KEUTAMAAN MENOLONG DIENULLAH

TAFSIR 0

Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb

dalil 1

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang ang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung”. (QS Muhammad (47) : 7-11)

               Ada dua golongan yang disebutkan oleh Allah dalam rangkaian ayat ini yaitu golongan orang beriman dan golongan orang kafir, terhadap golongan orang beriman Allah berseru,  “Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong Allah, Allah menolong kalian dan menetapkan pijakan kaki kalian”, menolong Allah adalah berjuang hingga hanya kalimat Allah yang paling tinggi dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan masing-masing, menolong Dien Allah agar aturan-aturan Allah dapat diberlakukan di bumi Allah, menolong hamba-hamba Allah yang teraniaya karena dipaksa oleh para rezim thaghut untuk tunduk kepada aturan setan agar mampu bangkit untuk hanya tunduk kepada aturan Allah.

            Menolong Allah juga berarti tidak tinggal diam membiarakan keangkara murkaan terjadi dimuka bumi dan tidak pula membiarkan orang-orang yang dzalim larut dalam kedzallimannya. Termasuk juga mengeluarkan semua manusia dari penghambaan kepada manusia lain untuk hanya menghamba kepada Allah saja. Bagi siapapun yang bersedia menolong Allah ada janji pasti dari Allah, bahwa Allah pasti menolong mereka dan pasti meneguhkan pijakan kaki mereka. Maka bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan merasa dalam kehidupannya masih jauh dari pertolongan Allah, dalam langkah selalu merasa ragu dan goyah, serta tiada ketentraman dan ketenangan dalam diri pribadi dan rumah tangganya, mulailah berfikir untuk mempunyai andil dalam penegakan Dienullah dengan tulus dan ikhlas hingga merasa tentram dalam keridhaan Allah.

            Adapun orang-orang yang kafir keadaan mereka adalah kebalikan daripada keadaan orang-orang beriman yang menolong Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam :

dalil 2“Celaka budak dinar, budak dirham, & budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha & bila tak diberi dia murka.” (HR. Al-Bukhari no. 2887 dari Abu Hurairah)

            Celakalah orang-orang kafir dan semua perbuatan mereka adalah bagian dari bentuk kesesatan yang demikian itu karena mereka tidak suka terhadap apa yang diturunkan Allah, tidak mau tunduk kepada ayat-ayat Allah, dan tidak bersedia menerapkan hukum Allah maka sia-sialah amal perbuatan mereka. Dalam ayat yang kesembilan ini Allah menerangkan bahwa orang yang tidak suka terhadap apa yang diturunkan Allah maka terhapus amal ibadahnya. Alangkah meruginya orang yang sudah bersusah payah berbuat kebaikan, melakukan berbagai bentuk ibadah mengerahkan harta benda, pemikiran dan semua daya upaya, akan tetapi tidak masuk dalam timbangan Allah sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surat Al Kahfi ayat 103-106.

KEUTAMAAN MENOLONG DIENULLAH“Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok”.

            Kesesatan orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah terkadang tidak mereka sadari bahkan kemusyrikan yang mereka lakukanpun tidak mereka sadari, hingga ketika mereka dihadapkan pada mahkamah Allah sekalipun mereka bersumpah bahwa mereka tidak melakukan kemusyrikan, ketidaksadaran mereka akan kemusyrikan yang mereka lakukan ini di terangkan oleh Allah didalam Al Qur’an Surat Al An’am ayat 23, “Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, Rabb Kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah”.

            Tidakkah mereka melihat akibat yang dilakukan orang-orang terdahulu yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, mereka dibinasakan Allah dan tidak ada yang dapat menolong mereka. Pada dasarnya jika kita cermati hakikat yang sesungguhnya dari perjuangan para Nabi terdahulu, kemenangan yang mereka dapatkan bukanlah karena kehebatan mereka atau bahkan kehancuran musuh – musuh merekapun hampir tidak berhubungan sama sekali dengan upaya yang meraka lakukan.

            Ketika Allah mengutus Ibrahim sebagai nabi untuk menyelamatkan rakyat Babylon hingga nabi Ibrahim pun dibakar hidup-hidup, Allah kemudian membinasakan raja Namruz dengan mengirimkan seekor lalat untuk masuk melalui lubang hidungnya hingga ia sakit dan binasa. Kehancuran dan kebinasaan raja Namruz sedikitpun bukan karena upaya Ibrahim membinasakannya tetapi semata-mata karena Allah.

            Demikian pula ketika Allah mengutus Nabi Musa Alaihissalam kepada Bani Israil di Mesir maka rezim raja Fir’aun yang gagah perkasa menghalangi dakwah beliau, hingga akhirnya nabi Musa dan para sahabat beliau di kejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya.  Karena merasa lemah maka mereka berlari hingga terpojok ke pesisir pantai. Para Hawariyun mulai ketakutan dan berkata “wahai Musa sesungguhnya kita akan tertangkap” Dengan tegarnya Nabi Musa mengangkat telunjuknya seraya berseru “Kalla inna ma’iya robbii sayahdiini” (sekali-kali tidak sesungguhnya Rabbku bersamaku dan akan menunjukkan jalan kepadaku). Dengan perintah Allah Musa mengetukkan tongkat kelaut, laut terbelah, mereka menyeberang dengan  selamat, dan Fir’aun serta bala tentaranya di tenggelamkan Allah. Maka binasalah mereka semua, dan kebinasaan mereka adalah karena mereka mengejar-ngejar orang beriman yang bersama Nabi Musa, bukan karena mereka dikejar-kejar oleh orang-orang yang beriman.

            Jika kita cermati kebinasaan mereka  tidak sedikitpun diakibatkan oleh upaya Nabi Musa untuk menghancurkan mereka, bahkan merekalah yang berupaya untuk menghancurkan Nabi Musa dan Hawariyun hingga mereka dibinasakan Allah.

            Tugas kita adalah untuk bersatu menanamkan rasa cinta di hati kita terhadap apa yang diturunkan Allah dan kita melaksanakan semua perintah Allah yang ada di dalam Al Qur’an atas dasar kecintaan kita kepada Allah, selebihnya kita yakin bahwa Allah yang menghancurkan kaum ‘Aad dan Tsamud, adalah juga Allah yang membinasakan Raja Namruz serta Fir’aun dan tentaranya, adalah Allah yang sama yang menolong Ibrahim dan Musa serta para Nabi, adalah Allah yang sama yang mengirimkan burung Ababil dan menolong Nabi Muhammad beserta para sahabat Beliau, adalah sama dengan Allah yang akan menolong kita jika kita menolong Agama Allah. “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang  yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada pelindung bagi mereka”.

            Ya Allah ya Robb kami yang maha kuasa atas segala makhluk-Nya, jadikanlah kami penolong-penolong-Mu dan pantaskanlah kami untuk mendapat pertolongan-Mu, Ya Allah ya Robb kami yang menciptakan langit dan bumi yang mengetahui segala rahasia hati, jangan biarkan kami menolong  kekafiran sedikitpun baik sengaja maupun tidak sengaja, ya Allah ya Robb kami jangan biarkan kami senantiasa dalam keterpaksaan membantu mereka  yang tidak suka dengan ayat-ayat-Mu baik yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari, Aamiin. Wallahu a’lam

 

 

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts