KESADARAN DAN KEBERANIAN MENEGAKKAN KEKHALIFAHAN

             Didalam dakwah membawa misi rahmatan lil alamin dalam wadah persatuan ummat yaitu Khilafah Islamiyyah (Khilafatul Muslimin). Ummat ini sudah sekian lama berpecah belah dan harus segera dicarikan upaya untuk persatuan dalam konsep Islam itu sendiri. Karena Allah Subahanahu wata’ala telah berfirman sebagaimana tercantum dalam QS. Asy Syura (42), ayat 13, “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”.

            Bersatu  dan tidak berpecah belah adalah syarat mutlak bagi penegakkan Ad Dien, sebagaimana ayat diatas. Namun, pesan persatuan ini sangat berat bagi mereka yang masih ada nilai kesyirikan , hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam Al Quran, surat Ar Ruum [30] ayat 30-32 yang berbunyi :

KESADARAN DAN KEBERANIAN MENEGAKKAN KEKHALIFAHAN

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik). Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

            Oleh karena itu, kita semua harus punya kesadaran untuk segera bersatu dan mempersatukan ummat dalam wadah Khilafah ini. Kita sebagai orang beriman yang punya tanggung jawab dengan urusan kita sendiri, tidak mungkin orang kafir  yang diajak untuk menegakkan Ad Dien. Orang kafir saja sadar bahwa bersatu itu wajib, demi kestabilan ajaran mereka, apa iya ummat Islam tidak lebih baik dari orang kafir?, tentu tidak!. Tapi anehnya, ummat Islam saat ini justeru rela bersatu mendukung sistem bathil demi menegakkan hukum dan aturan yang dibuat oleh sesama manusia, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) , Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD 45). Padahal mereka juga sadar bahwa semua itu diluar tuntunan Islam dan tidak ada pertanggung jawaban kita atas semua itu.

            Sebenarnya, bersatu adalah kewajiban ummat sejak dahulu kala, maka Nabi Adam adalah Khalifah pertama sebagai pemimpin ummat manusia sebagai para Khalifatullah fil ardh lainnya. Karenanya, sesama manusia yang disebut oleh Allah sebagai Khalifah harus juga dipimpin oleh seorang Khalifah bukan oleh pemimpin-pemimpin yang bukan Khalifah. (Lihat tafsir Imam Al Al Qurthubi tentang QS. Al Baqarah [2]:30).

            Maka untuk melanjutkan semua misi kenabian dan sebagai kelanjutan kepemimpinan para Khalifah sebelumnya, Khilafatul Muslimin dimaklummatkan kembali pada hari Jum’at 13 Rabiul Awwal 1418 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Juli 1997. Tiga tahun kemudian Khilafatul Muslimin kembali disuarakan secara lebih luas kepada para mujahid saat Kongres Mujahidin Indonesia tanggal 5-7 Agustus tahun 2000 di Jogjakarta. Hanya saja, saat itu ummat belum sepakat untuk mengangkat Khalifah dengan alasan belum waktunya dan belum terpenuhinya banyak persyaratan sebagaimana yang mereka pikirkan, mereka hanya sepakat untuk membentuk Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

            Kendatipun demikian, Khilafatul Muslimin tetap berjalan, semoga di tempat ini bisa ada upaya persatuan dan dibentuk perwakilan Khilafah sebagai tempat ummat untuk bersatu dan menghindari perpecahan.

            Ummat saat ini telah menanggap perpecahan adalah sunatullah dan sudah biasa dan dianggap bukan dosa. Padahal dalam banyak ayat-Nya perpecahan adalah dosa yang sangat besar.

            Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits bersabda, Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.” [Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597]

            Maka 73 golongan kata Rasulullah 72 nya masuk neraka kecuali satu diantaranya, maka kita harus berusaha menetapi yang satu itu, yakni Khilafah Islamiyyah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Saat ini, ketika diajak bersatu banyak ummat justeru malah takut, Innalillahi ! ini musibah besar bagi ummat Islam. (Ditulis oleh Ahmad MS dari Kuliah subuh Khalifah di Masjid Baabus Salam Perumahan Bumi Permata Sudiang (BPS), Makasar, Ahad – 5 April 2015).

Facebook Comments
Tags:

Related Posts