PERINTAH BERSATU SEBAGAI SOLUSI DAN GAMBARAN AKIBAT PERPECAHAN

TAFSIR 0

Zulkifli Rahman AL Khateeb

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram, adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga); mereka kekal di dalamnya. Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi, dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan”. (QS. Ali Imran (3) : 100 – 109).

[217]  Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Ayat tersebut di atas turun berkenaan dengan provokasi yang dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Syas bin Qais terhadap suku Aus dan Khazraj dengan membangkitkan dendam lama sebelum mereka mengenal Islam, provokasi tersebut nyaris menyebabkan aksi pertumpahan darah sesama Muslim. Kedua suku besar tersebut memang pernah melewati saat-saat menegangkan di masa lalunya dengan saling memerangi satu sama lain. Di antara perang besar yang pernah mereka alami adalah perang Bu’ats yang banyak memakan korban dari kedua belah pihak. Provokasi itu kemudian membuat suasana semakin memanas sehingga kedua suku besar yang pernah berseteru itu mulai mengenang kembali dendam lama mereka. Suasana semakin memanas lagi manakala syair-syair permusuhan membangkitkan kenangan akan korban dan kerugian yang pernah mereka derita. Merekapun bersiap-siap menghunus pedang, hingga Allah yang bersemayam diatas ‘arsy menegur mereka dengan teguran yang keras; “Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?, ayat 101.

Allah menyebutkan insiden tersebut sebagai bentuk kekufuran. Kufur akan nikmat Allah yang telah menjadikan mereka bersaudara, kufur pada ayat-ayat Allah yang memerintahkan mereka tetap menjaga persatuan, kufur pada janji setia mereka untuk bersatu padu membela Rasulullah, bahkan kufur pada sumpah mereka karena tidak mengikhlaskan taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri mereka semata dan mau mentaati dan menuruti perkataan ahlul kitab, sebagaimana firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman (ayat 100). Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang pentingnya ketaatan kepada pemimpin Islam dan memberikan gambaran bahwa jika orang beriman masih tetap memberikan ketaatannya kepada sebagian dari ahli kitab, meskipun mereka juga mengaku berlandaskan wahyu (kitab suci mereka) maka lambat laun pasti mereka akan dipalingkan kepada kekafiran sesudah iman padahal kekafiran itu sudah jauh dari mereka, ayat-ayat turun, Rasul ada di antara mereka, maka Allah memerintahkan mereka agar tetap menjaga persatuan dan tidak mudah  terpengaruh pada provokasi. Firman Allah:? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Orang yang berpegang teguh kepada (agama) Allah itulah orang yang diberi petunjuk kepada jalan yang lurus meski dia berada di zaman manapun, bahkan Rasulullah memuji keutamaan mereka yang tetap beriman meskipun tidak bertemu Nabi dan Rasul. Rasulullah bersabda kepada para sahabat: “Orang mukmin yang mana yang saling menakjubkan keimanan mereka”, mereka menjawab; “para malaikat”, Rasul bersabda; “Bagaimana mereka tidak beriman sementara mereka berada di sisi Allah”, kemudian mereka berkata; “para Nabi”. Rasul menjawab; “bagaimana mereka tidak beriman sementara wahyu turun atas mereka”. Mereka berkata; “kalau begitu kami ya Rasulullah”. Rasul bersabda; “bagaimana kalian tidak beriman, sementara saya ada di antara kalian”. “Kalau begitu siapakah lagi yang paling menakjubkan keimanan mereka?” Rasul bersabda; “Suatu kaum yang datang setelah kalian, yang hanya mendapatkan lembaran-lembaran yang sampai epada mereka dan mereka beriman terhadap semua isinya. (HR. Bukhari).

Allah mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya baik yang menyaksikan turunnya Al-Kitab, menyaksikan Rasul, maupun yang hanya mendapatkan lembaran-lembaran, bahwa pada dasarnya para ahlul kitab senantiasa berupaya untuk mengajak kepada kemusyrikan dengan segala macam cara. Kalau dahulu mereka mengajak kepada menyembah berhala yang merupakan sebuah kemusyrikan sekarang inipun mereka mengajak kepada perpecahan, dengan berbagai dalih untuk membenarkan perpecahan itu, yang oleh Allah perpecahan itu disebut sebagai suatu bentuk kemusyrikan juga, firman Alllah dalam surat Ar- Rum ayat 30 : “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.(QS. Ar-Ruum : 30.

Berbagai bentuk kebanggaan yang ada pada golongan ahlul kitab misalnya, mereka bangga dengan sistim jahiliyah mulai dari bentuk perekonomian yang berbasis riba atau MLM (Multi Level Marketing), sistim politik yang berbasis demokrasi atau liberal atau sistim sosialisme absolute yang diikuti tanpa merasa bersalah oleh segolongan kaum Muslimin padahal mereka mempunyai sistem dan ajaran Allah yang lebih pantas untuk mereka banggakan.

Untuk keluar dari kondisi seperti itu Allah memerintahkan untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa dengan jalan beri’tishom billaah (berpegang teguh kepada tali Allah) secara keseluruhan, tidak berpecah belah, dan itulah yang disebut Allah orang yang telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (shiraathal mustaqim). Firman Allah :103. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, danjanganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

 Banyak nikmat Allah yang nampak sebagai bukti kebenaran langkah orang yang berpegang teguh, bersatu padu pada jalan yang ditunjuk Allah, seperti di antaranya yang disebut Allah pada ayat 103:  “Bersatu padunya hati dan perasaan dalam bentuk persaudaraan dalam nikmat Allah meskipun tadinya saling bermusuhan, “Diselamatkan oleh Allah dari api neraka, meskipun tadinya sudah berada di tepi jurang dan hampir terjerumus ke dalamnya, Demikianlah Allah menerangkan  ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan kalimat jami’an; artinya “mereka diperintah berjama’ah dan dilarang berpecah belah” Dalam beberapa hadits, Rasulullah menekankan akan pentingnya hidup berjama’ah sebagai realisasi dari pelaksanaan sistim Allah. Rasulullah bersabda : “Jika tiga orang keluar bershafar, hendaklah mengangkat salah satu di antara mereka menjadi Amir” (HR. Abu Dawud dan lainnya, shahih Jami’ As-Shaghiir : 500).

Jika ada tiga orang saja orang beriman itu Rasulullah perintahkan mereka mengangkat seorang amir, bagaimana dengan yang lebih dari tiga? Ayat selanjutnya (104) Allah menerangkan tentang pembagian tugas, Allah ta’ala berfirman bahwa hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang siaga untuk menjalankan perintah Allah beramar ma’ruf nahi munkar, mereka ialah para mujahidin dan ulama. Abu Ja’far Al-Baqir berkata: Rasulullah membaca ayat ini (104), maksud ayat ini ialah hendaklah ada segolongan orang (ummat/thoifah) yang berjuang dalam bidang ini sesuai dengan kapasitasnya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, yang artinya: “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya, jika dia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”.

Dalam riwayat lain dikatakan; selain ketiga perbuatan itu tidak ada lagi keimanan meskipun sebesar biji sawi. Maka wajib ada segolongan ummat/thoifah yang bergerak di bidang ini tetapi dia tetap berada didalam jama’ah. oleh sebab itu Allah mengingatkan dalam ayat setelahnya supaya thoifah ini tidak menjadi suatu kesatuan sendiri, berjalan dengan kemauannya sendiri tanpa ketaatan kepada seorang imam atau kholifah. Allah mengingatkan supaya thoifah ini tidak menjadi firqoh sendiri, atau menyerupai firqoh. Maka pada ayat berikutnya Allah ta’ala mengingatkan dengan segenap kasih sayang kepada hamba-hambaNya yang berkemungkinan dapat terjerumus ke dalam bentuk firqah sementara mereka tidak menyadarinya. Allah berfirman: Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. (105).

Allah melarang mereka mengikuti jalan orang-orang yang berselisih setelah datang keterangan yang jelas padahal hujjah telah ditegakkan kepada mereka. Kemudian Allah mengancam mereka dengan azab yang pedih, mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat (105). Ayat berikutnya menerangkan tentang hitamnya wajah orang-orang yang kufur setelah iman, kekufuran dalam bentuk yang diterangkan pada ayat sebelumnya (101) Firman Allah : 106. Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

 Jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya maka orang-orang yang mukanya putih berseri adalah orang yang orang yang bersatu dalam tali Allah dan tidak bercerai berai, sementara orang yang yang mukanya hitam legam adalah orang yang mengisi hidupnya dengan perpecahan dan saling bermusuhan. Sudah yakin dia bahwa Allah memerintahkan bersatu dan mengharamkan perpecahan, namun nafsu keduniaan dan berbagai dalih serta argumentasi yang dianggap rasional membuat mereka enggan bersatu, dan tetap berada dalam perpecahan hingga menghembuskan nafas terakhir. Mereka itu yang disebut oleh Allah sebagai orang yang kafir setelah beriman dan ditanya dengan pertanyaan yang tidak berjawab : “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.(106).

Selanjutnya firman Allah : 107. “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, Maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya”.Siapa yang tidak ingin berada dalam rahmat Allah dan kekal di dalamnya? Sekiranya untuk dapat berada dalam rahmat Allah dan kekal di dalamnya itu kita harus mengorbankan seluruh kenikmatan dunia ini, tentu tetap masih untung kita. Apalagi Allah masih mengingatkan kita untuk tidak lupa bagian kita dari kenikmatan dunia sebagaimana firman Allah dalam Qs. 28 ayat 77.

Orang yang merugi adalah orang yang menjadikan realita kehidupan sebagai alasan untuk tidak taat kepada perintah Allah. Ayat-ayat Allah yang berupa perintah yang jelas dan tegas, diadu dengan kenyataan hidup dan perkembangan zaman kemudian dia berkata: “sekarang belum saatnya untuk taat kepada perintah ini dan itu, karena zaman sekarang tidak sama dengan zaman dahulu, dst…”. Padahal kalau dia mau, dia mampu melaksanakan ayat-ayat Allah itu, hanya saja tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Atau dia merasa bahwa Allah dzolim (aniaya) kepadanya dengan memerintahkan sesuatu yang diluar kemampuannya. Padahal Allah berfirman : 108. “Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.109. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepadaAllah-lah dikembalikan segala urusan”. (QS. Ali Imran: 108-109).

 Semoga Allah menunjukkan al-haq kepada kita dan meringankan langkahkita untuk mengikutinya, dan semoga Allah menunjukkan pula yang bathil kepada kita serta memampukan kita untuk neninggalkan kebathilan itu. Amin Ya Mujibas Saa’iliin. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts