MENETAPI JALAN ALLAH YANG SATU

TB. Ahmad Husaini

Beruntunglah kita karena Allah Subahanahu wata’ala telah menamai kita Kaum Muslimin sejak dahulu (QS. 22 : 78), mengapa demikian? Karena Islam adalah dienut Tauhid. Satu-satunya jalan menuju keridhaan Allah Subahanahu wata’ala (QS.Ali Imran (3) : 19, 83 & 85). Misi seluruh Nabi dan Rasul (QS. 21 : 25 & 92). Bagaimana dengan Agama samawi lainya? Ketahuilah agama Yahudi dan Nasrani tidak lagi bertauhid karena mereka telah berpecah belah menjadi beberapa golongan, oleh karena itu siapapun ummat yang berpecah belah dan bergolong-golongan telah keluar dari Tauhid  dan terjebak dalam kemusyrikan. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama rnereka, dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan rnereka”. (QS. Ar Rum (30) : 31-32).

Bagaimana mungkin Allah akan Meridhai perpecahan ummat Islam, setelah Dia memelihara mereka dengan tali (Dien)Nya?. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadiah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara”. (QS. Ali Imran (3) : 103).

Kemudian, Allah perintahkan Nabi-Nya untuk  melepaskan tanggung jawabnya dan (Allah Subahanahu wata’ala) mengancam mereka atas perpecahan tersebut. Sebagaimana Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah Dien nya dan rnereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”. (QS Al An’am (6) :159).

Muawiyah bin Abu Sufyan berkata, “Ketahuilah, bahwasanya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu bersabda, “Ketahuilah, bahwasanya Ahlul Kitab sebelum kalian terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan bahwasanya. ummat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di Neraka, dan hanya satu yang di Surga, yaitu Al Jama’ah. (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/102; Abu Dawud no. 4597; Darimi 2/241; Thabrani 19/367, 88-885; Hakim 1/128; dan yang lainnya. Hadits ini shahih)

MENGENAL JALAN YANG SATU

Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu Kitab Allah (Qur’an) dan Sunnahku (Hadits)”. (Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwaththa’ 2/899). Begitu terang dan jelasnya petunjuk baginda Nabi r diatas, adanya jaminan tidak akan tersesat selamanya menunjukan penekanan kesungguhan agar kaum muslimin senantiasa berinteraksi dengan Kitabullah. dan jika ditinjau dari ekstensinya, Sunnah Rasulullah itu sama dengan kitab Allah yakni sebagai wahyu, dan Sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah. (baca QS. An-Nahl (16) :44).

Oleh karena itu, jika timbul perpecahan dan perselisihan diantara ummat Islam, Rasulullah memerintahkan ummatnya agar berpegang teguh dengan sunnahnya. Beliau bersada,“Dan sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku, dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang dibert hidayah yang mereka di atas petunjuk. Berpegang teguhlah padanya, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah perkara-perkara yang baru (dalam agama): karena sesungguhnya, setiap perkara yang baru (yang diada-adakan dalam agama) adalah bid’ah”. (Hadits shahih diriwayatkan Abu Daud, no. 4607; At Tirmidzi, no. 2676)

Dari Abdullah bin Mas’ud y, ia berkata, “Rasullah Shalallahu alaihi wasalam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, “Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca, firman Allah, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, rnaka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Karena jalan-jalan itu rnencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. (QS Al-An’am (3) : 153). (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad I/435).

Imam Ibnul Qayyim menafsirkan  bahwa jalan yang dimaksud disini, ialah “rukun tauhid yang kedua”  Yaitu persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Beliau berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepadaNya, kecuali melalui jalan ini. “(At Tafsir Al Qayyim, halaman 14-15.)

Dari keterangan diatas dapat kita simpulkan bahwa bersatu dalam Al-Jamaah yang telah dipraktekan /dicontohkan Nabi Shalallahu alaihi wasalam adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan (keridhaan Allah), begitupun para sahabat setelah Nabi Shalallahu alaihi wasalam wafat mereka senantiasa bersatu dalam Al Jama’ah yang dipimpin oleh seorang Khalifah (sebagai pengganti nabi). Para sahabat faham betul akan perintah Nabi Shalallahu alaihi wasalam didalam sabdanya, “Aku perintahkan kepada kamu sekalian lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintah-kanku dengan lima perkara itu, yakni berjama’ah (bersatu), mendengar, thaat, hijrah dan jihad fi sabilillah … (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202).

Demikianlah kiranya penjelasan mengenai Jalan Allah yang satu, tidak ada penyimpangan atas jalan tersebut tidak pula merupakan jalan yang baru dikarenakan perbedaan waktu dan tempat. Setiap orang Islam yang benar pastilah bertauhid dan konsekwensi dari tauhid itu adalah persatuan (berjama’ah) bukan perpecahan. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts