KEMENANGAN ITU MUTLAK HAK ALLAH

Ramadhani Nasution

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia (bai’at) kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (QS. Al Fath (48) :18).

           Islam adalah dien /aturan yang datangnya dari Dzat yang Maha Sempurna, Pemilik dan Penguasa Alam Semesta, Dialah Allah Subahanahu wata’ala, sehingga tiada akan didapati kelemahan dan kekurangan didalamnya, menjalankan-Nya adalah ibadah, sedangkan meninggalkan-Nya adalah sebuah kemaksiatan. Berangkat dari QS. Al Fath ayat 18 diatas, bahwasannya Allah Subahanahu wata’ala menjanjikan kemenangan kepada orang-orang beriman yang benar-benar siap berkomitmen atau berjanji setia kepada Allah Subahanahu wata’ala (bai’at) untuk memperjuangkan dienullah ini dengan sepenuh hatinya, walau apapun resiko yang akan di hadapi nantinya. Menang ataupun kalah bukanlah menjadi tujuan dari perjuangan kaum muslimin, akan tetapi keridhaan Allah-lah yang menjadi target utama dalam perjuangan tersebut, sehingga kekalahan pun tidak menjadi soal, asalkan tetap mendapatkan keridhaan Nya. Sebuah kemenanganpun tidak akan bernilai apa-apa jikalau hanya menuai murkanya Allah Subahanahu wata’ala.

           Perlu diketahui bahwa, kemenangan adalah hak mutlak Allah Subahanahu wata’ala, siapa yang dikehendaki kemenangan oleh Allah Subahanahu wata’ala maka tidak akan ada  kekuatan sebesar apapun yang akan dapat mengalahkannya, demikian sebaliknya, siapa yang Allah kehendaki kekalahan baginya, maka tidak akan ada siapapun yang akan mampu untuk menolongnya, meskipun seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersatu untuk menolongnya.

           Mau tidak mau, suka ataupun tidak, Islam akan kembali bangkit, dengan ataupun tanpa kita, karena sangat mudah bagi Allah Subahanahu wata’ala untuk mengangkat kembali kejayaan Islam ini sebagaimana dahulu Islam ini pernah berjaya lebih kurang tiga belas abad lamanya. Sebagai seorang hamba yang mengaku dirinya beriman, maka seyogyanya dia akan membuktikan keimanannya kepada Allah Subahanahu wata’ala, dalam bentuk perjuangan dalam rangka iqomatuddin, dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya, mempersiapkan diri mulai dari sisi ruhani maupun jasmani nya, itulah yang dikatakan i’dad yaitu persiapan diri dalam perjuangan. Allah berfirman, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfaal : 60)

           Walaupun kemenangan dan kejayaan atas dien-Nya itu adalah hak prerogatif Allah Subahanahu wata’ala, namun untuk mendapatkannya tetaplah harus dengan ikhtiar yang maksimal dan dibalut bengan keikhlasan, karena kemenangan dan kejayaan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Allah Subahanahu wata’ala akan melihat sejauh dan semaksimal apa yang telah dilakukan oleh hambanya untuk menggapai pertolongan-Nya. Di sinilah Allah Subahanahu wata’ala akan memeberikan pertolongan-Nya sesuai dengan apa yang diikhtiarkan hambanya tersebut.

           Sejarah telah membuktikan, bahwa Islam pernah berjaya selama berabad-abad lamanya, sebagaimana yang telah dipelopori oleh sang Revolusioner besar yang pernah ada di muka bumi ini, dialah Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, dengan ketaqwaan, ketawadhu’an, keikhlasan, pengorbanan juga dengan tetesan keringat dan darah yang terangkai dalam bingkai perjuangan inilah yang mengundang datangnya kemenangan dan pertolongan dari Allah Subahanahu wata’ala, yang kemudian berlanjut dengan para Khalifah sebagai penerusnya, yang masih tetap diwarnai oleh kejayaan dan kemakmuran yang sangat gemilang, yang belum pernah ada sebelumnya satu imperium pun yang memiliki kejayaan seperti kejayaan Islam setelah datangnya Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasalam ini.

           Dalam setiap perjuangan kaum Muslimin, kita dapati bahwa kemenangan demi kemenangan yang diraih bukanlah dikarenakan jumlah ataupun bekal logistik mereka, namun sebaliknya, akan kita dapati jumlah dan perbekalan kaum muslimin jauh lebih sedikit apabila dibandingkan jumlah perbekalan musuh. Bisa dilihat kutipan dari bahasa Khalifah /Amirul Mukminin Abu Bakar Asshiddiq radiallahu anhuma berkata kepada panglima perangnya ‘Amru bin ‘Ash, “Dahulu kita pernah berperang bersama Rasulullah, sedangkan yang kita miliki hanyalah dua ekor kuda, adapun kita sendiri, waktu itu hanya berjalan di belakang onta. Dalam perang Uhud yang disertai Rasulullah pun kami hanya membawa seekor kuda yang ditunggangi oleh beliau. Meski demikian, Allah tetap memenangkan dan menolong kita atas orang-orang yang menyelisihi kita.”

          Oleh sebab itu jika kita hendak menginginkan kemenangan seperti itu, maka patutlah kita mengikuti sebab-sebab kemenangan tersebut, bagaimana cara membuat 313 muslim bisa menang melawan 1.000 kafir pada perang Badar. Pasukan 3.000 muslim berhasil mengalahkan 200.000 kafir pada perang Mu’tah. Dimana juga ketika pasukan Romawi dengan jumlah yang sangat besar, luluh lantak oleh kaum muslimin dalam setiap kancah peperangan. Salah seorang pasukan memberi penjelasan kepada Raja Heraclius yang sedang murka terhadap pasukan nya, “Mereka semua bangun menunaikan shalat malam, mereka berpuasa disiang hari, mereka menepati janji, mereka beramar ma’ruf nahi munkar, serta mereka saling tolong menolong. Juga karena kami semua meminum arak, berzina, melanggar yang haram, menyelisihi janji, berbuat ghashab, berbuat zhalim, menyebarkan perseteruan, meninggalkan hal-hal yang diridho’i aleh Allah,serta membuat kerusakan di muka bumi.”

          Dapat juga menjadi sebuah pelajaran, ketika Thulaihah (Panglima kafir) melihat banyak sekali pasukannya kucar-kacir menjadi pecundang di medan perang, ia berkata, “Celaka ! apa yang membuat kalian Kocar-kacir begini,,,?! Salah seorang pengikut setianya menjawab: “Saya beritahukan kepadamu, apa yang membuat kita kalah total. Sesungguhnya tidak seorangpun dari mereka yang menginginkan sahabatnya terbunuh lebih dahulu. Kami benar-benar mendapati suatu kaum yang semuanya ingin kematiannya datang lebih dahulu daripada kematian sahabatnya!”.

           Bagaimana mungkin kaum muslimin pada saat itu dapat terkalahkan, sedang mereka memenuhi semua sebab kemenangan, dan kaum kafir memenuhi semua sebab kekalahan. Selayaknya kita bertanya hari ini, sudahkah kita memenuhi syarat atau sebab-sebab kemenangan tersebut, atau bahkan sebaliknya? Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Untuk kemenangan serupa Ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”. (QS. Ash Shaaffaat : 61).

            Adapun sebab-sebab yang mejadi faktor kemenangan kaum muslimin itu antara lain adalah :

  1. Bertaqwa kepada Allah Subahanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan”. (QS. An Naba’ : 31). Perintah untuk senantiasa taqwa kepada Allah Subahanahu wata’ala. Taqwa berasal dari kata “waqo”, yang berarti menjaga, melindungi, sikap waspada dan penjauhan diri dari hal-hal yang membahayakan atau dapat mencelakakan. Adapun secara istilah, Taqwa adalah “Menjauhkan diri dari kemurkaan, azab, teguran dan ancaman Allah Subahanahu wata’ala, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta menjauhi hal-hal yang dapat mengarahkannya kepada larangan-larangan Allah Subahanahu wata’ala, dimana salah satu larangan-Nya adalah berpecah belah, sehingga perpecahan ini adalah menjadi salah satu sebab kekalahan.
  2. Teguhnya hati, “Istiqamah” sebagai mana Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. (QS, Fushshilat : 30 -31). Dikarenakan teguhnya hati akan membawa teguhnya jiwa, teguhnya raga, fisik dan mental.
  3. Komitmen dengan Janji Setia (Bai’atnya). Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (QS. Al Fath (48) :18). Ayat ini berkenaan pada bulan Dzulqo’dah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan y lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Karena itu Nabi menganjurkan agar kaum muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.
  4. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih baik Diennya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti dien Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS. An Nisa’ : 125).

            Ikhlas adalah salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah diterima Allah Subahanahu wata’ala. Pengertiannya ialah memurnikan ibadah atau amal shaleh hanya untuk Allah Subahanahu wata’ala dengan mengharap keridhaan-Nya semata. Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas adalah, “Mengesakan Allah Subahanahu wata’ala di dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketha’atan”, beliau juga menjelaskan bahwa makna ikhlas adalah “Memurnikan amalan dari segala yang mengotorinya”.

           Berjuang itu hanya karena Allah Subahanahu wata’ala saja, untuk menetapkan uluhiyyah-Nya di muka bumi dan menolak thaghut yang merampas uluhiyyah-Nya tersebut. Maka perjuangan itu adalah untuk menjunjung tinggi Dienullah bukan untuk berkuasa, bukan untuk memperoleh harta dan bukan untuk mendapatkan kepentingan pribadi atau suatu golongan tertentu. Wallahu a’lam

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts