KEKUASAAN BUKAN TUJUAN TETAPI JANJI ALLAH

TARBIYAH 0

Hadi Salam

Dia telah mensyariatkan kamu tentang Dien, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, Tegakkanlah Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah hendak menarik kepada Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (Dien)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Qs. 42 As-Syura : 13)

Allah SWT telah memerintahkan kepada orang beriman untuk menegakkan Dien (iqaamatud-diin). Dalam ayat ini, Allah menyebutkan lima Rasul yang utama (ulul-‘azm), yaitu Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, ‘Isa AS, dan yang kelima adalah Muhammad SAW. Allah berwasiat kepada mereka seluruhnya untuk menerima agama yang telah Dia tetapkan untuk mereka.Wasiat ini termaktub pada firman Allah tersebut.

Sebagian ulama dan aktifis gerakan Islam menafsirkan iqomatuddiin dengan tafsiran berbau politik,  yaitu menegakkan Daulah Islamiyyah. Hal ini disebutkan secara jelas oleh Abul A’la al-Mauduudiy ketika dia berkata bahwa ayat ini bermakna menegakkan pemerintahan ilaahiyyah. Akan tetapi, jika kita kembali para ahli tafsir Qur’an, yang mereka semua berkata bahwa makna “aqiimud-diin” adalah “tegakkanlah segala sesuatu yang menjadikan kita sebagai seorang muslim, sesuai kemampuan kita. ”Mereka menjelaskan bahwa menegakkan diin itu adalah dengan beriman kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, rasulNya, hari kiamat, dan qadar. Dan ini juga mencakup berjuang dalam memperbaiki akhlak dan menjauh dari apa yang buruk dan membahayakan.

Abul-‘Aaliyah, salah satu ulama’ besar di jaman taabi’iin, berkata, “Iqaamatud-diin adalah ikhlas kepada Allah dan ikhlas dalam ibadahNya, tidak menjadikan sekutu bagiNya.” Imam Mujaahid, salah satu ulama’ besar dalam tafsir al-Qur’an, berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Tidaklah diutus seorang Nabi pun kecuali dengan perintah untuk menegakkan shalat, zakat, meng Agungkan Allah, dan ta’at kepadaNya. Itulah yang dimaksud dengan menegakkan Dien (iqaamatud-diin). ”Inilah yang dikatakan oleh Mujahid tentang makna iqaamatud-diin. Hal lain yang menunjukkan benarnya pemahaman ini adalah bahwa Allah berwasiat kepada para Rasul untuk menegakkan diin, maka sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa sebagian besar dari mereka tidak menegakkan daulah.

Maka, jika kita perhatikan bagaimana kesalahan dalam memahami tentang ayat di surat asy-Syura ini dapat berujung pada kesesatan yang besar tentang memahami agama Islam seluruhnya. Oleh karena itu, bagaimana kita meluruskan kesalahan tentang makna Islam ini?

Pertama, kita harus kembali pada al-Qur’an dan kita lihat apa tujuan utama dibutusnya para Rasul dan juga apa isi dakwah dari mereka. Maka kita akan temukan bahwa Allah SWT mengabarkan kepada kita bahwa Dia mengirim Rasul seluruhnya untuk beribadah kepada-Nya. Lalu Allah menyebut para Nabi dan Rasul satu-persatu, seperti Nuh, Shaalih, Huud, Syu’aib, dan selain mereka. Apa yang mereka serukan kepada kaumnya? Mereka menyerukan, “Sembahlah Allah, sungguh Dia tidak memiliki sekutu apa pun.” Lalu Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Tidak ada Rabb yang haq melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (Qs. Al-Anbiyaa’, 21: 25).

Maka, sama sekali tidak akan kita temukan di dalam kabar dan kisah tentang mereka, bahwa mereka berdakwah kepada manusia untuk menegakkan daulah, atau seperti yang dikatakan oleh Sayyid Quthb dan al-Mauduudiy, bahwa mereka para Rasul itu mengajak pada revolusi politik. Sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya, bahwa dengan melihat kabar dan kisah tentang para Nabi dan Rasul, kita akan temukan bahwa hanya sedikit sekali dari mereka yang pernah menegakkan daulah dan memiliki pemerintahan. Jika kita berkata bahwa tujuan utama dari agama dan risalah ini adalah untuk menegakkan daulah dan pemerintahan, maka pada hakikatnya kita telah menghina para Rasul ‘alaihimush-shalaatu was-salaam dan mengatakan bahwa mereka telah gagal dalam berdakwah.Ini adalah kesimpulan logis dari pemikiran ini.Yaitu, pemikiran mereka ini memiliki konsekuensi berupa penghinaan terhadap para Rasul, menurut akal yang logis.

Lalu, apa jawaban dari mereka, yaitu mereka yang berkata bahwa tujuan utama agama ini adalah menegakkan daulah, terhadap kesimpulan logis ini? Jawaban mereka itu tidak keluar dari dua hal.

Pertama adalah bahwa para Nabi telah gagal dan tidak dapat mencapai tujuan utama diutusnya mereka.Ini adalah jawaban yang ditegaskan oleh al-Khumainiy (Khomeini), pemimpin Revolusi Islam di Iran.Dia mengatakan hal ini secara jelas dalam sebuah khuthbah pada tanggal 28 Juni 1980, “Semua Nabi itu sesungguhnya hanya datang untuk menegakkan keadilan (yaitu, menegakkan daulah).Dan tujuan utama dari setiap Nabi adalah bahwa mereka harus menegakkan hal ini di seluruh penjuru dunia. Akan tetapi mereka tidak sukses, termasuk penutup para Nabi itu sendiri (yaitu, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam), yang datang untuk memperbaiki keadaan seluruh manusia dan untuk menerapkan keadilan bagi seluruh manusia. Dia sendiri tidak bisa melakukannya (yaitu, gagal).Dan satu-satunya orang yang akan sukses menerapkan keadilan bagi seluruh manusia di dunia ini adalah al-Mahdiy.”

Adapun orang-orang yang tergabung dalam jama’ah politik yang mengklaim diri mereka sebagai Ahlus-Sunnah wal-Jamaa’ah (yaitu, bukan Syi’ah) tidaklah mengatakan secara eksplisit bahwa para Nabi telah gagal mencapai tujuan utamanya. Namun, mereka mengatakan kalimat yang tidak secara tegas menyebutkan yang demikian, akan tetapi mirip secara makna. Misalnya, al-Mauduudiy berkata, “Tujuan utama dari para Nabi itu adalah revolusi politik.”Dan hal ini dikatakan olehnya padahal dia sendiri mengetahui bahwa para Nabi itu tidaklah melakukan revolusi politik. Meskipun al-Mauduudiy tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Khomeini, akan tetapi dia berkata, “Beberapa Nabi datang hanya (dan tidak memiliki tujuan lain selain) untuk menyiapkan daerah bagi para Nabi yang akan datang setelahnya, misalnya Nabi Ibrahim. Dan beberapa dari mereka sebenarnya melakukan revolusi politik, akan tetapi aksi mereka itu terhenti tanpa dapat menegakkan daulah Islam, seperti Nabi ‘Isa ‘alaihis-salaam.” Dari kalimat ini jelas bahwa al-Mauduudiy mengatakan bahwa Nabi ‘Isa itu gagal dalam menegakkan daulah dan pemerintahan, akan tetapi dia mengatakannya dengan kalimat yang lembut dan indah.Lalu al-Mauduudiy melanjutkan, “Akan tetapi sebagian dari mereka sukses dalam gerakan mereka ini, seperti Nabi Musa dan Nabi Muhammad.”

Pemikiran tentang tafsir kata diin dan pemahaman tentang tujuan utama diutusnya para Rasul ini, pertama, adalah bentuk distorsi terhadap dakwah para Nabi ‘alaihimush-shalaatu was-salaam.Kedua, ia adalah kedustaan atas mereka, atas kabar dan kisah tentang mereka. Ketiga, ia adalah klaim bahwa para Nabi tidak sukses dalam berdakwah. Padahal, pada hakikatnya, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an, bahwa semua dari para Rasul itu datang dengan satu tujuan.Setiap dari mereka itu sukses dalam memenuhi tujuan ini dengan kesuksesan yang sebenar-benarnya.Mereka tidak datang untuk mengadakan revolusi politik sebagaimana yang mereka (orang-orang yang tergabung dalam berbagai jama’ah politik itu) katakan.Mereka para Rasul itu juga tidak datang untuk menegakkan daulah.

Ketika orang-orang kafir Quraisy datang bernegosiasi dengan Nabi untuk menghentikan dakwah beliau, mereka bertanya, “Apa yang kau inginkan? Apakah engkau menginginkan kerajaan? Maka kami akan menjadikan engkau sebagai raja bagi kami. ”Maka Nabi tidaklah menerima tawaran ini karena Nabi tidaklah datang dengan tujuan menegakkan kekuasaan dan kerajaan.Akan tetapi, beliau hanya datang untuk menegakkan hujjah (al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada segenap manusia dan untuk mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah.

Dalil lainnya yang menunjukkan bahwa pemikiran mereka itu bathil adalah bahwa al-Qur’an itu dipenuhi dengan ayat-ayat tentang wajibnya tauhid, ibadah kepada Allah, rukun Islam, akhlak yang baik, dan penjelasan tentang halal dan haram. Namun, tidaklah ditemukan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah satu pun dalil yang secara jelas dan gamblang memerintahkan kita untuk berjuang menegakkan pemerintahan, yang secara syar’i menyebutkan bahwa inilah maksud dan tujuan utama dari Islam.Tidaklah ditemukan satu pun tentang hal ini di al-Qur’an.Oleh karena itu, setelah mengetahui hal ini, dari mana kita bisa-bisanya menjadikan hal ini sebagai prinsip utama (ushuul) dalam Islam dan maksud utama dari kerasulan dan kenabian?

Sebaliknya, kita tidak mendapatkan satu dalil pun dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang memerintahkan dan memotivasi untuk menegakkan daulah atau mengadakan revolusi politik seperti yang mereka katakan. Namun, kita malah menemukan bahwa Allah mengabarkan kepada kita bahwa penegakan daulah itu adalah janji dari Allah SWT. Yaitu, bahwa memiliki daulah dan kekuasaan itu adalah berkah dari Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih.Ini adalah keutamaan dari Allah, yang tidak didapatkan dan tidak mungkin didapatkan dengan maksiat kepadaNya, kriminalitas, pembunuhan, pemenggalan kepala, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Akan tetapi, ia hanya bisa didapatkan dengan iman dan amal shalih. Allah SWT berfirman, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (Qs.An-Nuur, 24: 55)

Walaupun semua hal ini adalah janji dari Allah, Allah mengingatkan kita bahwa itu semua bukanlah tujuan utama, dan tidaklah untuk diperjuangkan secara khusus. Akan tetapi, semua ini hanyalah wasilah untuk tercapainya tujuan utama, yaitu apa yang disebutkan oleh Allah dalam kelanjutan ayat di atas, “Mereka menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu.” (Qs.An-Nuur, 24: 55)

Oleh karena itu, segala sesuatu yang bukanlah termasuk rukun iman dan rukun Islam, dan juga bukan merupakan ibadah mahdhah (ibadah yang murni adalah ibadah) dalam Islam, maka kita akan menemukan bahwa semua itu adalah hukum-hukum sekunder yang hanyalah merupakan wasilah untuk tercapainya mashlahat dan tujuan utama. Ia hanyalah wasilah, dan bukanlah maksud dan tujuan yang kita harus fokus berjuang untuk mewujudkannya. Contohnya adalah cabang jihad yang bernama qitaal (jihad dengan senjata).Qitaal ini hanyalah sebagai wasilah untuk tercapainya tujuan utama. Wasilah untuk apa? Untuk menjaga dakwah dan menghilangkan kezhaliman. Dan hal ini secara syar’i termaktub dalam surat al-Baqarah, “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah (musibah dan bencana). ”(Qs. Al-Baqarah, 2: 193).

Yaitu, sampai kalian tidak dihalangi dari dakwah dan tidak dihalangi dari ibadah kepada Allah.Bukanlah maksud fitnah di sini adalah tidak adanya daulah atau kekuasaan. “Dan sehingga agama itu hanyalah semata-mata untuk Allah.Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Qs. Al-Baqarah, 2: 193).

Maka, Daulah itu hanyalah merupakan wasilah. Dengan adanya Daulah kita dapat melaksanakan ibadah dengan sempurna. Dalam kaidah ushul dikatakan sebagai berikut : “Apa bila perkara yang wajib tidak akan sempurna tanpa adanya sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib”.

Kita memohon kepada Allah SWT agar menampakkan Al-Haq kepada kita sebagai kebenaran, dan semoga Dia memudahkan kita untuk dapat mengikuti kebenaran tersebut, dan menampakkan kebathilan sebagai kebathilan, dan semoga Dia memudahkan kita untuk dapat menjauhi kebathilan tersebut. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamiin.

 

Facebook Comments
Tags:

Related Posts