnosa penyakit yang sedang dilanda ummat Islam, sehingga mereka mengalami kemunduran diberbagai bidang. Dari berbagai macam analisa dan penelitian, merekapun berujung pada kesimpulan yang berbeda-beda dan melahirkan metode dan strategi yang bermacam-macam dalam perjuangan. Selain semangat nasionalisme sempit dan bermunculannya banyak negara didunia Islam, muncul juga berbagai arus pemikiran. Semua adalah bukti nyata, betapa manusia yang masih dalam fitrahnya yang suci, tidak pernah ingin jauh dari agamanya dan sebagai makhluk sosial mereka pun tak pernah rela ranah sosial mereka jika tidak diatur dengan Islam. Hanya saja, realitas masih terlalu dominan dalam kajian dan solusi yang ditawarkan, sehingga perjuangan Islam tidak lagi lahir dari rasa berkewajiban atas ibadah kepada Allah (benar dan ikhlas), tapi justeru didominasi hasil analisa yang dicampur dengan trauma masa lalu, sehingga misi pun terbatas, sektoral bahkan sektarian dan tafarruq.
Sekularisme telah menghantam kita diberbagai bidang kehidupan dan dampaknya selain menghempaskan ummat ke dalam penyakit inveriority (kelemahan dalam pemikiran) yang akut, juga telah memecah belah ummat dalam berbagai negara dan kelompok yang semuanya nyaris tidak ada usaha untuk bersatu, justeru yang sering kita dapati adalah upaya mereka mendakwahkan keutamaan dari ajaran yang mereka praktekan dan seolah memandang kelompok lain dari sisi negatifnya saja. Suatu negara berpenduduk muslim seringkali lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya, kendatipun membahayakan ummat Islam di negara lain. Pada tataran pergerakan Islam terjadi fenomena, dimana mereka yang cenderung kepada mengutamakan jihad qital tidak sependapat dengan mereka yang hanya melakukan dzikir, sebaliknya yang suka berdzikir juga cenderung tidak sependapat dengan mereka yang hanya suka mengusahakan peningkatan ekonomi karena hanya menyangkut persoalan fisik materil belaka.
Dalam hal ini Rasulullah r telah mengingatkan kita semua dengan sabda beliau, “Barang siapa berperang di bawah bendera atau marah karena ashobiyah atau berdakwah untuk ashobiyah, kemudian ia mati maka matinya seperti matinya orang jahiliyah” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasaa’i).
Hal diatas diperparah dengan banyaknya kalangan yang mengaku berjuang demi Islam tapi justeru melembagakan perjuangan mereka demi meraup keuntungan duniawi, seperti membentuk yayasan Islam, lembaga pendidikan Islam, dan lain sebagainya.

Persatuan ummat sebagai kewajiban dan abad kebangkitan ummat
Kehancuran ummat Islam akibat sekularisme saat ini adalah kehancuran sistematis, maka solusinya pun tidak bisa parsial, jikapun harus sektoral maka kita diharuskan menjalankannya dalam satu kesatuan ajaran dan kepemimpinan. Maka keparipurnaan ajaran Islam (QS. Al Baqarah [2]: 208), membutuhkan persatuan (Qs. Ali Imran [3]:103) dan kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Islam (Qs. An Nisaa’ [4]:59). Dalam sebuah hadits yang panjang terkait dengan krisis yang melanda ummat Islam bahwa Rasulullah r memberi satu isyarat penting:
Aku (Khudzaifah bin Yaman t) berkata bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” Rasulullah r bersabda: “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka” (HR.Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135 dan Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah:II/475).
Dari hadits tersebut nampak bagi kita bahwa, cara kembali kepada Islam sekaligus menjadi tanda bagi kebangkitan Islam, tidak ditandai dengan sekedar banyaknya orang yang melaksanakan sholat, atau banyaknya ummat Islam yang menunaikan ibadah hajji, atau banyaknya masjid yang dibangun atau banyaknya orang yang puasa senin-kamis, tidak pula dari banyaknya sarjana Islam atau banyaknya ulama ditengah ummat, sedangkan mereka dalam perpecahan. Tapi kebangkitan umat ditandai dengan adanya kesadaran ummat untuk berkepemimpinan dengan ber-iltizam kepada jama’ah kaum muslimin dan imam mereka, yakni Khilafah dan khalifahnya, karena eksistensi suatu ajaran sangat bergantung pada kepemimpinan.
Dalam atsar Khalifah/ Amirul Mu’minin Umar bin Khathab t disebutkan, “Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada Jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ditaati, maka barang siapa yang kaum itu mengangkatnya sebagai pimpinan atas dasar kefahaman, maka kesejahteraan baginya dan bagi kaum tersebut tetapi barangsiapa yang kaum itu mengangkatnya bukan atas dasar kefahaman, maka kerusakan baginya dan bagi mereka.” (HR.Ad-Darimi Sunan Ad-Darimi dalam bab Dzihabul ‘ilmi: I/79)
Maka adalah merupakan karunia Allah yang besar ketika pada abad ke-21 masehi dan abad ke-15 hijriyyah ini, muncul kesadaran umat untuk berkhilafah, baik yang masih berwacana maupun sudah mulai mempraktekkannya bahkan sudah mengangkat seorang Khalifah ditengah-tengah mereka sebagai wujud pelaksanaan kewajiban berjamaah dan ber-imamah. Khilafatul Muslimin yang telah dimaklumatkan pada akhir abad ke-20 (1997) adalah wujud nyata dari kesadaran akan wajibnya persatuan ummat dibawah naungan Khilafah dan kepemimpinan seorang Khalifah. Selain itu tepat pada 1 Ramadhan tahun 1435 H lalu di Raqqah, Syam telah pula dimaklumatkan kekhalifahan Islam dengan Khalifahnya, Syaikh Abu Bakar al Baghdadi. Selain ujian yang menimpa perjuangan Khilafatul Muslimin, pada detik-detik penulisan artikel ini, dunia tahu bahwa; Kekhalifahan Syam sedang mengalami gempuran dari musuh-musuhnya yang melihat bahwa Islam sedang bangkit, kesadaran berkhilafah adalah pertanda nyata atas kebangkitan yang sedang terjadi. Sekularisme terbuang, sekularisasi pupus. Para pejuang Islam yang ikhlas tetap istiqomah, meskipun orang-orang musyrik, fasik dan kafir benci, insya Allah. (AMS)

Facebook Comments

Related Posts