KHILAFAH ADALAH IDEOLOGI GLOBAL

Islam adalah ajaran Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Maha Bijaksana, yang disampaikan kepada manusia melalui para Nabi utusan-Nya sejak manusia pertama yakni nabi Adam AS yang dinyatakan sebagai Khalifah di permukaan bumi ini, untuk ditaati /dipraktekkan ajaran-Nya (Islam) dalam kehidupan dunia demi keselamatan hidup dunia dan akhirat. Sebenarnya ajaran ini terlebih dahulu telah ditawarkan pada langit, bumi dan gunung-gunung namun mereka menolak untuk menerimya karena khawatir akan mengkhianatinya (tidak mampu mempertanggung jawabkannya), hanya manusia sebagai Khalifah itulah yang siap menerima amanat tersebut.

Allah SUBAHANAHU WATA’ALA berfirman,

ayat“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”. (QS. Al-Ahzab (33) : 72).

Dalam masa yang sangat panjang, anak cucu Khalifah Adam Alaihissalam itu, silih berganti dipilih oleh Allah untuk menerima wahyu-Nya, kemudian disampaikan kepada anak cucu Khalifah Adam Alaihissalam tersebut yang hidup di zaman Nabinya masing-masing. Maka sempurnalah ajaran Allah setelah sampai pada giliran Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SHALLAHU ALAIHI WASALAM.

Setelah ajaran ini dinyatakan sempurna oleh Allah maka tidak lagi diperlukan seorang Nabi untuk menerima wahyu lanjutan dan berakhirlah penunjukan seorang Nabi sebagai pemimpin orang-orang yang beriman dalam mempraktekkan ajaran Islam, maka risalah Nabi terakhir pun dinyatakan sebagai rahmatan lil alamin dan bagi seluruh ummat manusia di muka bumi ini. Sepanjang kepemimpinan orang-orang beriman adalah Nabi, maka sistem kehidupan mereka dalam mempraktekkan ajaran Islam disebut sistem kenabian (An Nubuwah).

Namun setelah sistem kenabian berakhir, pertanyaannya, siapakan yang melanjutkan kepemimpinan bagi keseluruhan kaum muslimin diantara anak cucu Khalifah Adam Alaihissalam itu? Tentu tidaklah tepat bila diambil-alih oleh para jin dan tidak pula cocok jika diwakilkan kepada para malaikat, maka yang sangat rasionil dan paling tepat bila kepemimpinan yang dimaksud diserahkan kembali kepada anak cucu Khalifah Adam itu sendiri, yakni dipimpin oleh seorang Khalifah dalam sistem KeKhalifahan bukan dalam sistem-sistem kehidupan lainnya (demokrasi, komunisme, nasionalisme, dan lain-lain). Rasulullah SHALLAHU ALAIHI WASALAM bersabda, “Dulu Bani Israil diurus oleh para nabi, setiap kali seorang nabi wafat, maka ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para Khalifah dan mereka banyak. ”Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

Data sejarah pun jelas tak terbantahkan bahwa pelanjut kepemimpinan Nubuwah itu adalah Kekhalifahan. Itulah sebabnya para Mulkan setelah Al-Khulafa’u Rosyidin pun menyatakan diri mereka sebagai Khalifah juga, karena mereka paham betul tanpa ragu bahwa ulil amri mingkum yang dimaksud didalam QS. An-Nisa’ : 59, tidak lain adalah seorang Khalifah sampai berakhirnya Kekhalifahan Utsmani di Turki pada Tahun 1924 M di zaman Khalifah Abdul Hamid II (tahun 1340-1342H/1922-1924M), dan berakhir pulalah kekuasaan Islam di muka bumi ini.

Ternyata tanpa sistem Kekhalifahan maka kehidupan global ummat Islam dibawah satu kepemimpinan (ulil amri mingkum) tidak mungkin dapat diwujudkan dan selamanya tetap dalam perpecahan melalui firqah-firqah hasil karya manusia yang tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SHALLAHU ALAIHI WASALAM dan tidak pernah pula dipraktekan oleh para sahabat sebagai wujud keutuhan kesatuan bagi keseluruhan kaum muslimin di permukaan bumi ini yang berkepanjangan walaupun perpecahan itu adalah dikutuk Allah tanpa khilaf Ulama’.

Jika Allah dan Rasul-Nya mewajibkan bersatu dan mengharamkan perpecahan, apakah mungkin tanpa kepemimpinan yang satu? Hilangnya kesatuan global ummat Islam berarti hancurnya pelaksanaan syariat Islam secara kaffah yang diperintahkan (QS. Al-Baqarah : 208), dan hilangnya wibawa kaum muslimin dalam kehidupan, dan ummat Islam hanya sibuk dengan kebanggaan golongan masing-masing, yang pada puncaknya Islam hanya berlaku sesuai selera pribadi ataupun golongannya. Sebagai mana disinyalir dalam Al-Quran,  “Kullu Hizbim Bima Ladaihin Farihun”, artinnya “Setiap golongan masing-masing membanggakan golongannya”.

Dapatlah disimpulkan bahwa untuk mengembalikkan Izzatul Islam wal Muslimin demi kejayaan ummat Islam dalam rahmat dan ridha Allah tidak terdapat jalan lain sebagai solusi kecuali kaum muslimin menyadari kembali bahwa hanya dengan sistem Kekhalifahan bagi kaum Muslimin (Khilafatul Muslimin), yakni Khilafah sebagai pelanjut An-Nubuwwah merupakan persyaratan untuk dapat ditegakkan syariat Islam sesempurna mungkin. Kekhalifahan adalah ideologi global ummat Islam se-dunia. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts