Hikmah dan Peristiwa-Khilafatul Muslimin_pak Jaly
Hikmah dan Peristiwa-Khilafatul Muslimin_pak Jaly

Pak Jaly, Tolak Hadiah Mobil Baru “Hanya” Karena Fatwa Khalifah

Nama asli Madely Selamet, biasa orang memanggil pak Jaly. Beliau perantau di Jakarta dari Pekalongan. Sempat aktif di beberapa harakah Islam dan saat ini berada di Khilafatul Muslimin. Keteguhannya dalam sami’an wa tho’atan terkait fatwa khalifah dapat dijadikan teladan bagi kita semua. Tidak peduli apa kata orang yang penting selalu berada diatas kebenaran (alal haq) adalah prinsip beliau. Berikut petikan wawancara Pimred majalah Al-Khilafah, Ustad Mukhliansyah dengan beliau:

Assalamualaikum Wr Wb pak Jaly, bagaimana khabarnya?
Waalaikumussalam Wr Wb, Alhamdulillah ana dalam kondisi sehat berkat doa antum, begitu juga ana berharap redaksi dalam kondisi baik.

Langsung saja Pak Jaly, mohon berta’aruf kepada kami dari nama, usia dan latar belakang keluarga dan pendidikan.
Baik Jazakumullah Khair atas waktunya, nama ana Madely Selamet namun biasa orang memangil Pak Jaly, lahir di Pekalongan, 30 Juni 1965, punya anak lima dari satu ibu. Empat anak ana disekolahkan di Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyah (PPUI), pendidikan milik Khilafatul Muslimin yang berbasis Khilafah dan satu masih balita. Melihat keadaan ana dulu, ana berazam berapapun anak yang Allah karuniai nantinya akan saya masukan ke Pondok Pesantren semua dan berharap terbina masalah agamanya karena itulah yang paling utama. Karena di Khilafatul Muslimin sudah didirikan pendidikan maka ana menyekolahkan anak-anak ana kesana Alhamdulillah, anak ana yang pertama sudah lulus dan sudah menikah dengan anak nya Ust. Mustofa Zaelani (Amir Wilayah Lampung Selatan).

Kemudian bagaimana pak Jaly bisa bergabung dengan perjuangan melalui sistem Khilafah (Khilafatul Muslimin) ?
Sekitar tahun 2000 ana narik bajaj di Jakarta, kebetulan montirnya pak Sahidin. Ana sama pak Sahidin masih di NII shafnya Ust. Ajengan dan di bina oleh Ust. Amir Al Fath ketika itu (sekarang Amir Wilayah Bogor). Saat itu pak Sahidin ikut kongres Mujahidin diJogjakarta dan pulangnya membawa berita bahwa telah dimaklumatkan Kekhalifahan (Khilafatul Muslimin). Ust. Amir Al Fath juga sudah bergabung didalamnya, jadi ana mendapat kabar tentang Kekhalifahan dari pak Sahidin dan Ust. Amir Al Fath. Setelah ana gabung, maka ana bersama pak Sahidin dan ikhwan-ikhwan yang lain terbina di Khilafatul Muslimin ikut acara perdana yaitu Ta’dibul Mubalighin Gel II di kantor pusat. Ana mendakwahkan al Haq ini kepada keluarga, istri dan anak-anak, ipar, mertua dan saudara-saudara yang memungkinkan dan Alhamdulillah banyak juga yang bergabung.

Apa yang membuat pak Jaly yakin bahwa Khilafah ini adalah Al Haq!
Ana meyakini bahwa Al Haq itu cuma ada satu jalan sebagaimana dalil Al Qur’an dan Al Hadits yang pernah saya pelajari, bahwa setelah Nabi Muhammad r maka tidak ada lagi Nabi, yang ada adalah sistem Khilafah dan Khalifah sebagai pemimpinya. Fakta sejarah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in mereka berkhilafah tidak dengan sistem lain. Memang selama ini ana terus mencari dan ana sudah pernah masuk beberapa harakah Islam. Alhamdulillah atas petunjuk Allah akhirnya saya menemukan Khilafah Islam. Inilah satu-satunya yang ana yakini sebagai sistem Islam yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah.

Pernah mempunyai pengalaman menarik selama pak Jaly aktif di Khilafatul Muslimin?
Ketika aktif di Khilafatul Muslimin banyak orang yang menghina, mengatakan sesat dan lain sebagainya. Mereka katakan pengajian apa itu, malah membuat kamu tidak bisa bekerja mencari nafkah dan lain sebagainya, tetapi saya tidak peduli karena saya yakin dan tidak ada keraguan bahwa inilah Al Haq. Pernah yang punya kontrakan tempat ana buka toko di Jakarta Selatan mau mengusir ana karena sering mengadakan pengajian di disana. Alhamdulillah atas izin Allah, setelah diberi penjelasan oleh ikhwan-ikhwan kita, akhirnya mereka mau mengerti. Di struktural ana pernah diamanahkan sebagai petugas Baitul Maaliyah (BM) Ummul Quro, pernah sebagai mas’ul ummah di Jakarta Utara dan sekarang ana menjadi staf kemas’ulan bagian Haaritsul Maaliyah (Pengawas Keuangan).

Kami mendengar bahwa pak Jaly tidak lagi menjual rokok setelah mendengar fatwa khalifah tentang rokok. Bisa bapak ceritakan tentang ini?
Terkait fatwa khalifah tidak hanya merokok, pernah dulu ana kredit motor, begitu turun fatwa khalifah bahwa kredit adalah bagian dari riba maka dua bulan setelahnya ana melunasi dan tidak pernah kredit barang lagi. Sementara mengenai merokok ana sempat berfikir kalau menjual tidak mengapa. Ketika ada silaturahim di Ragunan ada warga yang bertanya ke khalifah tentang bagaimana hukum orang yang menjual rokok, beliau menjawab sama saja dengan orang yang merokok. Mendengar penjelasan khalifah ana menjadi bimbang dan kepikiran terus. Kemudian pada akhirnya ana berazam untuk meniadakan rokok di toko ana terhitung sejak tanggal 26 Nov 2011. Alhamdulillah sudah berjalan kurang lebih tiga tahun.

Banyak orang yang bertanya kenapa tidak menjual rokok? Bahkan ada yang mengatakan bukan warung namanya kalau tidak menjual rokok, warung apa ini? Ana tidak peduli, selama tindakan ana benar sesuai syariat, terserah apa kata orang. Setelah sebulan ana tidak menjual rokok, pernah sales nya datang menyampaikan kepada ana ada kabar gembira. “Selamat bapak mendapat hadiah cuma-cuma dari perusahaan rokok berupa satu buah mobil baru Avanza tahun 2011″, katanya. Dia menjelaskan ini peluang langka sekali, seribu satu dengan syarat bapak harus jualan rokok lagi. Ana jawab “kalo seribu satu, seribu yang menerima berarti 1 nya saya pak yang menolak”. Dan saya tegaskan dengan bismillah saya menolak berjualan rokok karena ini adalah masalah prinsip, pertanggung jawabanya langsung kepada Allah, bukan ke sampean.

Sales rokok nya sempat ana dakwahi. Pertama ana tanya “Atasan kamu yang nyuruh menjual rokok apa dia merokok? Dia jawab enggak pak! Saya nasehatkan, bos kamu saja tidak merokok kamu malah muter-muter sibuk nawarin rokok. Kamu faham kan mudharat yang ada pada rokok? Cobalah cari perkerjaan lain yang lebih barokahnya, rejeki Allah yang halal tersebar dimuka bumi ini, nasehat ana. Sebulan setelahnya si sales ada nelpon ana dan menyampaikan alhamdulillah saat ini sudah tidak menjadi sales rokok dan sekarang membuka usaha kecil-kecilan usaha keripik dan ana terus menghubungi beliau dalam rangka dakwah.

Beberapa bulan yang lalu, toko orang Cina yang biasa ana langganan belanja mampir ke toko ana, dia melihat-lihat dan dia tidak mendapati ada rokok yang dijual. Kemudian dia menanyakan berapa sewa toko bapak ini? Ana bilang 30 juta pak! Kemudian kata dia, bagaimana kalau saya bantu setengahnya (15 juta), Wah Alhamdulillah kalau mau bantu dengan senang hati pak, kata ana dalam rangka apa ya kalau boleh saya tau? dia jawab, saya mau titip dagang rokok di toko bapak, bagaimana? Ana sampaikan 140 juta saja (mobil Avanza) ana tolak. Akhirnya saya kembali tegaskan bahwa saya tidak akan jualan rokok lagi karena ini masalah prinsip.

Kalau boleh tahu omset per hari khusus untuk jualan rokok saja sekitar berapa ya pak Jaly?
Waktu saya jualan rokok per hari omset sekitar dua juta, dari barang dagangan yang lain juga sekitar dua juta jadi semua kalo di gabung omset sehari sekitar empat juta. Tapi waktu jualan rokok biar omset lumayan hati saya tidak tenang dan bimbang, mungkin karena kurang barokah. Alhamdulillah setelah tidak menjual rokok omset bertambah dari barang belanjaan lain dan ana yakin Allah ganti dari yang lain yang lebih barokah dan hati saya menjadi tenang dan tidak bimbang lagi.

Terakhir pak Jaly apa saran dan harapan antum yang ingin disampaikan khusus kepada warga Khilafatul Muslimin?
Hendaklah kita selalu di jalan yang benar (alal haq), memperhatikan terus ketaatan kita kepada Allah, Rasul-Nya dan Khalifah. Terkait fatwa khalifah hendaknya kita sami’an wa tho’atan, tidak usah banyak dalih, insya Allah rahmat Allah akan turun. Kemudian mengenai kegiatan kekhalifahan Islam yang membutuhkan biaya ana punya tips sedikit mungkin bisa bermanfaat. Terkait acara di Klaten kami di struktural sini mengajak ummat untuk berhemat, menabung. dan mengumpulkan barang-barang bekas (rongsok). Alhamdulillah dari mengumpulkan rongsok kami dapat mengumpulkan uang yang cukup lumayan dan bisa membantu sekali pembiayaan untuk acara di Klaten.

Baik pak Jaly kami rasa wawancara ini sudah cukup semoga apa yang kita bincangkan dapat diambil hikmah dan manfaatnya, jazakumullah khair atas waktunya.

Facebook Comments

Related Posts