KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Jum’at 03 Muharram 1437 H/15 Oktober 2015

Kepemimpinan adalah unsur yang tidak bisa dihindari dalam hidup ini. Sudah merupakan fitrah manusia untuk selalu membentuk sebuah komunitas. Dan dalam sebuah komunitas selalu dibutuhkan seorang pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dijadikan rujukan ketika komunitas tersebut. Pemimpin adalah orang yang memberikan visi dan tujuan. Dalam suatu kelompok katakanlah organisasi, bila tidak mempunyai tujuan sama saja dengan membubarkan organsasi tersebut. Hal terebut bahkan berlangsung sampai kedalam tataran Negara. Dan hanya pemimpinlah yang mampu mengatur dan mengarahkan semua itu. Dan sejarah teori kepemimpinan menjelaskan bahwa kepemimpinan yang dicontohkan islam adalah model terbaik. Model kepemimpina yang disebut sebagai Prophetic leadership yang contoh nyatanya adalah orang teragung sepanjang sejarah kemanusiaan yaitu Rasullullah SAW.
Latar Belakang
Bila kita cermati kehidupan Rasulullah kita akan menemukan banyak sekali keistimewaan dan pelajaran yang seakan-akan tidak pernah habis. Dalam hal kepemimpinan lihatlah bagaimana Rasullah membangun kepercayaan dan kehormatan dari kaumnya. Sebelum menjadi nabi, Rasullullah sudah mempunyai gelar al-amin yang artinya dapat dipercaya. Sebuah gelar yang tidak bisa dikatakan biasa karena menununjukkan kredibilitas beliau di mata kaumnya. Kemudian lihatlah bagaimana daya kepemimpinan beliau ketika menyelesaikan kasus pengembalian Hajar Aswad ke dalam ka’bah setelah direnovasi karena banjir. Semua orang bergembira karena beliaulah yang terpilih menjadi hakim pada perkara tersebut. Dan cara penyelesaiannya pun sungguh cerdas dan menyenangkan semua pihak.

Setelah menjadi pemimpin tertinggi Negara Islam madinah pun Rasullullah tetap menunjukkan daya kepemimpinan yang luar biasa. Berkali-kali beliau memimpin sendiri pasukan perang untuk menghadapi orang-orang kafir, menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di tubuh umat yang semakin kompleks, menjadi pemimpin bagi beragam suku arab dan agama yang ada di madinah kala itu. Namun, di tengah-tengah kesibukannya dalam mengurus Struktural / Jamaah, beliau masih sempat mencandai istri, bahkan menjahit sendiri terompahnya yang putus dan gamisnya yang robek. Dan semua kualitas tersebut menjadikan Rasullullah sebagai pemimpin terhebat sepanjang sejarah.

Dalam waktu singkat, 23 tahun kurang lebih, risalahnya telah menembus batas-batas akal manusia. Barisan-barisan inti yang kokoh siap melanjutkan risalah yang dibawanya. Pengikut ajarannya pun semakin bertambah banyak. Dalam waktu sekejap sejarah mencatat bahwa ajaran islam yang dibawanya telah meluas dari jazirah kecil tak ternama menjadi sepertiga dunia yang makmur dan digdaya. Bagaimana Rasulullah menjadi dapat menjadi pemimpin yang demikian hebatnya? Jawabannya hanya satu, karena Rasulullah memimpin dengan kekuatan spiritualitasnya, bukan karena posisi, jabatan, atau sesuatu yang dibeli dengan uang dan kekuasaan. Yang ditaklukan oleh Rasulullah bukan posisi atau jabatan tetapi hati para pengikutnya. Dalam teori kepemimpinan modern, model pemimpin seperti ini dinamakan level 5th leader[1].

Level 5th leader adalah level pemimpin yang telah melewati level-level sebelumnya. Pada tahap ini seorang menjadi pemimpin karena kekuatan personalnya dan visi serta cita-citanya. Bandingkan dengan orang yang memimpin dengan mengandalkan posisi dan jabatannya atau ia menjadi pemimpin karena “membeli” kepemimpinan itu dengan harga yang mahal. Mungkin hal inilah yang menyebabkan para sahabat begitu menghormati beliau. Bahkan musuh beliau gentar dengan berkata bahwa tidak ada pemimpin yang diperlakukan oleh orang yang dipimpinnya sebagaimana Rasullullah diperlakukan oleh para sahabatnya.

Hal ini terlihat pada sirah ketika Rasulullah akan berangkat menunaikan ibadah haji ke mekkah setelah perang khandaq. Jawaban Abu Bakar yang kasar ketika Urwah bin Mas’ud bermaksud membuat ragu Rasulullah terkait kesetiaan umat islam. Bagaimana mungkin Abu bakar yang sedemikian lembut mampu berkata “Isaplah batu berhalamu, si Latta, apakah kau kira kami akan berlari meninggalkan ia?”, atau ketika al-Mughirah bin Syubhah berkata dengan lantang sambil menghunuskan pedang “jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah sebelum kutebas tangan itu”. Kepemimpinan model apakah ini, sehinga mampu menghasilkan pengikut yang sedemikian rupa? Sekali lagi, Rasulullah menaklukan hati para sahabatnya bukan membeli apalagi meminta jabatan kepemimpinan tersebut. Inilah contoh konkret dari penerapan Prophetic leader dalam sejarah umat manusia.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mampukah kita menjadi pemimpin dengan kelas Prophetic leader? Hal pertama yang harus kita sadari bahwa kepemimpinan lahir karena dibentuk. Ia tidak dilahirkan dalam satu malam atau dari rahim istri pemimpin besar. Ia lahir dari perjuangan dan penempaan yang tiada henti. Seperti Rasulullah yang ditempa langsung oleh Allah. Kemudian, sadarilah menjadi pemimpin adalah sebuah pilihan. Transformation in our world never be initiated by many people, it’s always originated by few selected people. Orang-orang pilihanlah yang akhirnya mampu membuat perubahan besar. Dan pilihan selalu mengandung konsekuensi[2].

Menjadi pemimpin berarti bersiap untuk menjadi pembelajar. Mungkin kita harus belajar memimpin dengan menggunakan posisi atau jabatan tertentu. Tidak masalah, teruslah belajar dan jadilah pemimpin yang dapat merangkul semua elemen kerja. Buktikanlah hasil dari kepemimpinan kita dan pupuk selalu kredibiltas pribadi hingga akhirnya orang mengikuti kita karena raihan atau prestasi bagus yang telah kita capai. Kemudian, teruslah belajar, masukkanlah nilai-nilai spiritual dalam kepemimpinan kita, dan akhirnya buatlah orang lain menjadikanmu pemimpin mereka karena semua kualitas pribadi kita dan daya pikat spiritulitas kita pada mereka. Itulah Prophetic Leader yang bukan hanya memenangkan posisi sebagai pemimpin, tetapi juga memenangkan hati para pengikutnya.

Berdasarkan uraian di atas maka disadari atau pun tidak kepemimpinan adalah suatu fitrah, dan juga keharusan yang mesti kita laksanakan sepenuhnya. Dengan ini maka perlu kiranya kita mengetahui apa itu Kepemimpinan, terutama Kepemimpin berdasarkan Dienul Islam. Mudah-mudahan makalah ini dapat menjadi pengantar untuk mengetahui kepemimpinan ini dengan lebih lanjut. Amiin.

Perumusan Masalah

Dari permasalahan di atas, maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah :

  1. Apa pengertian Kepemimpinan dalam ajaran Islam?
    2. Bagaimana konsep Kepemimpinan dalam Islam/ Al-Khilafah?
    3. Bagaimana hukum memilih pemimpin?
    4. Apa saja sifat-sifat pemimpin yang ideal?
  2. Tujuan Penulisan
    Tujuan dari penulisan makalah ini, diharapkan dapat menjadi pengantar untuk:
    Mengetahui pengertian Kepemimpinan dalam ajaran Islam
    Mengetahui konsep Kepemimpinan dalam Islam/ Al-Khilafah
    Memahami hukum memilih pemimpin
    Mengetahui sifat-sifat pemimpin yang ideal

KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

  1. Pengertian Kepemimpinan
    Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan seseorang sehingga ia memperoleh rasa hormat (respect), pengakuan (recognition), kepercayaan (trust), ketaatan (obedience), dan kesetiaan (loyalty) untuk memimpin kelompoknya dalam kehidupan bersama menuju cita-cita[3].

Secara sederhana, apabila berkumpul tiga orang atau lebih kemudian salah seorang di antara mereka “mengajak” teman-temannya untuk melakukan sesuatu seperti: nonton film, bermain sepek bola, dan lain-lain, orang tersebut telah melakukan “kegiatan memimpin”, karena ada unsur “mengajak” dan mengkoordinasi, ada teman dan ada kegiatan dan sasarannya. Tetapi, dalam merumuskan batasan atau definisi kepemimpinan ternyata bukan merupakan hal yang mudah dan banyak definisi yang dikemukakan para ahli tentang kepemimpinan yang tentu saja menurut sudut pandangnya masing-masing. (Katib Amir UQ Punduh Pedada)

Facebook Comments
Rate this article!

Related Posts