MAKAR ALLAH PASTI YANG TERBAIK

TAFSIR 0

Zulkifli Rahman Al Khateeb

“Sesungguhnya Allah, Rabb ku dan Rabb mu, Karena itu sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus”. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia : “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan Dien) Allah?” para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab : “Kamilah penolong-penolong (Dien) Allah, kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang ke Esaan Allah)”. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (QS. Ali Imran : 51-54).

Ini adalah pernyataan Nabi Isa As kepada kaumnya untuk menggambarkan bahwa mereka adalah sama dihadapan Allah dalam hal penghambaan. Bahwa saya (Nabi Isa AS) dan kalian (kaumnya) adalah sama-sama hamba Allah SWT, sama-sama punya kewajiban beribadah kepada Allah, karena Allah itu adalah Rabbku dan Rabb kalian, Rabb kita bersama, maka fokus penyembahan kita adalah kepada Allah. Saya (Nabi Isa AS) memberi peringatakan kepada kalian ini bukan karena saya ingin menjadi pemimpin kalian, akan tetapi Allah lah yang menentukan saya untuk melakukannya, “Inilah jalan yang lurus”.

Kalimat “hadza sirathimustakim” dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa, setelah Nabi Isa AS menyatakan bahwa Allah adalah Rabb kita, pernyataan yang bersifat Aqidah, Beliau juga menunjukan manhaj dalam praktek ibadah tersebut, bahwa jalan yang ditempuh dalam ibadah itu adalah jalan yang lurus, bukan lainnya. Dan bahwa jalan yang lurus itu adalah bersifat untuk mencapai tujuan.

Adalah suatu yang lumrah bahwa setiap Nabi pasti menunjukan jalan untuk kaumnya untuk mencapai tujuan akhir mereka, yaitu Kebahagian akhirat, hanya saja sebagian besar ummatnya akan merasa berat untuk menempuh jalan yang lurus ini, maka seorang nabi atau pembawa misi risalah harus menggunakan seluruh panca indranya untuk bisa mendeteksi siapa saja yang bersedia mengikuti Jalan yang lurus dan siapa yang enggan. Ketika kita memberi nasehat kepada seseorang tentang jalan yang lurus ini, serta merta kita dapat merasakan perubahan raut muka orang tersebut, ada yang langsung bermuka masam dan ada juga nampak keceriaan di wajahnya, senang dan gembira menerima nasehat dan peringatan.

Demikiannlah ketika Nabi Isa AS memberi peringatan dan nasehat kepada kaumnya, tiba-tiba belau merasakan bahwa ada diantara kaumnya yang tidak suka, ada yang lebih memilih kekufuran daripada iman sebagaimana dinyatakan Allah didalam ayat ke 52 nya, “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia : “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan Dien) Allah?” para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab : “Kamilah penolong-penolong (Dien) Allah…”. “Man anshori ilallah”, siapa penolong-penolong agama Allah, ini artinya garis pemisah antara mereka yang bersedia menjadi penolong agama Allah dan mereka yang tidak bersedia.

Jika kita cermati ayat ini kita akan dapatkan bahwa Allah mengklaim tidak bersedia menolong agama Allah  sebagai orang kafir, yaitu orang yang terasa kekufuran mereka oleh Nabi Isa AS. Suatu ketika dimasa Rasulullah SAW, beliau juga pernah berkata kepada kaumnya, “Siapa yang bersedia menolongku kepada Allah”, ketika musim haji beliau pernah menyampaikan kepada tamu baitullah yang datang, wahai semua kaum, sesungguhnya Quraisy melarangku untuk menyampaikan risalah dari Rabbku dan melarang orang-orang untuk beriman, siapakah di antara kalian yang menolongku ?, maka bangkitlah beberapa pemuka dari Yatsrib yang bersedia menyatakan menjadi anshor (penolong). Secara sembunyi-sembunyi pada malam harinya mereka bertemu di bukit Aqobah, melaksanakan perjanjian besar, meletakan pondasi yang kokoh, dalam penegakkan Dienullah. Suatu persaksian yang ditulis dengan tinta emas oeh sejarah Islam, itulah “Bai’at Aqobah”.

Pada peristiwa “Bai’at Aqobah“ ini Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengambil bai’at kalian untuk melindungi dan menolongku sebagaimana kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian”. Adda’ bin Ma’rur RA segera menjabat tangan Rasulullah SAW dan berkata, “baik ya Rasulullah, demi dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, kami pastilah akan menolongmu dan melindungimu, sebagaimana kami melindungi sarung-sarung kami (melindungi anak dan istri kami)”, maka mereka semua menyatakan bai’at. Abi Haisyam bin Tihan RA bangkit dan berkata sesungguhnya antara kami dan orang-orang Yahudi yang ada di Yastrib ada berbagai ikatan, yang setelah bai’at ini pastilah kami akan memutuskannya, apakah nanti setelah Allah memenangkan Engkau atas kaumu, apakah engkau akan kembali kepada mereka dan meninggalkan kami? Rasulullah SAW tersenyum dan berkata tegas, “Darah adalah darah, binasa adalah binasa, aku adalah bagian dari kalian, dan kalian adalah bagian dariku, aku akan memerangi siapapun yang kalian perangi, dan berdamai kepada siapapun kalian yang berdamai dengannya”. Artinya, kalaupun harus bersimbah darah kita akan bersimbah darah bersama, kalaupun kita akan binasa maka kita akan bisana bersama, tidak akan ada yang lari meninnggalkan kalian”.

Demikianlah tonggak pertama dari penegakkan Islam pada masa Rasulullah SAW, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi dahulu pada masa Nabi Isa AS. Maka ketika Nabi Isa AS berkata, siapa yang mau menjadi penolongku, orang-orang hawariyyun menjawab “Nahnu Anshorullah”, kamilah penolong Allah”, kami telah beriman kepada Allah maka saksikanlah bahwa kami muslim artinya hanya orang kafir yang tidak bersedia menolong Allah.

Ayat “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya (makar), dan Allah membalas tipu daya (makar) mereka itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (makar)”, dalam ayat ini Allah menentukan otoritas pribadi-Nya dalam membalas makar (tipu daya), tidak menyerahkan pembalasan makar kepada hamba-Nya, maka Allah tidak katakan “Wamakaru wamakarol muslimun” (mereka orang-orang kafir membuat makar maka orang-orang muslim membalas makar mereka), tidaklah demikian akan tetapi Allah sendiri yang membalas makar. Maka sebagai hamba Allah dalam hal ini kita tidak punya hak untuk berfikir-fikir bagaimana membalas makar orang-orang kafir, bagi kita cukup meningkatkan ibadah kepada Allah saja, yaitu ibadah dalam artian luas.

Jika para ulama menentukan berbagai rukun dalam ibadah seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji maka sesungguhnya itu adalah bagian dari ibadah, bukan berarti hanya itulah yang disebut ibadah, sebab jika kita melaksanakan apa saja yang menjadi perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang Allah itu adlah ibadah, apa saja. Kalau kita melakukannya atas adasar perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk ibadah, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jika kita melaksanakan apa yang semua Allah perintahkan, ketundukan kita dalam menjalankan semua yang Allah perintahkan dan menjauhi segala yang dilarang, otomatis akan menjadi balasan atas makar orang kafir, karena Allah mengetahui sikap dan karakter mereka dan Allah sudah membuat dan menyiapkan tangkisan dari semua bentuk makar mereka berupa perintah dan larangan. Ibarat kata ketika Allah mengatakan lakukan ini, lakukan itu atau jangan begini, jangan begitu pada hakekatnya adalah tangkisan dari semua makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Sebagai orang beriman kita hanya perlu mempelajari dengan teliti untuk dapat kita amalkan dengan teliti semua jurus-jurus yang Allah ajarkan. Jika seorang pesilat yang hebat, yang sudah berpengalaman hingga masa tuanya ingin mengajarkan muridnya untuk menghadapi musuh besarnya, dia tentu sudah tau kelemahan dan kekuatan musuhnya maka sang guru membentuk jurus-jurus dan gerakan-gerakan dengan berbagai arahan, bagaiman cara maju, bagaimana cara menghindar dan mengelak, jangan begini, jangan begitu dan lain-lain sebagainya, ketika bertemu musuh seorang murid tinggal mempraktekan jurus-jurus dan langkah-langkah yang telah diajarkan oleh gurunya, maka semua jurus-jurus itu akan otomatis menjadi penangkis daripada serangan jurus-jurus musuhnya yang telah diketahui oleh gurunya itu.

Allah Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Bijaksana telah menentukan, telah menyusun semua instruksi dan larangan daalam 114 surat dalam Al Qur’an. Tinggal kita mempraktekannya dengan teliti, maka terbalaslah makar orang-orang kafir, meskipun makar mereka itu tadinya mampu menggulung gunung, sebagaimana Allah SWT berfirman didalam QS. Ibrahim (14) : 46-47,

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar  padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu, dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan”.

Semoga Allah SWT memandaikan kita dan menjadikan kita orang yang teliti didalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam, menjadikan kita sebagai penolong-penolong agama Allah dan dengan kita teliti melaksanakan perintah dan larangan Allah maka otomatis akan menjadi pembalas bagi makar orang-orang kafir. Semoga Allah memandaikan, membimbing dan memudahkan langkah-langkah kita, aamiin. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts