Pelopor Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah
Pelopor Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah

Mahalnya Kepeloporan Dari Jiwa-Jiwa Yang Merdeka

BERITA KEKHALIFAHAN 0

Oleh: Ahmad MS

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 100).

Dalam gelapnya jahiliyyah, di tengah keruhnya dusta dan pahitnya pengkhianatan serta kentalnya maksiyat. Kala ummat melazimi pelacuran hingga mengaburkan tali nasab, di saat nilai kemanusiaan dilanggar oleh dzalimnya perbudakan, hilangnya kepercayaan akibat curangnya timbangan hingga kuatnya keyakinan pada “sabda” para dukun, Rasulullah saw diutus sebagai Nabi yang membawa wahyu dari Ar Rahman dengan misi rahmatan lil ‘alamin. Sebuah misi besar dalam kapasitas Muhammad yang begitu kecil dan terbatas bagi Quraisy, seorang yang terlahir yatim dan besar sebagai penggembala.

Selain itu, maklumat kenabian ditengah khalayak yang tidak akrab dengan wahyu dan kenabian bukanlah hal mudah, karena selain terdengar asing, ajaran tauhidnya secara diametral langsung berlawanan dengan keyakinan multy tuhan-nya musyrikin Quraisy. Resikonya jelas tidak enteng, peradaban jahiliyyah Quraisy yang ditopang oleh mapannya sistem kepemimpinan yang menaungi dan melindunginya, menjadikan pilihan meng-imani sang Nabi seolah mengakrabi perlakuan buruk Quraisy; diejek, dituduh gila, dilecehkan, diintimidasi hingga diancam bunuh sampai nyawa-pun melayang. Quraisy bisa saja membunuh kaum Muslimin kapan saja tanpa merasa bersalah.

Sehingga jika menggunakan kalkulasi matematis jelas tidak ada untungnya ber-identitas muslim kala itu. Sebab beriman berarti terikat dengan Rasulullah dan berlepas diri dari Quraisy. Jika bukan karena iman, pilihan tersebut seolah melepaskan kemapanan dan memilih “ketidak pastian”. Sementara disisi lain kepemimpinan Rasulullah tidak dapat memberi alternatif pengganti dari apa yang ditinggalkan, baik berupa harta benda maupun keamanan diri dan keluarga dari berbagai gangguan pasca keimanan dan keberpihakan mereka. Kalaupun ada, itu adalah janji surga yang begitu abstrak dalam perspektif kekafiran Quraisy. Hingga pantas saja, tidak ada orang munafik pada fase Makkah, karena tidak ada potensi sosial, politik maupun ekonomi yang bisa diraih atas pilihan tersebut, sementara potensi konflik-nya sangatlah pasti atas mereka dari kaumnya.

Namun anehnya, atas kehendak Allah generasi ghuroba (asing) muncul dari petak tanah di tengah gurun pasir ini (Makkah), yaitu dari mereka yang berjiwa merdeka. Mereka menjadi pelopor dalam mengimani serta melaksanakan ajaran Islam dibawah kepemimpinan Rasulullah saw dengan segenap resiko yang sudah mereka maklumi. Diantara mereka ada nama-nama; seperti Bunda Khadijah binti Khuwailid (istri tercinta dari Rasulullaah saw), sahabat Ali bin Abi Thalib, sahabat Zaid bin Haritsah, sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan seterusnya yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘assabiqunal awwalun’, satu sebutan yang menunjukan kepeloporan dalam keimanan, amal shaleh, jihad dan pengorbanan yang begitu mahal harganya, bahkan tidak dapat dibandingkan dengan seberapapun pengorbanan orang-orang yang datang kemudian. Sebagaimana disebutkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hadid [57]: 10)

Bahkan Robb mereka berfirman atas mereka; … Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah, ayat 100).

Pasca Rasulullaah saw wafat, Abu Bakar Ash Shiddiq tampil sebagai pemegang amanah Kekhalifahan. Modal dasar kepemimpinan; berupa wilayah kekuasaan, ummat yang setia, hukum yang tegak, mujahidin yang solid diwarisi oleh Abu Bakar Ash Shiddiq dari Rasulullaah saw. Kendatipun bukan hal mudah menjadi pelanjut kepemimpinan dari seseorang yang bergelar Nabi dan Rasul, karena beban moralnya berlipat-lipat, terlebih ketika dihadapkan pada ancaman disintegrasi dari para ahlu riddah, Nabi palsu, Jaisy Usamah yang urung berangkat karena wafatnya Rasulullah dan sebagainya. Namun karena kehidupan Islam harus dilanjutkan, Abu Bakar Ash Shiddiq tetap tegar, beliau sadar kepemimpinan adalah syarat utama kehidupan masyarakat agar persatuan dan hukum Islam bisa terus terpelihara, sehingga berbagai masalah tersebut dapat diatasi.

Selanjutnya, estafeta kepemimpinan dari Abu Bakar Ash Shiddiq dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Khathab kemudian Utsman bin Afffan dan Ali bin Abu Thalib ridwaanallaahu anhum ajma’iin yang disebut dalam fase Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyyin atau Khilafah ala minhaajin nubuwwah yang pertama, di Madinah dan Kuffah. Baru kemudian dilanjutkan oleh Khilafah Bani Umayyah di negeri Syam, Khilafah Bani Abbasiyyah di Irak dan Mesir dan terakhir sebelum masa kekosongan yang panjang Khilafah berada ditangan Bani Utsmaniyyah yang berkedudukan di Turki. Pergantian dari berbagai Kekhalifahan tersebut merupakan bagian dari sunnah tadawwul (sunnah peralihan) yang terus terjadi sebagai cara Allah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Allah swt berfirman:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim, (QS. Ali Imran [3]:140).

Setiap pergiliran diwarnai kemunduran (baca; keruntuhan) dari kepemimpinan sebelumnya dan kebangkitan dari calon pengganti bahkan kerap diwarnai dualisme kepemimpinan antara pelopor pembaharu dan pendukung status quo, sampai penggantinya berkuasa mutlak lewat seleksi ‘alamiyah dan robbaniyah. Selain itu dalam masa peralihan terdapat masa-masa fatroh (kekosongan) yang beragam rentang waktunya; 3 hari setelah wafatnya Rasulullaah saw, tahun 11 H, kemudian fatroh 6 bulan setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib, karena gonjang ganjing mengenai keabsahan pejabat Khalifah antara Hasan bin Ali bin Abu Thalib di Iraq atau Mu’awiyyah di negeri Syam hingga Mu’awiyyah berkuasa mutlak pasca integrasi Hasan bin Ali demi kesatuan ummat sejak tahun ke 40 H. Kemudian terjadi lagi fatroh selama 3,5 tahun dari keruntuhan Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad hingga dibangun kembali di Mesir pada tahun 656 H/ 1258 M hingga tahun 659 H/ 1261 M. Kelanjutan dari Mulkan Jabariyyan, fase yang sama pasca Abbasiyyah yang berpusat di Mesir dari tahun 659 H/ 1261 M hingga 923 H/ 1517 M adalah kekuasaan Khilafah Utsmaniyyah di Turki yang berlangsung hingga tahun ke 1342 H/ tahun 1924 M, baru kemudian terjadi masa fatroh yang panjang hingga tahun 1418 H/ 1997 M ketika maklumat kekhalifahan diwujudkan kembali di Indonesia.

Sepanjang bentangan sejarah tersebut, tangan-tangan para pelopor bekerja keras dibawah skenario Allah swt. Mereka bangkit berjama’ah menjadi pengganti bagi kerusakan dan pendobrak bagi kejumudan. Mereka berhasil merubah tantangan menjadi peluang dan hambatan menjadi pelajaran untuk mengokohkan keimanan dan loyalitas. Hambatan juga lah yang membentuk karakter dan penguatan misi, bermuara pada semakin jelasnya target dan ketepatan strategi untuk mencapainya. Untuk itu para pelopor adalah mereka yang senantiasa berada dalam shaff jama’ah dengan semangat sami’na wa atho’na yang diibaratkan Bunyaanun Marsus (QS. Ash Shaff [61]: 4) dengan sifat-sifat para pengganti yang melekat sebagaimana firman Allah swt.:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui. (QS. Al Ma’idah [5]:54)

Sejak tahun 1418 H/ 1997 M lalu, Khilafatul Muslimin telah dimaklumatkan kembali sebagai pelopor kepemimpinan Khilafah ala minhaajin Nubuwwah setelah masa fatroh (tanpa Kekhalifahan dan tanpa ada maklumat Kekhalifahan) selama lebih kurang 76 tahun hijriyyah atau 73 tahun masehi. Maklumat ini tentu bukan hal yang “remeh temeh” atau muncul tiba-tiba tanpa kajian ilmiah dan strategis bukan pula wujud atas ambisi memimpin dan berkuasa karena ia tidak lahir dari rahim sebuah kekuasaan atau pusaran politik praktis sebagai tangga menuju kekuasaan. Maklumat ini lahir dalam rangka ibadah semata kepada Allah swt setelah melewati renungan panjang atas tuntutan syari’ah dan realitas. Bahkan posisi Khalifah/ Amirul Mu’minin sudah ditawarkan secara sirr (diam-diam) kepada beberapa orang tokoh mujahid selama lebih kurang 3 tahun pertama dan baru diumumkan secara luas ketika Kongres Mujahidin I Indonesia di Jogjakarta tahun 2000 M.

Kini, setelah para pelopornya menikmati anugerah “diremehkan”, Khilafah mulai menjadi pembicaraan dan diperhitungkan, bahkan oleh mereka yang sempat sinis dan apriori. Perkembangan system Khilafah pun lebih cepat dari perkiraan para penonton dan analisis para pengamat, Alhamdulillaah!.

Kita yakini bahwa penegakkan Khilafah berada diantara dua kutub, yaitu; bersatu sebagai kewajiban syari’at yang harus kita realisasikan, dan kekuasaan yang merupakan janji Allah, janji yang diperuntukan bagi mereka yang memiliki ciri khusus dan mau menyiapkan syarat-syaratnya. Ketika berbagai syarat belum terwujud kewajiban bersatu tetap wajib ditunaikan, karena posisi kewajiban lebih tinggi daripada seabrek syarat-syarat, baik yang pokok maupun hasil lamunan dari para idealis yang tidak realistis. Tidak batal kewajiban tanpa kekuasaan, karena berjama’ah adalah kewajiban kita, sementara anugerah kekuasaan itu urusan Allah. Mari kita laksanakan apa yang menjadi kewajiban kita dan biarlah Allah yang urus apa yang telah menjadi janji-Nya. (QS. An Nur [24]: 55).

Jika kita sungguh-sungguh, maka kepeloporan ini jelas terlalu mahal untuk dilupakan oleh sejarah bahkan terlampau susah untuk dilupakan oleh para ‘alim dan ‘abid yang ikhlas dalam untaian do’a-do’a mereka kepada Robb-nya, dan tentu saja akan semakin istimewa manakala anugerah Khilafah (baca; janji kekuasaan dari Allah) betul-betul terwujud di atas tanah tempat kita berpijak, karena kita bisa berharap kepada Allah hal demikian menjadi indikasi keberkahan dan ridho Allah atas perjuangan ini, Aamiin…!. Wallaahu a’lam…! [AhmadMS/NP]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts