MEMBANGUN KELUARGA YANG SAMI’NA WA ATHO’NA

Oleh : Ust. Ahmad Shobirin

ayat

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At Taubah (9) : 71).

            Ayat diatas menggambarkan kehidupan orang-orang beriman baik laki-laki maupun perempuan wajib topang-menopang dalam kehidupan mulai dari keluarga sampai kepada tingkat jama’ah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Bukan sebaliknya saling pimpin-memimpin untuk melepaskan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai sumber segala keputusan hukum, sebagaimana yang kita lihat kebanyakan kenyataan ummat Islam dewasa ini.

            Padahal Rasulullah SAW dalam sepak terjangnya mulai dari periode Mekah hingga periode Madinah, tidak lain dalam rangka menegakkan Dienullah dan membumi hanguskan Dienunas.

            Tidak dapat disangkal lagi bahwa Rasulullah SAW didalam langkah-langkah perjuangannya telah mulai mengikat bibit-bibit unggul melalui pembinaan-pembinaan yang berdasarkan wahyu, sehingga nantinya akan melahirkan suatu generasi baru, yang jiwanya telah dipenuhi semangat militansi kedua orang tuanya yang telah disinari oleh wahyu.

            Sudah banyak kita lihat dalam sejarah Islam, bagaimana keluarga yang telah di sinari oleh wahyu dapat membentuk pribadi-pribadi yang militan, baik jiwa suami, istri maupun terhadap anak-anaknya. Mereka semua siap diatur oleh aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya dibawah ketaatan terhadap Ulil Amrinya.

            Sejarah mencatat begitu besarnya peranan mukminat didalam perjuangan menegakkan Dienullah sebagai tempaan dari Rasulullah SAW tanpa harus mengorban kan fitrahnya sebagai wanita. Salah satu contoh adalah Khonsa binti Amr RA, seorang wanita yang mempunyai keinginan yang sangat besar untuk menumpas musuh-musuh Islam, dengan kesadaran yang tinggi akan keberadaan dirinya sebagai seorang wanita. Dia curahkan seluruh perhatian dan tenaganya untuk mendidik anak-anaknya didalam rumah untuk menjadi kader-kader mujahid yang tangguh. Ia tanamkan nilai-nilai perjuangan Islam, sikap-sikap sam’an wa tho’atan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amrinya.

            Ketika panggilan jihad telah tiba dengan didorong oleh iman yang kuat serta sikap sam’an wa tho’atan yang tinggi kepada Allah, Rasul dan Ulil Amrinya dia wakafkan empat orang anak-anaknya kepada Rasulullah untuk memperkuat barisan mujahidin dalam menumpas musuh-musuh Islam. Ketika keputusan Allah telah ditetapkan atas anak-anaknya, Khansa berkata “segala puji bagi Allah, rasa syukur kupanjatkan kepada-Mu yang telah memuliakan diriku dengan kesyahidan dari anak-anakku”.

            Inilah lisan yang keluar dari seorang ibu yang mencintai anak-anaknya setelah mengetahui anak-anaknya telah gugur sebagai syuhada. Khansa telah membina anak-anaknya, Ia yang telah disinari oleh wahyu sehingga mendapat predikat “Ibu para syuhada”, mempunyai andil yang sangat besar dengan sikap sam’an wa tho’atan yang telah terpatri didalam keluarga mujahid tersebut.

            Kisah ini adalah salah satu teladan bagi muslimah didalam menentukan arah perjuangannya dengan kembali kepada fitrahnya, bukan berarti muslimah itu mundur tetapi Ia melangkah maju menuju kemuliaan tugas yang diamanahkan kepadanya. Sesuai dengan fitrahnya muslimat dapat menjadi tongak-tongak perjuangan yang amat kokoh yaitu Ia sebagai pendorong semangat bagi kaum laki-laki agar dapat tampil dimedan jihad sebagai mujahid yang tangguh.

            Muslimah dapat membina mujahid-mujahid yang handal yang berani berlaga di medan Jihad menghadapi musuh-musuh Allah dalam rangka untuk menegakkan Dienullah (Iqomatuddien).

CIKAL BAKAL KEKUATAN KAUM MUSLIMIN

            Bila kita kaji secara mendalam ternyata keberhasilan Rasulullah SAW didalam menegakkansyari’at Islam ditengah-tengah sistem jahiliyyah (thagut), tidak lain karena sebelumnya Rasulullah SAW telah berhasil mengkader pemuda-pemudi secara pribadi dan keluarga dengan menancapkan Aqidah Lailaha Ilallah kepada pribadi dan keluarga didalam sebuah rumah sahabat yang bernama Al Arkom bin Al Arkom.

            Dari rumah Al Arkom inilah cikal bakal kekuatan kaum muslimin awal dalam menumbangkan kekuatan musuh-musuh Islam. Pembinaan di rumah Al Arkom telah melahirkan kader-kader handal, antara lain dari jajaran pemuda dan terdapat nama-nama seperti Amr bin Yasir RA, Bilal bi Rabah RA, Ali bin Abi Thalib RA, Abu Bakar Ash Shidik RA dan banyak lagi sahabat yang lainnya.

            Sedangkan dari kalangan muslimah terdapat nama-nama seperti Siti Khadijah RA, Nasibah binti Ka’ab RA, Tsumayyah RA dan lain sebagainya. Mereka semua adalah kader-kader yang ditarbiyah yang disinari wahyu oleh Rasulullah SAW. Dari kurun pembinaan selama periode Mekah dalam rentang waktu sekitar 13 tahun, kemudian dimatangkan ibarat tunas pohon yang mulai tumbuh dan berkembang, terus dipelihara dan dijaga sampai datang masa kedewasaan. Pembinaan terus berlanjut sampai tingkat pembinaan hubungan keluarga. Rasulullah menikahkan putrinya  Fatimah RA dengan Ali bin Abi Thalib RA, Rukayah RA dengan Utsman bin Affan RA dan lain sebagainya.

PEMBINAAN UMMAT MULAI DARI MASIH LEMAH SAMPAI MEMILIKI KEKUASAAN TETAP DALAM SISTEM ISLAM

            Perlu difahami bahwa Rasulullah SAW membina para sahabat-sahabatnya mulai dari pribadi, keluarga hingga nantinya menjadi masyarakat Islam yang memilki kekuatan dan menggapai Izatul Islam wal Muslimin ini, Rasulullah SAW tidak pernah keluar dari sistem Kenabian, maka begitu pula bagi generasi-generasi selanjutnya dalam menggapai Izatul Islam wal Muslimin seharusnya tidak boleh keluar dari sistem Islam, yaitu sistem Khilafah. Membina Aqidah dalam sistem Khilafah, hijrah dan jihad dibawah komando seorang Khalifah sebagai Ulil Amrinya.

            Satu hal yang tidak bisa diterima oleh akal yang sehat bahwa kalau sudah memiliki kekuasaan saja baru berhak dipimpin oleh seorang Khalifah sedangkan tatkala masih lemah harus di pimpin oleh pemimpin golongan (firqah). Bagaimana akan mencapai suatu kekuasaan sedangkan masih lemah saja sudah berpecah belah, bagaimana akan mencapai langkah-langkah selanjutnya langkah satu saja belum dimulai. Maka ummat Islam walau masih lemah wajib berada dalam sistem Islam yaitu sistem Khilafah, untuk mulai dibina Aqidahnya kemudian berjalan sesuai isyarat Allah didalam Al Qur’an dan contoh Rasulullah SAW dalam sepak terjang perjuangannya.

KELUARGA SEBAGAI BASIS KEKUATAN ISLAM

            Hidup ini adalah tidak lain hanyalah untuk ibadah, sedangkan ibadah itu terdiri dari tiga ketaatan yaitu taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan Ulil Amri (QS. An Nisa (4) : 59). Pernikahan didalam Islam adalah ibadah maka Ia harus bisa melahirkan pelanjut bagi perjuangan Islam sebagai wujud ibadahnya. Kalau seorang mujahid adalah gambaran sosok yang sudah terpatri dalam dirinya tiga ketaatan maka keluarga mujahid didalam Islam adalah gambaran keluarga yang harus sudah terpatri pula pada setiap pribadinya tiga ketaatan. Dimana komponen-komponen keluarga inilah nantinya akan berkelanjutan dengan pembangunan jama’ah dalam Islam yaitu pembangunan ummat yang bertauhid.

            Besar dan kuatnya ummat dalam jamaah Islam nanti ini akan sangat bergantung pada tolak ukur awal dalam memilih pasangan hidup. Kalau hanya rasa “cinta berai” yang dijadikan tolak ukur bukan Aqidah maka nafas keluarga ini tidak akan lama, “cinta berai” itu laksana balon sabun yang indah warnanya sesaat dan akan segera lenyap ditelan oleh kehampaan. Lenyap ke alam ketiadaan.

            Maka seorang mujahid atau mujahidah didalam memilih calon pasangan hidup, hendaknya betul-betul bertolak ukur kepada Aqidah bukan kepada “cinta berai” semata.

            Inilah orang-orang yang telah berada didalam jama’ah yang betul-betul telah memilki sikap sam’an wa tho’atan yang baik, karena bertitik tolak dari keluarga yang Islami. Dari keluarga inilah perjuangan akan dilanjutkan menuju tegaknya Dienullah diatas bumi Allah ini sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dalam firmannya, “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Dien apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, Tegakkanlah Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada Dien-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. As Syuraa (42) : 13). Wallahu a’lam.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts