QIYAMUL LAIL MENYIMPAN KEKUATAN IMAN

TAFSIR 0

Ust. Zulkifli Rahman Al Khateeb

ayat 1“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari Shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah, “Ya Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS. Al Israa (17) : 78 – 82).

             Aqimish sholah…! Dirikanlah shalat…! Perintah ini asalnya adalah khusus kepada Rasulullah SAW, maka shighoh-nya adalah mufrad bukan jamak. Selanjutnya, ada yang menjadi wajib bagi seluruh pengikut Muhammad SAW dan ada juga yang merupakan “naafilah” (tambahan) yang diistimewakan khusus bagi Rasulullah SAW. Shalat yang disebut disini pertama adalah shalat lima waktu, kemudian kedua shalat sunnah ditengah malam.

            Adapun Shalat itu sendiri mencakup rukun iman secara keseluruhan.

–           Shalat adalah perlambang syahadat, dimana didalamnya ada dua kalimat syahadat yang dibaca berulang-ulang setiap duduk tahiyat,

–           Shalat adalah perlambang puasa, karena puasa ketika Shalat adalah puasa yang sesungguhnya. Orang yang sedang Shalat dia tidak sekedar menahan dari makan dan minum tetapi juga menahan diri dari berbicara, menoleh, berjalan-jalan dan aktifitas lainnya.

–           Shalat adalah perlambang dari zakat. Kalau zakat yang biasa kita tunaikan dari harta benda yaitu menyisihkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kita, Shalat adalah menyisihkan sebahagian waktu yang Allah berikan kepada kita. Jika orang mengatakan  waktu adalah uang, maka menyisihkan waktu adakalanya lebih berat dari sekedar menyisihkan uang. Jika seseorang menyisihkan uang, maka jelas jumlah uang yang dia sisihkan, tetapi ketika dia menyisihkan waktu yang adalah uang maka dia bahkan tidak mampu membayangkan berapa jumlah uang yang akan dilewatkan dari waktu yang dia sisihkan itu.

–           Shalat adalah perlambang haji, karena didalamnya kita menghadap ke ka’bah. Di situ kita menghadirkan Allah di dalam benak kita sebagai pengganti dari kita datang Shalat di depan ka’bah ketika berhaji. Maka kita menghadap ke arah ka’bah dari tempat kita masing-masing.

–           Shalat itu sendiri adalah rukun Islam.

            Maka pantaslah jika shalat itu disebut tiang dien, siapa yang menegakannya atau mendirikannya, maka dia telah menegakkan dien dan barang siapa yang mengabai kannya, maka dia mengabaikan dien.

            Ketika kalimat pertama yang Allah SWT sebut dalam Al Quran surat Al Isra’ ayat 78 ini adalah “aqimish sholah” karena shalat memang istimewa dibanding dengan rukun Islam lain yang perintahnya datang melalui wahyu sementara perintah shalat adalah perintah langsung, karena betapa sangat pentingnya.

            Adapun urutan shalat yang disebut dalam ayat ini dimulai dari shalat Dzuhur. Jika kita renungkan dari perjalanan isra’ dan mi’raj Rasulullah SAW, beliau berangkat di malam hari dan kembali setelah matahari terbit atau waktu Dhuha. Maka shalat fardu yang pertama yang dilakukan oleh Rasulullah tentunya adalah shalat Dzuhur, sesuai dengan urutan yang disebutkan dalam ayat ini, “lii duluukisy syamsi” maksudnya mulai dari “tergelincirnya matahari”, “Ilaa ghosakil laili” artinya “hingga gelap malam”. Maka termasuk di dalamnya shalat Dzuhur, shalat Ashar, shalat Maghrib dan shalat Isya’. Selanjutnya secara tersendiri Allah SWT menyebutkan shalat Shubuh dalam ungkapan, “Qur’aanal Fajri.”

            Ketika seseorang menyem purnakan shalat lima waktunya mulai dari Dzuhur hingga Shubuh, maka dishalat Shubuh itulah puncak kesempurnaannya yang disebut, “Kaana masyhuuda,” artinya “mendapat persaksian dari para malaikat.” Sebagaimana kita ketahui banyak riwayat yang menerangkan tentang keutamaan shalat Shubuh.

            Pada penyebutan urutan shalat dalam ayat ini, Allah SWT tidak meng gabungkan penyebutan kelima waktu shalat itu sekaligus, akan tetapi terpisah antara shalat Dzuhur hingga Isya dan shalat Shubuh tersendiri. Antara Isya dan Shubuh ada waktu yang cukup panjang, yang disebutkan pada ayat berikutnya (ayat 79), yaitu shalat Tahajjud. Tahajjud atau al Hajjud bisa berarti tidur, maka shalat Tahajjud bisa diartikan juga shalat setelah tidur meskipun sebentar diawal malam. Untuk shalat yang satu ini, Allah SWT mengkhususkannya sebagai tambahan bagi Rasulullah SAW, tidak difardhu-kan kepada ummatnya, karena khusus kepada Rasulullah SAW, Allah akan menurunkan “Qaulan tsaqiilaa” (QS. Al Muzammil:1-5).

            Maka, jika ummat Muhammad sudah melaksanakan shalat lima waktunya, selesailah tugas dan kewajibannya, kecuali bagi mereka yang juga ingin mengambil bagian untuk ikut memikul beban risalah dan dakwah sebagaimana yang telah dibebankan kepada Nabi Muhammad SAW, maka jangan sampai mereka melalaikan shalat Tahajjud ini, karena memang antara tanggung jawab risalah dan dakwah dengan shalat Tahajjud adalah pasangan yang tidak boleh dipisahkan, ibarat dua kaki yang berjalan, jika salah satunya tidak ada maka pasti akan menjadi pincang.

            Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW setiap merasakan beban urusan yang berat beliau segera melaksanakan shalat. Allah SWT menyebut kannya dalam Al Quran surat Al Muzammil (73) ayat 6,

ayat 2“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzammil (73) ayat 6).

            Malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk bermunajad, untuk curhat, untuk melapor, untuk memohon ampun dan bertaubat, ketika kepala kebanyakan orang  terasa berat karena dikuasai rasa kantuk atau tertidur pulas, saat itulah pembawa misi risalah dan dakwah datang menghadap agar dia tidak merasa perlu untuk mengeluh dan curhat kepada selain Allah SWT. Sungguh Qiyaamul lail ini menyimpan “kekuatan iman” dan “ketahanan spiritual”  dalam menghadapi beban yang berat yang seyogyanya dipikul oleh Nabi utusan Allah SWT, sementara beban itu sekarang ini kita yang memikulnya. Tidaklah mungkin bagi siapapun akan mampu memikul beban itu kecuali dengan pertolongan Allah SWT.

            Maka, sungguh mengherankan jika seorang Muslim yang menyadari bahwa dipundaknya ada amanat risalah dan dakwah, ketika ditanya tentang shalat tahajjud dia mengatakan, “saya sibuk” atau “saya sangat sibuk berdakwah” padahal Allah SWT menjanjikan untuk dibukakan baginya pintu-pintu kebaikan, kemudahan dan maqom yang terpuji.

            Pada ayat yang ke-80, Allah SWT membimbing kita untuk suatu do’a yang sangat kita perlukan, yaitu: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”

            Disini ada dua jalan, jalan masuk dan jalan keluar. Jalan masuk disebutkan terlebih dahulu, karena memang dia lebih penting daripada jalan keluar. Jika kita renungkan lebih dalam, ternyata, ketika kita masuk kepada sesuatu, berarti juga kita keluar dari sesuatu yang lain, tetapi Allah SWT menyebutkannya di sini secara terpisah antara jalan masuk dan jalan keluar.

            Ternyata masing-masing jalan ini punya dua jalur, jalur yang benar dan jalur yang salah. Adalah fitrah manusia, mengangan-angankan sesuatu atau ingin mendapatkan sesuatu yang belum dia miliki. Sebagaimana Allah SWT sebutkan dalam Al Quran surat Ash Shaff ayat 13.

            Untuk mendapatkannya dia akan mencari jalan, maka dia akan dihadapkan pada jalan yang benar dan jalan yang salah. Inilah pilihannya, maka adalah penting dia bermohon kepada Allah SWT agar bisa masuk melalui jalan masuk yang benar. Begitu pula ketika dia berada pada kondisi terjepit atau terdesak pada suatu masalah yang besar, maka akan terbentang pula dihadapannya jalan keluar yang benar dan jalan keluar yang salah dari kesulitan yang dia hadapi. Maka adalah penting dia bermohon kepada Allah SWT agar bisa keluar melalui jalan yang benar. Sebagai contoh, seseorang yang menginginkan kekayaan atau pekerjaan, jalan manakah yang dia pilih untuk mendapatkannya atau masuk ke dalamnya?, ini adalah pilihannya. Atau ketika seseorang dengan terpaksa terlibat masalah keuangan kemudian dia ingin terbebas darinya, dia memerlukan jalan keluar, ini juga adalah pilihannya, jalan keluar mana yang akan diambilnya?, apakah dia akan memilih jalan keluar yang berupa riba? Sementara dia ketahui bahwa ini jalan keluar yang salah? Disinilah pentingnya dia bangun, ketika banyak orang sedang terlelap tidur. Apalagi terhadap sesuatu yang berhubungan dengan misi risalah dan dakwah.

            Ketika seseorang istiqamah untuk memilih jalan masuk yang baik dan jalan keluar yang baik pula, Allah SWT akan menambahkan satu harapan lagi baginya, yaitu agar Allah SWT menjadikan baginya kekuatan yang menolong (Sulthonan Nashiiroo). Dalam hal ini, Allah SWT menggabungkan kekuatan spiritual dan kekuatan material yang dibutuhkan oleh pengemban misi risaalah dan dakwah untuk tetap eksis dijalan yang benar, sebagaimana juga disebutkan oleh Allah SWT dalam QS. Al Hadid, ayat 25.

Edisi 59 - Tafsir“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”.

            Ketika dua kekuatan ini tergabung, maka disitulah berlaku firman Allah SWT, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (Qs. Al Isro’ ayat 81).

            Pada ayat berikutnya, Allah SWT mengingatkan para pengemban amanat dakwah, bahwa semua kepedihan dan rasa sakit yang harus mereka tanggung sudah Allah SWT siapkan obat dan penawarnya, maka jangan sampai dia melupakannya, yaitu Al Quran yang diturunkan. Obat bagi semua penyakit lahir maupun bathin, agar lahir bathinnya sembuh dan sehat dan penawar bagi lahir bathin yang sehat agar tidak terkena penyakit.

            Semoga Allah SWT meringankan kita semua untuk melaksanakan shalat lima waktu kita dan membantu kita dalam shalat malam (Qiyyamul Lail) kita, dalam dakwah dan perjuangan kita, dan menjadikan bagi kita jalan masuk yang baik, jalan keluar yang baik serta kekuatan yang menolong, Aamiin!. Wallahu a’lam.

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts