KHILAFAH DAN JALINAN UKHUWAH GLOBAL

Ahmad MS

Mendengar kata ukhuwwah (persaudaraan) terasa indah dan menyejukkan. Dengannya, hijaulah kegersangan, termaafkanlah kesalahan, terselesaikanlah masalah, tersenyumlah semua kepada sesama, meski masalah begitu banyak mendera. Yah, semestinya seperti itulah jika ada ukhuwwah dan semestinya begitulah jika karena ukhuwwah.

            Dalam Islam ukhuwwah itu tiada lain dasarnya adalah iman, jika bukan karena iman maka tidak ada ukhuwwah yang hakiki. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat“. (QS. Al Hujurat [49]:10)

Ukhuwwah dalam ayat tersebut diatas langsung dikaitkan oleh Allah Subahanahu Wata’ala dengan keimanan, tidak dengan azas kesamaan nasab, tidak dengan kekayaan, tidak pula dengan jabatan dan tidak pula dengan azas kebangsaan atau dengan kenegaraan yang sama sekalipun, jika iman berbeda maka persaudaraan dan loyalitaspun hilang. Ini bukan hanya konsep kosong tanpa makna, tapi juga terbukti dalam realitas kehidupan kita. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain, jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar“. (Qs. Al Anfal [8]: 73)

Yang demikian itu, karena semua orang yang mengaku beriman adalah saudara kita, bagaimanapun keadaannya, strata sosialnya, jabatannya, dalam kelompok manapun dia saat ini dan dimanapun mereka berdomisili. Diantara kita dengan mereka senantiasa terikat hak dan kewajiban satu sama lainnya. Dalam Al Quran surat Al Hujurat [49] ayat 10 diatas persaudaraan juga dihubungkan langsung dengan perintah mendamaikan saudara (yang bertikai) diatas ketaqwaan kepada Allah dan Allah janjikan bagi kita rahmat-Nya. Bahkan pada ayat 9 dari surat Al Hujurat [49] sebelumnya, Allah Subahanahu Wata’ala memerintahkan orang-orang beriman agar mendamaikan dua golongan yang (jika) bertikai diantara mereka. Firman-Nya:

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil“. (QS. Al Hujurat [49]:9).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan Said bin Zubair meriwayatkan bahwa; ayat 9 dari surat Al Hujurat [49] ini turun berkenaan dengan pertikaian antara kaum Aus dan Khazraj. Adapun As Suddi meriwayatkan bahwa Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan seorang laki-laki dari kaum Anshor yang bernama Imran yang memiliki istri yang bernama Ummu Zaid. Ketika Ummu Zaid meminta izin untuk berkunjung ke rumah orang tuanya, Imran melarangnya, bahkan istrinya tersebut ia kurung dalam tempat tersembunyi. Suatu hari keluarga Ummu Zaid datang dengan maksud mengajak Ummu Zaid keluar dari rumahnya, melihat hal tersebut Imran kemudian memanggil keluarga besarnya hingga keadaan memanas bahkan sempat terjadi baku hantam antara kedua keluarga ini. Maka, turunlah ayat tersebut. Allah Subahanahu Wata’ala mengingatkan mereka agar cenderung kepada ishlah (perbaikan hubungan), bukan memperuncing masalah yang akan merusak nilai ukhuwwah.

Begitu banyak dalil Al Quran dan hadits lain yang menunjukkan betapa agungnya persaudaraan dalam Islam, seperti hadits-hadits berikut ini. “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. (Diantara mereka) tidak ada yang mendzalimi atau menyakiti” (HR. Al Bukhari). “Sesungguhnya Allah selalu menolong hamba-Nya selagi hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut seharusnya menjadi senjata ampuh bagi kaum Muslimin untuk menyelesaikan banyak masalah diantara mereka, fitnah perpecahan dan pertikaian akan hilang jika setiap orang menghindari adu domba dan sebaliknya berlomba-lomba mencari jalan perdamaian bagi pihak-pihak bertikai. Karena jika kita melihat struktur ayatnya, kedua kelompok yang bertikai tetap disebut oleh Allah Subahanahu Wata’ala sebagai orang-orang beriman, hanya saja mereka sedang bertikai dan itu sangat merugikan dan melemahkan kaum Muslimin sendiri.

Realitasnya persoalan ummat sejak dahulu kala bahkan hingga hari ini tidak terbatas pada kalangan internal mereka saja, tidak hanya pada satu pribadi dengan pribadi Muslim lainnya atau satu keluarga dengan kaluarga Muslim lainnya sebagaimana kita temukan pada keluarga Imran dan Ummu Zaid yang dengan mudah bisa diselesaikan. Lebih dari itu kaum Muslimin sedang mengalami penindasan dan kedzaliman dibawah persekongkolan jahat orang-orang kafir, musuh-musuh mereka. Meskipun diatas kertas dan di lisan mereka menyerukan persamaan derajat dan Hak Asasi Manusia (HAM) tapi itu hanya berlaku atas sesama mereka (orang-orang kafir), sedangkan kaum Muslimin tidak masuk dalam bagian itu, kaum Muslimin tetap saja terdzalimi, jangankan hak beragamanya hak hidup sebagai manusiapun seringkali tidak diindahkan. Dari berbagai perundingan, gencatan senjata, proses perdamaian tak ubahnya nasib kaum Muslimin hanya pindah tangan dari satu kedzaliman ke kedzaliman lain, ibarat “Keluar dari mulut biawak masuk ke mulut buaya, lepas dari mulut buaya malah masuk ke mulut naga, lepas dari satu permasalahan kecil malah terjerumus ke dalam masalah yang jauh lebih besar”

Oleh karena itu solusi Islam dalam hal ini tidak sekedar menjadi kewajiban pribadi melainkan kewajiban jama’I, dimana ummat Islam sebagai satu komunitas besar dunia harus tampil secara kolektif dan terpimpin agar memiliki harga yang pantas dihadapan musuh-musuhnya. Maka seruan bersatu dalam system Khilafah tidak pernah kehilangan momentum sepanjang sejarah perjalanan ummat Islam. Karena selain sebagai kewajiban kaum Muslimin, bersatu dan berkhilafah menjadi solusi satu-satunya bagi krisis multi dimensi yang dialami oleh kaum Muslimin. Ketika kita sebagai satu ummat hendak menolong saudara seiman kita dari kedzaliman musuh-masuh Allah yang telah menjelma sebagai naga-naga ganas yang menyemburkan api permusuhan dan peperangan, tentu kita tidak akan sanggup jika hanya mengandalkan sesosok pribadi atau satu kelompok saja walaupun ia seorang yang hebat atau kelompok yang kuat, bahkan Nabi SAW sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa ketika keluarga Ammar bin Yasir disiksa bahkan dibunuh oleh kafir Quraisy, padahal kita ketahui bahwa Nabi itu utusan Allah, backing-nya Allah Subahanahu Wata’ala, yang memiliki tentara dari kalangan Malaikat yang dengan mudah saja menghancurkan orang-orang kafir.

Disinilah, akal diberi ruang oleh Allah Subahanahu Wata’ala untuk berfikir mengenai kondisi ini, ruang bagi ibadah, ruang bagi perjuangan dan pengorbanan untuk menegakkan kalimah Allah sehingga kita punya kesempatan untuk berjihad merubah kondisi ini menjadi lebih baik. Dengannya kita bisa mendapatkan pahala yang agung hingga surga yang mulia. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka berusaha merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.  (QS. Ar Ra’ad [13]:11)

Tanda keimanan sudah jelas bagi kita terletak pada kecintaan seseorang kepada sesama Muslim. Karenaya, setiap orang yang mengaku peduli dengan nasib saudaranya harus ikut berjuang agar kunci dari semua kebaikan dapat terwujud dan azab dijauhkan oleh Allah Subahanahu Wata’ala.  Inilah bukti kasih sayang yang riil dan hakiki; ukhuwwah lahir dan batin. Ini adalah wujud ukhuwwah tertinggi seorang Muslim. Dia merasakan sakit yang tiada tara tatkala saudara-saudaranya di berbagai negeri seperti di Palestina, Suriah, Irak dan belahan dunia yang lain tidak bisa tidur nyenyak, kelaparan, terlunta-lunta menjalani hidup, tidak mempunyai harapan terhadap masa depan karena porak-porandanya seluruh sendi-sendi kehidupan Pekerjaan parsial seperti pemenuhan kebutuhan makan minum bagi mereka yang kelaparan, pelayanan kesehatan  bagi mereka yang sakit, dan penyelenggaraan pendidikan sebagai kebutuhan dasar ummat tetap harus berjalan sesuai kondisi yang ada. Namun semua harus dalam rangka upaya mewujudkan persatuan bahkan dalam konsep persatuanlah semua itu dikerjakan. Kondisi umat saat ini masih belum beranjak dari keadaan yang memilukan bahkan memalukan. Maka dari itu, perjuangan untuk tegaknya Khilafah adalah bentuk ukhuwwah sejati kaum Muslim. Yakni dengan terlibat aktif dalam barisan jamaah kaum Muslimin dan imam mereka yang memperjuangkan perubahan dengan penegakan Khilafah.

Belakangan ini kita dapatkan satu sinyal penting dari Khalifah/ Amirul Mu’minin, bahwa setelah melalui berbagai tahapan tarbiyyah dan perkembangan yang signifikan dalam jama’ah ini serta atas dasar persaudaraan dan kewajiban bersatu, kita diarahkan untuk melakukan interaksi aktif dengan berbagai kelompok dan pihak di luar jama’ah ini tanpa harus kehilangan jati diri apalagi minder dengan berbagai kondisi yang ada. Artinya, kitalah yang harus tampil aktif menjalin hubungan baik dan menyerukan persatuan diatas berbagai perbedaan yang ada dalam rangka ibadah, baik dengan kelompok lokal maupun dengan yang sudah meraih dukungan secara internasional. Karena hanya dengan persatuanlah rahmat Allah akan turun. Maka, kita tanggap dengan sinyal ini dengan mendatangi saudara kita yang lain, karena kita bersaudara, kita jalin silaturrahim dan komunikasi yang intens untuk mentautkan hati satu sama lain, dengan senantiasa berdo’a semoga Allah Subahanahu Wata’ala senantiasa membimbing dan menolong kita semua. Aamiin!. [AMS].

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts