KHILAFAH, BARU SEBATAS AGENDA BERSAMA UMMAT ISLAM

Sejak 1924 M, kaum Muslimin di dunia hidup tanpa naungan sentral kepemimpinan, hingga terpecah belah menjadi sekitar 70 an negara Nasionalis yang tidak terikat satu sama lain dengan ikatan Islam, yang adanya adalah ikatan nasionalisme, kebangsaan (ashobiyah) yang jelas-jelas hal ini dilarang didalam Islam. Sehingga kaum Muslimin di suatu negara begitu mudah dihinakan, wilayahnya dijajah, darahnya ditumpahkan, kehormatannya dilecehkan, dan agamanya dinistakan.

Hingga yang terkini, Iraq dan Suriah termasuk Palestina, menjadi satu-satunya negeri Muslim terjajah yang hampir tanpa perlawanan berarti dari seluruh negeri Muslimin, tetapi ada secercah sinar dengan dideklarasikannya Kekhalifahan di Suriah dan Iraq pada 1435 H. Namun fakta membuktikan di Palestina sampai kini masih dijajah oleh Zionis Israel. Darah tumpah setiap hari, anak-anak, orang-orang tua dan perempuan dibantai tiap jam, generasi muda dan tokoh-tokoh dipenjara tanpa kemanusiaan, serta Masjid Al-Aqsha kiblat pertama Muslimin dinodai bahkan hendak dirobohkan.

Demikian pula dunia Islam di kawasan Timur Tengah diadu domba, dan dihancurkan dari dalam dan diserang dari luar. Lihat saja bagaimana satu per satu negeri-negeri Muslim dibuat tidak aman, baik di Irak, Afghanistan, Libya, Suriah, Yaman, dan lainnya. Sementara kekayaan alamnya dieksploitasi untuk kepentingan Barat dan sekutunya. Lewat mekanisme utang luar negeri, mereka dijerat untuk tunduk kepada kepentingan kapitalisme Barat. Pendidikan juga sama nasibnya. Pendidikan yang berlandaskan sekuler di negeri-negeri Islam telah mencetak generasi-generasi pemuda Islam yang jauh dari akar Islam. Pergaulan bebas, LGBT, narkoba, minuman keras menjadi bagian yang tak terpisahkan dari generasi muda saat ini. Di bidang pidana, tidak diterapkannya hukum-hukum Allah telah menyebabkan membengkaknya perkara-perkara kriminalitas seperti pemerkosaan, pelacuran, sodomi, pembunuhan dan perampokan.

Ketiadaan sistem sentral kepemimpinan ummat Islam (Khilafah Islamiyyah), berakibat fatal bagi ummat Islam dan dunia sesungguhnya. Lalu, nasib peradaban dunia ini apakah akan terus diserahkan begitu saja kepada Barat yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, kebajikan kasih sayang apalagi ketuhanan. Padahal sistem Khilafah inilah yang menjadi poros sejarah ummat Islam dan berlangsung terus-menerus dalam satu bentuk ke bentuk lain lebih dari 1.300 tahun, hingga berakhirnya di Turki Utsmani 1924 tersebut.

KEBANGKITAN KHILAFAH

Sudah menjadi sunnatullah bahwa pada akhirnya Khilafah itu akan bangkit kembali dengan izin Allah. Berdasarkan riwayat dari Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Misykatul Mashabih dari Nu’man bin Basyir menyebutkan lima fase kepemimpinan ummat Islam berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW. Diantara lima fase ini adalah fase Khilafah ‘ala Minhajiin Nubuwah, yakni kebangkitan Islam melalui Khilafah ‘ala minhajiin Nubuwah.

Dhia’uddin Ar-Rayyis mengungkapkan, adalah Zionisme Internasional ditopang oleh kekuatan-kekuatan lain yang memusuhi Islam berupaya memecah-belah ummat Islam dengan target menghancurkan sistem sentral kepemimpinan ummat Islam yang telah berlangsung sekitar 1.300 tahun sebelumnya. Puncak konspirasi Zionisme terjadi pada tahun 1924, yakni ketika dilenyapkannnya sistem sentral kepemimpinan ummat Islam dinasti Turki Utsmani tanggal 3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Pasha.

Dr. Ali Gharishah mengungkapkan, Musthafa Kemal Pasha bergelar At-Taturk (Pembangun Turki) adalah seorang tokoh Free Mansonry Gerakan Yahudi Zionis Internasional. Ia berasal dari keluarga muslim yang dibina secara intensif oleh tokoh-tokoh Zionis Internasional, dan kemudian dijadikan pemimpin boneka untuk menghancurkan Islam dari dalam. Secara formal kekuasaan kerajaan Turki Utsmani mengakhiri kepemimpinan sentral dalam Islam, yaitu pada masa Sultan Abdul Majid yang dihapuskan oleh Nasionalisme Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha. Setelah itu kepemimpinan sentral ummat Islam yang bersifat universal tidak ada lagi (vakum).

Fase kelima, inilah era bangkitnya kembali sentral kepemimpinan ummat Islam dalam wujud Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, sebagaimana pernah diamalkan oleh empat Khalifah Rasyidah terdahulu. Sinyal kebangkitan Khilafah sebagai usaha penyatuan ummat Islam itu sudah muncul tetapi belum ada yang terealisasi baru sebatas menjadi agenda bersama ummat Islam hingga taun 1997 M. Mulai dari gerakan All Khilafat Conference di India (tahun 1919), tahun 1926 di Kairo diselenggarakan Kongres Khilafah yang diprakarsai para ulama Al-Azhar, kemudian Kongres Islam Sedunia di Mekkah (1926), Konferensi Islam Al-Aqsha di Yerussalem (1931), Konferensi Islam International kedua di Karachi (1949), Konferensi Islam International ketiga di  Karachi (1951), Pertemuan Puncak Islam di Mekkah (1954), Konferensi Muslim Dunia di Mogadishu (1964), Konferensi Muslim Dunia di Rabat Maroko yang melahirkan OKI (1969), dan Konferensi Tingkat Tinggi Islam di Lahore Pakistan (1974).

Di Indonesia agenda dan usaha penyatuan muslimin dalam Khilafah juga dilakukan oleh beberapa tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto, Imam Kartosuwiryo, dan lain-lain dengan melalui kongres-kongres. Diantaranya Kongres yang kita sama-sama kita tahu yakni Kongres Mujahidin tahun 2000 di Jogjakarta dengan telah dimaklumatkannya Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) diprakarsai oleh Syeikh Abdul Qodir Hasan Baraja’ dengan mengundang hampir 2000 Ulama dari dalam dan luar negri. Ketika itu dibacakan maklumat tegakknya Kekhalifahan Islam dan berharap ulama yang hadir memilih satu diantara mereka menjadi Khalifah /Amirul Mukminin, tetapi mayoritas menolak dan malah terbentuk aliansi. Tetapi Khilafatul Muslimin tetap berjalan dengan mengangkat syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ sebagai Khalifah (ditulis di maklumat sementara) dengan dua perwakilan di Lampung dan di NTB. Kini Khilafatul Muslimin berkembang sudah sekitar 500 perwakilan di Indonesia dan Malaysia. Hal ini dilakukan sebagai wujud keinginan ummat Islam dan kerinduannya akan hadirnya kembali Khilafah sebagai sentral dan kekuatan kaum Muslimin.

Dalam analisis orientalis Barat sendiri, memandang Khilafah sebagai raksasa tidur kini tengah mulai menggeliat. Hal ini membuat Barat secara terus-menerus berusaha mencari jalan untuk mendistorsi dan mempolitisir citra Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang bersifat rahmatan lil alamin. Mereka coba ciptakan citra negatif yang mengarah pada fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme. Sinyal kebangkitan khilafah adalah secercah harapan kejayaan Islam dan muslimin dalam bingkai persatuan dan kesatuan ummat Islam yang membawa misi rahmatan lil ’alaimin. (red al-khilafah, berbagai sumber).

Facebook Comments
Tags:

Related Posts