KHILAFAH ADALAH SOLUSI DARI PERPECAHAN UMMAT

OPINI 0

Oleh : Al Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb

             “Kekhalifahan adalah suatu urusan ummat Islam yang sangat besar dan Agung. Jadi kalau ditegakkan secara asal-asalan dan belum bisa memberikan solusi terhadap permasalahan ummat Islam di dunia sebaiknya jangan mengatasnamakan Khilafah Islamiyyah. Mengaku teggak Khilafah tetapi tidak punya wilayah, tidak dapat mengakkan hudud (hukum Islam), tidak punya Askari (tentara), tidak bisa membela kaum muslimin yang tertindas, tidak bisa memberikan rasa aman, adil dan sejahtera, ini namanya menghina Kekhalifahan”, demikian beberapa alasan Harakah, Ormas dan pergerakan Islam yang belum mau dan tidak berani memakai nama Khilafah dalam perjuangan menegakkan Dienullah dan lebih memilih “Jamaah minal Muslimin”.

            Dengan menyetir ayat Allah Subahanahu wata’ala, QS. Al Ankabut (29) : 69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”. Maka saat ini kita semua berbuat saja (berjihad) dengan diri atau secara berkelompok nanti Allah Subahanahu wata’ala yang akan memberikan jalan keluar dari permasalahan ummat Islam saat ini, artinya nanti Allah Subahanahu wata’ala yang menyatukan kita”. Begitulah diantara pendapat sebagian ulama.

            Bagaimana sesungguhnya perjuangan Iqomatuddien yang sesuai pentunjuk Allah Subahanahu wata’ala, Rasul dan telah diikuti dengan baik oleh generasi terbaik Islam dalam menyikapi hal ini. Berikut kita simak wawancara dengan Al Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb selaku Amir Daulah Indonesia Bagian Timur :

Assalamualaikum ustad, apa khabar dan saat ini sedang ada kegiatan apa? 

            Wa’alaikumusssalam, Alhamdulillah kabar baik. Saat ini sedang mempersiapkan semua keperluan untuk pengawalan klarifikasi Wilayah. Mohon doanya semoga semua berjalan lancar dalam bimbingan dan ridha Allah Subahanahu wata’ala. Aamiin.

Kami ingin mendapat penjelasan bagaimana sesungguhnya perjuangan Iqomatuddin yang sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya?

            Sesuai petunjuk Nabi Shalallahu alahi wasalam dalam haditsnya, Iqomatuddien itu memiliki beberapa tahapan yang juga merupakan rukunnya. Yaitu, “Berjama’ah /bersatu, mendengar dan taat (kepada Ulil Amri), hijrah dan jihad fisabilillah”. Semua rukun ini tidak mungkin dikerjakan secara terpisah. Seperti rukun shalat misalnya, tentu tidak sah shalat apabila rukun-rukunnya dikerjakan secara terpisah.

Bagaimana pandangan Ustad tentang jihad fi sabilillah, bukankah sekarang sudah saatnya kita menguman dangkan jihad?

            Jika dikatakan bahwa sekarang sudah waktunya untuk mengumandangkan jihad, tentunya yang lebih utama adalah kita sekarang ini mestinya yang sudah berjama’ah, sudah mendengar dan sudah membuktikan ta’at kita kepada Allah, Rasul dan Ulil amri kita sesuai petunjuk hadist tersebut dan sudah pula menyiapkan hijrah. Dan untuk melaksanakan semua itu sunatullahnya tentu harus ada sistem dan kepemimpinannya yaitu sistem dan kepemimpinan Islam yang sesuai syari’at, sesuai petunjuk Allah, Rasul dan telah diikuti oleh generasi terbaik yaitu Sahabat dan dilihat dari fakta sejarah Islam, tiada lain selain An Nubuwah dan Khilafah.

Kalau begitu dapat disimpulkan bahwa dalam memulai jihad, mesti didahului dengan mulai berjama’ah, bukankah sekarang kita sudah berjama’ah? Lantas kapan kita akan berjihad?

            Perintah jihad atau Qital itu dimulai dengan kata “Kutiba Alaikumul Qitaal…” artinya telah “ditetapkan atas kalian untuk berperang”, adapun waktunya, tergantung pada kondisi dan kesiapan kalian. Jihad fi sabilillah adalah “dzirwatu sanaamil Islam”. Puncak kemuliaan Islam, tentunya tidak akan sampai ke puncak itu kecuali mereka yang memang menurut Allah sudah pantas dan layak untuk sampai kesana dan sudah pula melalui tahapannya dengan baik dan benar. Maka yang terpenting bagi kita adalah meraih kelayakan itu dan dan menapaki tahapan itu.

            Semoga Allah memampukan kita dalam membuktikannya ketika diperlukan. Jika dalam hal yang remeh-temeh saja kita belum mampu membuktikan sam’an wa tho’atan, bagaimana dengan hal yang memang berat sperti jihad Qital.

Bagaimana tanggapan ustad ketika ada ummat Islam yang mengatakan belum saat nya kekhalifahan Islam ini dimulai karena pada kenyataannya ummat ini masih terpecah belah dalam beberapa golongan yang pada dasarnya semua golongan itu bertujuan menegak kan khilafah?

            Justru karena melihat kenyataan bahwa ummat ini berpecah belah dalam berbagai macam golongan, maka diajukanlah solusi untuk mengakhiri perpecahan ummat. Bukankah sahabat Hudzaifah radiallahu anhuma sudah pernah memper tanyakan kepada Rasulullah Shalallahu alahi wasalam, tentang apa yang beliau Shalallahu alahi wasalam perintahkan ketika terjadi perpecahan? Dalam hadits yang panjang lebar itu Rasulullah Shalallahu alahi wasalam tidak memerintahkan untuk mempersatukan semua golongan yang berpacah belah itu, akan tetapi beliau Shalallahu alahi wasalam memerintahkan, tinggalkan semua firqah itu, berpegang teguh pada jama’ah muslimin dan Imam mereka.

            Jama’ah kaum muslimin pertama setelah Rasulullah Shalallahu alahi wasalam adalah jamaah yang berada dibawah kepemimpinan Abu Bakar As Shiddiq radiallahu anhuma. Yaitu jama’ah yang berupa kekhalifahan kaum muslimin yang imamnya adalah seorang khalifah. Kemudian jama’ah kaum muslimin berikutnya tetap imamnya adalah seorang khalifah. Tidak pernah sejarah Islam mencatat ada jama’ah muslimin yang imamnya bukan Khalifah. Dari kenyataan sejarah ini mestinya kita memahami bahwa perintah “talzamu jamaa’atal muslimiina wa imaamahum”, taqdiiruhu “talzamu khilafatal muslimina wa khaliifatahum”.

            Maka inilah “Khilafatul Muslimin” yang sudah dimaklumatkan sejak tahun 1997 itu.

Bukankah yang disebut Khilafah itu lazimnya memiliki wilayah kekuasaan, ada tentara, ada penerapan hukum dan lain-lain? Apakah sudah bisa disebut khilafah sementara belum memiliki apa apa?

            Kekhalifahan yang dinubuwatkan oleh Rasulullah Shalallahu alahi wasalam di akhir zaman ini adalah Khilafah ala minhajin nubuwah, bukan Khilafah ala minhaji khulafa’ arosyidin, maka dia akan dimulai sebagaimana dimulainya nubuwah. Hanya saja tidak ada lagi nabi yang perlu diutus untuk menerima wahyu karena Al Quran sudah turun semua. Yang diperlukan adalah seorang Imam, yaitu seorang Khalifah yang siap melaksanakan al Quran ini. Rasulullah Shalallahu alahi wasalam dahulu sudah disebut nabi sejak belum memilliki apa apa. Bahkan dimusuhi dan diusir oleh kaumnya pun tetap tidak membatalkan kenabiannya. Begitu pula kekhalifahan ini yang tentunya tidak mungkin lebih hebat dari kenabian. Jika kenyataan sejarahnya bahwa seorang nabi sekalipun, diawal dakwahnya belum memiliki apa apa, belum bisa menerapkan hukum, bahkan mayoritas kaumnya tidak bersedia mendukung dan berpihak kepadanya, apakah pantas kita meng hendaki seorang Khalifah yang bukan nabi ini, langsung serta merta sempurna semua?

            Para sahabat terdahulu ketika menyatakan bai’at, mereka sama sekali tidak berfikir bahwa dengan bai’at mereka itu, akan mendapat perlindungan dan pengayoman dari Rasulullah Shalallahu alahi wasalam, akan tetapi mereka berbai’at untuk siap sedia berkorban apa saja yang mereka mampu untuk melindungi dakwah dan risalah. Maka apakah pantas jika kita, belum berbai’at saja sudah mempertanyakan berbagai bentuk pengayoman dan perlindungan untuk diri kita? Memang sempurnanya Kekhalifahan adalah yang memiliki semua yang disebutkan tadi, akan tatapi kesempurnaan itu tidaklah didapatkan tanpa upaya dan perjuangan. Apakah pantas sebagian orang yang mengaku siap meperjuangkan Islam hanya menunggu hingga kesempurnaan itu telah diraih baru akan memberi pengakuan?

Apa harapan ustad kepada seluruh kaum muslimin terhadap Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) yang telah dimulai sejak tahun 1997 hingga saat ini ?

            Dalam quran surat al Mulk ayat 10, Allah Subahanahu wata’ala menerangkan penyesalan mereka yang ketika didunia tidak mau mendengar dan tidak mau berfikir.

khilafah solusi perpecahan“Dan mereka berkata, “sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala”.

            Jangan sampai kita termasuk penghuni Neraka sa’iir karena kita tidak mau mendengar dan berfikir. Maka marilah kita renungkan dan fikirkan tentang perpecahan yang telah menjadikan hina ummat yang mulia ini, lihatlah betapa kehancuran moral dimana-mana akibat tidak bersatunya ummat, kemudian mulailah berfikir untuk mengambil sikap. Saya terkesan akan cerita seorang sahabat saya tentang seekor semut yang bersusah payah membawa sebutir air untuk memadamkan kobaran api yang disiapkan untuk membakar Nabi Ibrahim alaihissalam, seekor gajah mengejek, apa yang bisa kamu lakukan dengan setetes airmu itu? Semut menjawab tegas. “setidaknya agar Allah Subahanahu wata’ala tahu keberpihakan saya…!

Jazakumullah Khair atas waktu nya ustad, semoga penjelasan kali ini membuat ummat Islam sadar akan pentingnya persatuan ummat didalam bingkai Kekhalifahan sebagai satu-satunya sistem Islam dan segera mengambil sikap untuk segera andil dalam Iqomatuddien ini, aamiin.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts