RATUSAN “RIJAAL” WILAYAH BEKASI SAMBANGI GUNUNG BATU, BOGOR

Setelah Gunung Manglayang di Sumedang dijadikan tempat acara Rihlah beberapa waktu yang lalu, kini kembali rastusan “Rijaal” (sebutan laki-laki yang siap iqomatuddien) wilayah Bekasi Raya dari struktur Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) sambangi Gunung Batu, di hutan Pinus, Jonggol, Bogor – Jawa Barat pada 20 Rajab 1439 H (07/14).

Puluhan motor andil dalam konvoi para “Rijaal” hijaukan sepanjang jalan dari Citra Indah hingga Gunung Batu, sekitar 2 jam perjalanan. Berbagai tanggapan dari masyarakat bukti syi’ar perjalanan ini karena semua “Rijaal” di wajibkan oleh Ust. Wuri Handoyo selaku Amir wilayah menggunakan atribut Khilafatul Muslimin yang biasa di kenal dengan “hijau putih” nya. “Mau demo di mana pak ?, salah satu masyarakat bertanya. Ada lagi yang menyapa dengan “Allahu Akbar”, yang kemudian disambut para “Rijaal” dengan takbir pula. Ini jama’ah apa pak ?, demikian masyarakat bertanya karena memang menjadi pusat perhatian.

Setelah semua struktur mendirikan tenda, segera dilakukan Laporan-laporan bulanan masing-masing Ummulquro. “Priiiit …  “, bunyi peluit salah satu tanda dari panitia mengumpulkan semua Rijaal yang sudah harus siap dengan seragam Khilafah lengkap dalam suatu lapangan untuk mengikuti Tahdzib pada sore harinya. Tahdzib kali ini sedikit berbeda,  materi pertama, Iman Hijrah Jihad yang di isi oleh Ust. Faishol al Hijamahi lebih banyak praktek di lapangan. “Mujahid” teriak pemateri, “Sami’na wa atho’na” serempak jawaban dari para Rijaal dengan semangat. Inti dari materi adalah para peserta mempraktekan “Taat”, kali ini tes nya taat pada intruksi dari panitia. Mulai perintah push up, skot jam, berlari ke hutan, jalan jongkok dan melaporkan shaf masing-masing yang sudah di tentukan panitia.

Hujan lebat mengguyur para Rijaal sore itu tidak sedikit menggeser niat mereka dari tempat yang sudah di tentukan panitia, membuktikan sikap sami’na wa atho’na di praktekan dalam kehidupan. Dua jam semua peserta serius mengikuti acara dalam kondisi kuyup. Kembali ba’da sholat maghrib dalam kondisi yang masih hujan deras peserta di kumpulkan untuk mengikuti acara selanjutnya masih dalam kondisi seragam lengkap yang kuyup.

Keesokan harinya acara tahdzib ini di tutup dengan “Game Ukhuwah”, yaitu Ikan dan Musang. Terlihat ukhuwah di antara para “Rijaal” sangat enjoy menikmati suguhan “game ukhuwah” yang telah di siapkan oleh panita. Serius, santai dan pebuh tawa memuat acara ini sangat menarik dan mempererat ukhuwah. Dalam acara penutupan peserta yang sebelumnya di wajibkan oleh panitia membawa hadiah dengan harga kurang dari sepuluh ribu rupiah, mengadakan “tukar kado” sebagai bentuk kepedulian terhadap saudaranya. “sangat berkesan sekali”, rata-rata peserta menyampaikan kesan nya kepada redaksi.

Sisi lain dalam kegiatan ini, malam pukul 20.00 dalam kondisi hujan sangat deras, beberapa meter dari lokasi acara Rihlah dan Tahdzib terjadi musibah banjir Bandang dan tanah longsor. Pelajaran yang disampaikan oleh Amir Wilayah, “Kenapa bukan di tempat kita yang memang sangat berpotensi longsor, semoga kita adalah generasi yang di pilih oleh Allah dalam menegakkan Dien Nya, sehingga kita termotivasi ke depan agar lebih serius lagi, di sisi lain kita juga bersedih karena ketika longsor itu di lokasi, seharusnya kita sudah bertemu bidadari Surga yang Allah janjikan, Allahu Akbar !”, tegas Ust. Wuri Handoyo. [Tubagus, Bekasi Raya]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts