RADIKAL DALAM SEBUAH AJARAN ADALAH SEBUAH KEHARUSAN

           LSM Nusatenggara Centre, Mataram, NTB menyelenggarakan acara diskusi publik dengan tema Pilkada 2015 Tanpa Radikalisme, Galang Kewaspadaan & Kemitraan Masyarakat Di Kabupaten Sumbawa Barat – NTB. Kegiatan ini mengambil tempat di Kantor Setda Kabupaten Sumbawa Barat LT. III komplek Kemutar Telu Centre (KTC) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), NTB pada Kamis, 28 Mei 2015. Selain para pembicara lain dari MUI, Instansi pemerintah dan akademisi, Ust. Ahmad MS hadir mewakili Khilafatul Muslimin dan redaksi  majalah al-khilafah.

            Selanjutnya KH Syamsul Ismain, LC., Ketua MUI Kabupaten Sumbawa Barat dalam kesempatannya menyampaikan bahwa, ummat Islam sebagai “ummatan wasathan” atau ummmat pertengahan yang mengedepankan prinsip keadilan, maka radikal menurut beliau dalam Islam bisa jadi diambil dari kata tasyaddud, yaitu sikap memaksakan kehendaknya sendiri tanpa landasan dan cara yang benar. Maka MUI melihat radikal dalam dua sisi, yakni tasahul (terlalu mempermudah) atau tasyadud (terlalu picik), maka Islam mengajarkan tawashut atau pertengahan, sebagaimana sabda Nabi; “Khairal umuur ausathuha” sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan, maka kita harus berusaha mengarahkan diri kita pada jalur tengah. Menurutnya banyaknya masalah sosial masyarakat karena tidak tegaknya hukum syariat Islam, sedangkan penjara menurut beliau malah hanya akan melahirkan penjahat baru.

            Selanjutnya kesempatan Pak Edy dari Bakesbangpoldagri KSB, beliau mengajak semua pihak untuk jeli melihat celah-celah munculnya, caranya melihat setiap masalah di tengah masyarakat tidak hanya memberinya jalan masuk, tapi juga mengusahakan jalan keluarnya. Kemudian beliau menyampaikan pandangannya, bahwa di negeri ini sebenarnya sudah pernah terjadi kudeta konstitusi dengan dihilangkannya tujuh kata dalam piagam Jakarta yang membuka peluang penerapan syariah Islam bagi kaum Muslimin di dalamnya, hanya karena konon mengikuti usulan orang Jepang. Maka jelas mental mem-Bebek atau mem-Beo mewarnai perjalanan negeri ini. Terkait dengan pilkada, Pak Edy menyampaikan bahwa orang barat mengatakan “politic is blind” politik itu buta, politik itu kotor, politik itu tebal muka, “Apa iya politik didalam Islam itu begitu?” , tentunya tidak.

            Dalam kesempatannya Ust. Ahmad MS mengajak para hadirin untuk kembali kepada satu prinsip bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah (mengabdikan diri) kepada Allah, jika bukan karena tujuan ibadah sebenarnya manusia tidak perlu diciptakan, pernyataan ini didasarkan pada Al Quran surat Adz Dzaariyat [51]: 56. Kemudian menurut beliau, semua aktifitas manusia muslim harus berdasarkan perintah, adanya dalil, dan contoh yang diikuti, karena semua amalan yang tidak ada dasarnya dari Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan Sunnah) maka tertolak. Sekurang-kurangnya 17 kali sehari-semalam kita minta kepada Allah untuk ditunjukkan kepada “Shirothol Mustaqiim” jalan yang lurus, bukan tujuan, karena jalan yang benarlah yang akan mengantarkan kita kepada tujuan.  Tujuan setiap manusia adalah bahagia, maka Islam membawa mereka bahagia hingga ke surga, bagi yang mau mengikutinya. Usaha kita yang sungguh-sungguh seharusnya adalah bagaimana meraih surga dan terhindar dari neraka.

            Menurut Ust. Ahmad MS, “radikal dalam artian sebagai sikap menganut dan mempraktekan sebuah ajaran secara mendasar, haruslah ada dalam diri seorang Muslim,” agar dia tidak asal dan tidak ragu. Selanjutnya tindakan terorisme, penggunaan cara-cara kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai satu tujuan memiliki tahapannya sendiri dalam Islam. Radikal (pemahaman yang mengakar) dalam memahami Islam itu wajib, tetapi tidak kemudian menjadikannya seorang teroris dalam praktek perjuangannya. Untuk mendakwahkan Islam, Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sudah mulai mempraktekkan konsep jama’ah sejak beliau masih di Makkah, dimana beliau bertindak sebagai pemimpin bagi ummatnya. Selama fase-fase awwal, 13 tahun di Makkah hingga tahun ke-5 hijriyyah di Madinah kita bisa lihat, beliau menjauhi kekerasan hingga Allah Subahanahu wata’ala menganugerahkan kekuasaan. Maka, prinsip dan konsepsi perjuangan Islam dalam hal ini Khilafah Islamiyyah (Khilafatul Muslimin) bahwa, kekuatan senjata tidak digunakan untuk meraih kekuasaan, tapi dibutuhkan untuk mempertahankan kekuasaan yang telah diraih lewat dukungan ummat. Maka, warga Khilafatul Muslimin meyakini sistem Khilafah lah solusi multidimensi itu, dan apa-apa yang dikhawatirkan oleh sebagian orang, yakni munculnya kekerasan dan tindakan teror dalam pelaksanaan pilkada di KSB tahun 2015 mendatang, hampir dipastikan tidak akan terjadi seandainya warga KSB umumnya dan peserta di forum ini bersedia mendukung dan bergabung dengan Khilafatul Muslimin dengan konsep diatas, minimal rutin mengikuti taklim bersama Khilafatul Muslimin di seluruh perwakilan yang ada.

             Syamsul Isma’in, Lc, Lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir ini lantas menyampaikan pandangannya tentang gerakan penegakkan Khilafah, “Dari seluruh kelompok pejuang Khilafah, saya salut sama Khilafatul Muslimin, kalau yang lain masih dalam cita-cita, Khilafatul Muslimin sudah mengangkat seorang Khalifah. Maka jika seandainya ada lima jempol saya, kelima-limanya saya acungkan buat Khilafatul Muslimin!” terang beliau. KH. Syamsul Isma’in, Lc, memang sudah tidak asing lagi dengan Khilafatul Muslimin karena sudah begitu sering berinteraksi dalam berbagai acara, silaturrahim, diskusi publik dan lainnya, terlebih dengan sosok Amirud Daulah Khilafatul Muslimin, Ust. Zulkifli Rahman al Khathib sudah saling memahami satu sama lainnya

            Dalam sesi tanya jawab, para peserta bertanya dan mengusulkan berbagai hal termasuk detail program Khilafatul Muslimin yang telah mengajak semua warga KSB bergabung demi kehidupan yang lebih baik. Ust. Ahmad MS menyampaikan bahwa persoalan ummat bukan untuk diratapi tapi untuk diantisipasi, maka untuk menghadapinya Khilafatul Muslimin menyelenggarakan program taklim diseluruh perwakilannya sebagai program wajib untuk menanamkan dasar Aqidah yang benar dan dasar ilmu yang benar dalam konsep hidup berjamaah, maka kami persilahkan ummat Islam untuk hadir pada program-program tersebut. [AMS/TB]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts