KHILAFAH ADALAH SISTEM KEPEMIMPINAN UMMAT ISLAM

Berbicara tentang kepemimpinan, tentunya berhubungan dengan pelaksanaan suatu aturan untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki oleh kepemimpinan yang dimaksud. Tanpa kepemimpinan, kehidupan akan amburadul, tidak menentu /tanpa arah. Maka kepemimpinan adalah suatu yang mutlak dibutuhkan oleh makhluk di muka bumi ini, terutama bagi mahkluk yang berakal (manusia) sebagai makhluk sosial. Tidak dapat dipungkiri oleh siapapun bahwa kehidupan dalam dunia ini adalah kehidupan yang membutuhkan kepemimpinan, baik konsep yang haq maupun yang konsep yang bathil.

Alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT, maka Dia Murkai siapa saja yang merusak alam ciptaan-Nya, karena hendak memenuhi kebutuhan hidupnya berdasarkan keinginan nafsu dan hasil pikirannya sendiri. Maka Allah mengancam para perusak itu dimanapun berada dengan nasib buruk yang akan dideritanya.

Allah SWT berfirman,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Rum (30) : 41).

Ternyata masih banyak ummat yang belum memahami, bahwa jika sesuatu hasil ciptaan dikelola dan atau dimanfaatkan /diurus tidak sesuai dengan ketentuan atau petunjuk yang menciptakannya maka sesuatu itu pasti akan rusak, apapun dan siapapun dia.

Khusus bagi manusia sebagai mahkluk berakal yang diciptakan untuk melestarikan kehidupan yang diridhai Allah dibawah curahan rahmat dan karunia-Nya demi mencapai kesejahteraan lahir dan batin, maka Allah memberi petunjuk /pedoman sebagai amanat (Ad-Dien) yang wajib dipraktekkan /diberlakukan dalam kehidupan dibawah satu kepemimpinan. Manusialah yang pantas menerima amanat tersebut; karenanya dinyatakan oleh Allah sebagai Khalifah fiel ardhi dan yang pertama kali adalah Adam AS.

Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan “AMANAT” kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzab (33) : 72).

Kemudian Allah SWT berfirman,

“Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi”, mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah : 30).

Demi penyempurnaan tuntunan sesuai situasi dan kondisi, maka salah seorang anak cucu Khalifah Adam itu diangkat /ditetapkan sebagai Nabi agar dapat berhubungan langsung dengan Allah menurut ketentuan-Nya, secara silih berganti dan berakhir pada diri Nabi Muhammad SAW, dan mustahil kiranya jika semua anak cucu Khalifah Adam AS dinyatakan sebagai nabi.

Silih berganti para nabi menerima petunjukan Allah untuk disampaikan kepada anak cucu Khalifah Adam yang terus berkembang biak, sampai pada klimaksnya Ad-Dien sempurna, menjadi pedoman hidup manusia, menjadi tuntunan yang harus dipedomaninya dalam segala kegiatan hidup agar tercapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, mendapatkan kesejahteraan lahir batin manusia dan kelestarian alam semesta.

Siapa yang bersedia dan rela mengikuti petunjuk Allah melalui utusan-Nya disebut mukmin dan siapa saja yang menolak /menentang-Nya disebut kafir. Adapun orang yang menerima /mempercayai-Nya namun sengaja menolak penerapannya tanpa alasan syar’i maka orang tersebut bersifat kafir, dzolim, fasiq dan jahil (Lihat QS. Al-Maidah : 44, 45, 47 dan 50). Para Nabi dan Rasul adalah pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengatur kehidupan dijamannya, dan kehidupan dibawah kepemimpinan nabi itu disebut kehidupan dalam sistem An-Nubuwwah. Setelah Rasulullah SAW wafat dan Ad-Dien telah sempurna maka berakhir pula kepemimpinan dalam sistem An-Nubuwwah, lalu beralih pada pelanjutnya yang disebut Khalifah dalam sistem Khilafah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWWAH”.

Disaat berakhirnya Nabi maka berakhir pulalah kepemimpinan An-nubuwwah; maka suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju semestinya kepemimpinan diteruskan kembali oleh salah seorang diantara anak cucu Khalifah Adam yang terus berkembang, karena jika diteruskan oleh jin ataupun malaikat tidak sesuai dengan akal sehat.

Demikianlah satu satunya cara mempersatukan ummat Islam dalam mengelola bumi ini melalui sistem Khilafah sebagai sistem kepemimpinan ummat Islam berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wallahu a’lam.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts