KHALIFAH PENYATU UMMAT

Sesungguhnya seluruh manusia di dunia ini yang berakal sehat, pasti membutuhkan kepemimpinan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai makhluk sosial, bahkan diantara kelompok binatang pun ada kepemimpinanya. Suatu aturan tanpa kepemimpinan mustahil dapat dilaksanakan dengan baik. Aturan sekolah tanpa aturan sekolah tidak dapat diterapkan, perusahaan tanpa pemimpin maka hancurlah perusahaan tersebut, bahkan rumah tangga pun harus memiliki pemimpin rumah tangga demi keutuhan rumah tangga yang dimaksud. Maka demi berlakunya aturan Islam wajib memiliki kepemimpinan Islam berdasarkan ajaran Allah dan Rasul Nya, demikian pula halnya untuk memberlakukan undang-undang kafir haruslah memiliki kepemimpinan ala kafir.

Melalui kepemimpinanlah ummat dibawahnya dapat disatukan dan tidak akan terwujud kesatuan ummat tanpa adanya kesatuan pemimpin. Kehidupan bersama dibawah satu kepemimpinan merupakan syarat mutlak untuk terwujudnya kesatuan ummat. Maka akan terjadilah tolong menolong, transaksi dan berbagai aktifitas yang tersalur dibawah kepemimpinan dimaksud demi kesuksesan hidup mereka. Maka kita sebagai orang beriman tentunya tidak boleh memakai aturan yang bertentangan dengan ajaran Islam (Al Qur’an dan As Sunnah). Maka kehidupan bersama dalam kelompok masyarakat dibawah sistem kepemimpinan Islam merupakan persyaratan yang memungkinkan terwujudnya kesatuan ummat itu sendiri sesuai dengan perintah Allah dan Rasul Nya dan telah pula dicontohkan oleh Rasulullah saw dan dipraktekkan pula oleh para Sahabat Nabi saw.

Kita pun menyaksikan apa yang dinyatakan Allah yang menegaskan sempurnanya ajaran Islam sebagaimana firman Nya:

“…Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu Dien (agama) mu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu sebagai Dien (tuntunan hidup) bagimu …”. (QS. Al Maidah (5) : 3).

Dalam ayat diatas secara tegas ajaran Islam dinyatakan sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah dan telah sempurna pula segala aturan didalamnya demi keselamatan hidup makhluk di muka bumi ini (Rahmatan Lil Alamin). Kita dapat mempelajarinya secara mudah bahwa masalah yang tidak prinsip pun diajarkan didalam ajaran yang sempurna ini seperti tidur, bangun, keluar-masuk rumah, makan, mandi, dan banyak hal lagi yang dapat dilaksanakan tanpa tuntunan Islam namun diajarkannya juga demi kesempurnaan ibadah sebagai tujuan hidup orang-orang yang beriman. Demikianlah bukti kesempurnaan ajaran Islam, maka kita pertanyakan, apakah masalah yang sangat penting dan bersifat fundamental yakni adanya kepemimpinan bagi kesatuan masyarakat tidak dijelaskan caranya dalam Islam? Adalah kemustahilan jika masalah yang remeh diberitahukan caranya, sementara yang sangat penting dan utama tidak diberitahukan cara pelaksanaannya. Maka tidak boleh seorang ulama atau kyai mengarang cara bersatu sesuai akal fikirannya kecuali wajib ittiba’ saja kepada ketetapan Dien.

Didalam Islam tidak terdapat suatu aturan pun yang bisa berlaku jika bertentangan dengan ketetapan Dien itu sendiri sehingga apapun kehendak dan keinginan manusia dalam segala kegiatan hidup mereka di muka bumi ini wajib bersumberkan Al Qur’an dan Al Hadits dan tidak boleh bertentangan dengannya karena dianggap sebagai suatu kemusyrikan. Fakta sejarah bahwa kepemimpinan Islam itu adalah sejak awalnya para Nabi sampai tahap kesempurnaannya dan disebut kepemimpinan dalam sistem An Nubuwwah (Kenabian). Setelah kepemimpinan Nabi (An Nubuwwah) berakhir maka beralih sebagai pelanjutnya kepada kepemimpinan seorang Khalifah dalam sistem Kekhalifahan (Khilafah Ala Minhaj An Nubuwwah).

Islam mengancam seorang mukmin yang tidak berkepemimpinan Islam (Khalifah) kematiannya sebagai kematian dalam kejahiliyaan. (HR. Ahmad dalam Al Musnad 11859).

Disaat kaum muslimin berpecah-belah karena bergolong-golongan dan tidak memiliki kesatuan (Jama’ah) maka Rosulullah memperingatkan dalam sebuah hadits beliau dengan kata-kata “Talzamu jama’atal muslimin wa imamahum” berarti talzamu Khilafatal Muslimin wa Imamahum, karena beliau bersabda, “Khilafah alaa Minhaj An Nubuwwah” bukan “Jama’ah alaa Minhaj An Nubuwwah”. Maka cara berjamaah bagi kehidupan global kaum muslimin adalah ber-Khilafah. Maka menunjuk seorang Khalifah syarat terwujudnya kesatuan ummat. Sepanjang sejarah para Sahabat Nabi tidak membentuk jamaah Anshor dan tidak juga jamaah Muhajirin dengan kepemimpinannya masing-masing kecuali mereka wajib bersatu dibawah seorang pemimpin yang disebut Khalifah /Amirul Mukminin.

Kepemimpinan inilah yang kita sedang mulai memperjuangkannya untuk mencapai kesempurnaanya memberlakukan syariat Islam secara sempurna demi kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, dengan memerdekakan semua ummat melaksanakan ajaran agamanya masing-masing sesuai keyakinannya. Maka orang non muslim pun harus tunduk dibawah kepemimpinan Khalifah demi terjaminnya kebebasan beragama (Lakum Diinukum wa Liyadiin /semua keyakinan beragama adalah merdeka bagi setiap pemeluknya). Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!
KHALIFAH PENYATU UMMAT,5 / 5 ( 1votes )

Related Posts