KIPRAH PEMUDA ISLAM DALAM IQOMATUDDIEN

TARBIYAH 0

Ustadz Ahmad Shobirin

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka, mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?  Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan iulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah (9) : 111).

Sungguh tidak bisa dilupakan orang-orang yang telah menjual drinya kepada Allah SWT, masa itu adalah suatu masa dimana generasi terbaik, generasi asabiqunal awalun, menjejakan kakinya dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan Dien yang hakiki, yaitu Dienul Haq yang datangnya dari Sang Pemilik Surga dan Neraka.

Generasi asabiqunal awalun adalah generasi Islam awal, yang telah menorehkan goresan tinta emas tentang keteguhan didalam memegang prinsip keikhlasan dan keberanian didalam berjuang. Generasi ini adalah pejuang-pejuang pertama yang tiada bosan-bosannya menabuh genderang kebenaran, menyulut lampu penerang ditengah-tengah gelapnya jahiliyyah. Mereka tidak henti-henti nya memperjuangkan kebenaran itu sendiri hingga kemenangan kunjung menyambut mereka atau sampai mereka hancur karenanya.

Sejarah mencatat sepak terjang generasi ini dengan sangat baik, sebab generasi ini lahir dalam tempo yang sangat singkat dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, dan dari kalangan orang-orang yang tidak diperhitungkan menurut pandangan manusia, yaitu dari kalangan pengembala kambing dan budak, yang menurut ilmiah tidak mungkin generasi ini dapat melahirkan peradaban yang agung dan menakjubkan serta dapat memenangkan pertaruhan dengan tempo yang sangat singkat. Bahkan dapat menguasai kekuasaan adikuasa yang saat itu dipegang orang-orang kafir, yaitu Persia dan Romawi.

ALLAH PERGILIRKAN KEKUASAAN

Di dalam Al Qur’an Allah SWT menegaskan,

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka,maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran (3) : 140).

Dihadapan manusia ini sesungguhnya hanya ada dua jalan, jalan yang pertama adalah jalan yang datangnya dari Allah SWT dan akan menuju kepada Allah, inilah yang disebut fisabilillah, jalan perjuangannya orang-orang beriman, jalan ini akan menuntun manusia ke Surga. Orang-orang yang berada di jalan ini senantiasa memperjuangkan tegaknya “Lailaha Ilallah”, atau tegaknya aturan-aturan Allah.

Kemudian jalan yang kedua adalah jalan yang bukan datangnya dari Allah dan tidak akan menuju kepada Allah, inilah yang disebut fisabilithagut, jalan perjuangannya orang-orang kafir. Jalan ini akan menjerumuskan manusia ke Neraka, orang-orang yang berada di jalan ini akan berusaha untuk menghancurkan “Lailaha Ilallah” dengan memperjuangkan tegaknya aturan-aturan ra’yu (akal/buatan manusia).

Selama bumi ini masih berputar pada porosnya, maka selama itulah pergesekan antara orang-orang yang berada di dua jalan akan terus terjadi hingga hari kiamat, adakalanya orang-orang beriman yang menang dan adakalanya orang-orang kafir yang menang. Maka kemenangan atau masa kemerdekaan dan masa kekalahan atau masa penjajahan, antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir akan dipergilirkan oleh Allah SWT.

Sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut, yang pertama agar dijadikan pelajaran, yang kedua agar jelas siapa yang beriman dan siapa yang kafir, yang ketiga agar terciptanya para syuhada’.

Pertama, harus dijadikan pelajaran. Bagi orang-orang yang beriman hendaknya bisa memetik pelajaran dari masa kemenangan dan kekalahan. Dari masa kemerdekaan atau masa penjajahan yang telah dipergilirkan oleh Allah, bahwasannya kemenangan atau kemerdekaan yang dinikmati oleh kaum muslimin ini tidak lain karena kaum muslimin masih berkomitmen atau tetap menjaga ketaatan terhadap unsur-unsur ketaatan didalam Islam itu sendiri, yaitu taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan Ulil Amri diantara orang-orang beriman. Melenceng sedikit saja dari ketaatan dari tiga unsur ini, sebagai contoh tidak taat pada Ulil Amri seperti yang terjadi pada Perang Uhud, maka akibatnya fatal bagi kaum muslimin. Karena kemenangan atau kemerdekaan bagi kaum muslimin sebenarnya adalah pertolongan dari Allah, bukan karena kehebatan kaum muslimin, periksa QS. Al Anfal (8) ayat 17 dan pelajari juga sejarah perang Hunain.

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Anfal (8) : 17).

Maka setiap mujahid hendaknya memelihara diri dari nilai-nilai yang akan menimbulkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai akibat tidak sami’na wa atho’na terhadap Allah, Rasul dan Ulil Amri.

Kedua, kata Allah agar jelas siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Tatkala ummat Islam berada dibawah sistem kekafiran, atau ummat Islam sedang memperjuangkan kemerdekaannya maka akan jelas siapa yang sudah tunduk kepada aturan-aturan kekafiran atau thagut dan siapa yang masih tetap istiqamah dengan segala resiko untuk memperjuangkan Diennya agar tegak dan berada dalam satu derap, satu langkah dibawah ketaatan terhadap Ulil Amri mingkum. Maka disini akan jelas, siapa yang iman nya murni dan siapa yang imannya palsu, sebagaimana Allah tegaskan,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al Ankabut (29) : 2 – 3).

Ketiga, agar terciptanya para syuhada. Ketika sudah terjadi bertemunya dua pasukan, yaitu pasukan orang-orang beriman dan pasukan kafir, maka orang-orang beriman yang gugur dalam memperjuangkan Diennya dalam jihad Qital, maka nilai kematiannya itu adalah bernilai sebagai syuhada’ yang mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Dan nilai kematian sebagai syuhada adalah kemaatian yang bernilai tinggi derajatnya di sisi Allah, sampai Allah menggambarkan bahwa orang yang mati syahid (para syuada’) bahwa mereka tetap hidup. Sebagaimana Allah SWT berfriman,

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup #], tetapi kamu tidak menyadarinya”. (QS. Al Baqarah (2) : 154).

#], yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

UMMAT ISLAM DAN STATUS KEMERDEKAANNYA

Fenomena ummat Islam pada hari ini, kebanyakan belum memahami nilai kemerdekaan menurut Islam, sebagai bukti masih banyak ummat Islam di dunia yang menjadi pengokoh-pengokoh sistem kekafiran, banyak yang tunduk dan patuh kepada pemimpin mereka dari kalangan kafir.

Sesungguhnya kemerdekaan Islam ini harus bisa menggiring ummat Islam ke arah satu titik, yaitu mardhotillah atau ridha Allah. Inilah sebuah kemerdekaan Islam yang didambakan oleh seorang mukmin mujahid, yaitu Rib’in bin Amir tatkala berhadapan dengan panglima besar dari tentara Persia, yaitu Rustum. Ketika Rustum bertanya kepadanya, siapakah kamu ? Rib’in menjawab dengan tegas, “Kami ini adalah kaum yang dikirim oleh Allah agar kami berjuang untuk membebaskan manusia dari penyembahan terhadap manusia agar menjadi penyembah Allah SWT. Kami ini adalah orang yang berjuang unatuk membebaskan manusia dari aturan-aturan ra’yu (akal/buatanmanusia) kepada aturan-aturan wahyu (Allah).

TANGGUNG JAWAB BESAR PEMUDA ISLAM ATAS KEMERDEKAAN UMMAT ISLAM

Dari Pemuda Islam …. !

Kajilah sejarah ummat ini dimasa lampau, dan simaklah para leluhur dan pejuang-pejuangnya. Ketahuilah, apa yang telah di wujudkan oleh pemuda-pemudanya untuk kaum muslimin dan untuk kejayaan Islam itu sendiri. Lihatlah bagaimana pemudanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Islam, mereka bisa menikmati kemerdekaannya dengan kegigihan dan keuletan dalam mereka berjuang. Mereka korbankan harta mereka, korbankan waktu mereka, bahkan mengorbankan nyawa mereka, demi sebuah kemerdekaan Islam itu sendiri.

Untuk itu wahai pemuda Islam, bila ada sejuta orang yang berkecimpung di dalam sistem islam, semoga kalian termasuk di dalamnya. Bila ada sejuta orang yang memperjuangkan tegakknya Dienul Islam, semoga kalian termasuk di dalamnya.

Bersatu di dalam memperjuangkan tegaknya Dienul Islam ini adalah suatu kewajiban yang harus terpikul pada pundak-pundak orang-orang yang telah bersyahadatain. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts