PERLU ORANG BERANI UNTUK MENEGAKKAN KHILAFAH

OPINI 0

Semua sistem di dunia ini bisa dikenal dari ciri pemimpinnya. Misalnya kalau Presiden pemimpinnya maka sistemnya biasa dikenal dengan sistem demokrasi, kapitalisme atau komunisme. Kalau Raja maka sistem yang digunakan adalah kerajaan dan lainnya. Di dalam Islam juga dikenal sistem Islam dan pemimpinnya, dulu sistemnya bernama An Nubuwah (kenabian)  dan Nabi sebagai pemimpinnya (sistem kenabian hanya sampai Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam) dan setelahnya adalah sistem Khilafah dan Khalifah /Amirul Mukminin sebagai pemimpinnya. Sesungguhnya sistem Khilafah inilah yang harus di tetapi oleh kaum muslimin.

Secara bahasa, Khilafah memiliki arti pengganti atau wakil, sehingga Khalifah juga bermakna pemimpin pengganti atau yang terus bergantian dari waktu ke waktu. Sejak awal setelah kenabian (An Nubuwah), sudah silih berganti para Khalifah, dari Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq Radiallahu anhuma, Umar bin Khathab Radiallahu anhuma, Utsman bin Affan Radiallahu anhuma, Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhuma, Muawiyyah Radiallahu anhuma dan seterusnya hingga mengalami kevacuman di tahun 1924 M dengan masa yang cukup lama”.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Senantiasa Bani Israil dipimpin oleh seorang nabi, setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudah aku (Rasulullah). Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka bahkan berjumlah banyak. Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami ketika itu?” Nabi bersabda, “Penuhilah bai’at yang pertama, yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepemimpinan mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 30, Allah Subahanahu wata’ala sebutkan bahwa Allah hendak menjadikan Khalifah dimuka bumi, yakni nabi Adam Alaihisalam, yang nanti akan bertindak sebagai pemimpin di muka bumi. Karena manusia adalah para Khalifah, maka pemimpinnya pun haruslah seorang Khalifah juga, bukan yang lain. Allah Subahanahu wata’ala berfirman,

“Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah (2) : 30)

Saat ini Kekhalifahan sudah mulai diwujudkan kembali (baca Ma’lumat terbentuknya kembali Kekhalifahan) tapi belum tegak, sehingga butuh orang-orang berani untuk menegakkannya, sedangkan kita dapati masih banyak kaum muslimin yang pengecut, buktinya ketika diajak berjuang menegakkan Islam dalam bingkai Khilafah masih banyak yang berkelit dengan berbagai alasan dan bantahan. Bahkan ada yang menuduh Khilafah ini hendak membuat negara dalam negara, padahal negara ini jelas dan Khilafah bukan negara juga jelas. Selain itu alasan lain berupa tuduhan bahwa Khilafah ini hendak memberontak, padahal semua kenyataan sangat tidak mendukung tuduhan tersebut.

Khilafah diwujudkan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, melaksanakan hukum Allah, karena itu terkait erat dengan keimanan kaum Muslimin, berdasarkan ayat Allah yang berbunyi, “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisa (4) :65).

Dari ayat diatas dapat kita pahami bahwa semua amalan kaum Muslimin betapapun banyaknya jika masih ada ketidak relaan dengan aturan Allah atas diri mereka maka keimanan mereka tidak dianggap oleh Allah Subahanahu wata’ala.

Dalam Al Quranul kariim, surat Al Ahzab ayat 72 Allah Subahanahu wata’ala berfirman :

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Dari ayat tersebut ini juga bahwa syariah Allah Subahanahu wata’ala adalah amanat yang merupakan kewajiban manusia kepada-Nya, maka Allah sebut mereka yang enggan dengan kewajiban yang sudah diterimanya dengan dzalim dan bodoh. Wallahu a’lam. (red, disarikan dari tausiyah Amir Daulah Timur di Kemas’ulan Bangkat Monteh I, Sumbawa)

Facebook Comments
Tags:

Related Posts