MUSLIMAH, CURHATMU SESUAIKAN SYARI’AT !

Ummu Ilham

            Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, tak selamanya apa yang kita inginkan bisa kita raih. Berbagai ujian datang dan pergi. Semua orang pasti pernah merasakan kegagalan. Semua orang sudah tentu pula pernah  merasakan sesuatu yang tak pernah ia inginkan. Apalagi mempunyai masalah dan problematika hidup. Rasa kecewa, sedih, pilu, bahagia, senang, silih beganti menghampiri perjalanan hidup kita. Itulah sunnatullah. Masalah dengan teman, orang tua, guru, pekerjaan, bahkan rumah tangga.  Karenanya diperlukan ketaqwaan dan keyakinan yang kuat pada Ilahi Robbi dalam  menyikapi masalah kehidupan ini.

Yakub menjawab : “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”.  (QS. Yusuf : 86).

            Namun sayang, dalam menyikapi segala masalah dan problem hidup ini tak semua kita menyikapinya dijalan yang dibenarkan Allah dan Rasul-Nya. Masih banyak yang memilih jalan jauh dari syari’at. Diantaranya masih banyak yang apabila didera masalah dan problem, lebih suka curhat pada teman, sahabat, keluarga atau bahkan benda mati seperti boneka kesayangan atau benda-benda lain yang jelas-jelas tak dapat berbuat apa-apa. Tak heran, banyak terjadi ketika curhat pada teman yang awalnya diharapkan bisa membantu keluar  dari masalah justru berujung pada fitnah. Na’udzubillah.

             Bahkan kini, sering kita temui orang-orang yang apabila mempunyai masalah, sedikit-sedikit mencurahkannya di jejaring sosial seperti facebook atau twitter hingga semua orang yang menggunakan media tersebut dapat mengetahui apa yang tak perlu diketahui orang lain. Status update-nya berisi kegalauan hati, hidup yang penuh penderitaan, kekesalan, kecurigaan, kecemburuan, dendam, amarah, bahkan cacian pada seseorang, dan jadilah santapan umum untuk dibaca dan diketahui. Semua orang yang dikenal maupun yang tak mengenal kini tahu betapa hidupnya penuh kegetiran dan kepahitan, jauh dari kebahagiaan dan ketentraman. Tak perduli  curhatan itu aib atau bukan. Tak perduli imbasnya akan menuai malu pada diri sendiri dan anak cucu dikemudian hari atau tidak. Astaghfirullah ! Sungguh  amat  memprihatikan.

Allah Subahanahu wata’ala berfirman : “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (QS. Qaff : 16)

             Ukhti fillah yang dirahmati Allah, jika Allah saja sudah berfirman betapa Dia amat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher, mengapa kita harus  mencari tempat  curhat dan mengeluhkan segala problem kepada selain-Nya?  Begitu dekatnya  ilmu Allah dan begitu dekatnya Allah bersama orang-orang yang beribadah dan dekat pada hamba-Nya yang senantiasa hanya memohon pada-Nya.  Allah Subahanahu wata’ala, Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, lalu mengapa kita memilih curhat pada sesama makhluknya?

            Rasulullah Shallahu alaihi wasalam bersabda, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” (HR. At Tirmidzi). Artinya, cukuplah hanya kepada Allah saja segala curhatan kita curahkan. Tak perlu mencari tempat lain. Dan sungguh tak layak apabila segala masalah dan problem yang sedang kita hadapi  kita sebar dan kita adukan kepada sesama makhluk Allah yang sama-sama lemah, sama-sama bodoh, sama-sama membutuhan bimbingan dan kekuatan dari Sang Kholiq. Hanya Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan permohonan hambaNya yang memohon. Allah Subahanahu wata’ala befirman,

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah ada Rabb(yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. (QS. An Naml : 62).

           Curhat atau curahan hati memang sudah fitrah manusia. Karena manusia diciptakan oleh Allah memiliki perasaan. Namun curhat kepada sesama manusia sesungguhnya hanyalah meringankan beban sesaat. Ketika kita sedang bingung dan murung karena masalah yang terasa begitu menghimpit, sahabat atau teman terpercaya akan terasa lebih meringankan beban. Ia dengan rela dan setia mendengarkan segala keluhan dan curhat kita meski tak dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Canda dan gurauan sahabat sedikit menghibur kegalauan hati kita.

               Sebaik-baik curhat adalah diatas sajadah. Berdua-duaan hanya dengan Allah, di sepertiga malam ! Akan hadir keyakinan bahwa Allah Subahanahu wata’ala selalu menolong hamba-Nya, kapan dan dimanapun. Ada rasa syukur dan nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

             Tanpa disadari selama ini kita sedikit sekali bersyukur kepada Allah dan terlalu asik oleh duniawi, hingga lalai pada-Nya. Padahal, nyatanya tak ada yang bisa memahami dan mengerti kita kecuali Allah Subahanahu wata’ala. Jadi, tak ada tempat dan waktu  lagi untuk curhat di medsos yang hanya mendatangkan aib dan mudharat. Jauh dari syari’at. Cukuplah hanya kepada Allah Subahanahu wata’ala kita curhatkan segala perkara kita. Dan cukuplah Allah sebaik-baik Penolong dan Pelindung. Hatipun menjadi tenang lagi tentram. Allah berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar Ra’d : 28).

              Khalifah /Amirul Mukminin, syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ juga turut memperhatikan hal ini, maka diturunkan surat instruksi dari pusat agar jangan menjadikan medis sosial menjadi ajang curhat, tetapi jadikan medsos sebagai media dakwah. Tinggal kita para ummahat hendaknya menjaga sam’an wa tho’atan sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts