KEKHALIFAHAN, SATU-SATUNYA SISTEM ISLAM YANG SEMPAT HILANG

              Jakarta, 26 Rabi’ul Awwal 1436 H (17/01/15). Acara yang digagas oleh Amir Ummil Quro Jakarta Selatan Ust. Sahidin dengan mengundang narasumber Ust. Abu Salma dan juga Ust. Mukhliansyah (Pimred) memenuhi undangan Bpk. H. Purnomo untuk berdialog dengan ikhwan-ikhwan lama di kediaman Bpk. H. Romadhon di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Hadir pada saat itu ikhwan-ikhwan yang dulu aktif di NII KW 9, mantan pejabat kementrian Agama dan wakil ketua BKPAKSI (Badan Komunikasi Pendidikan Al Qur’an dan Keluarga Sakinah) Ust. Syamsudin.

            “Kami datang ke tempat ini yang paling pertama adalah menjalin silaturahim, kemudian kami ingin menginformasikan kepada para hadirin tentang sebuah kebenaran yaitu upaya penegakan Islam melalui bingkai kekhalifahan yang merupakan satu-satunya sistem Islam yang telah lama hilang. Berharap hal ini dapat kita dialogkan dalam rangka fastabaqul khairat”, terang ustad Abu Salma dalam kesempatan yang diberikan. Lanjut beliau “diawali pertemuan dengan Bpk. H. Purnomo dan kami mengadakan dialog sehingga beliau merasa perlu untuk melanjutkan dialog bersama sahabat-sahabatnya sehingga terjadilah acara pada hari ini.

            Dalam kesempatan yang diberikan kepada Ust. Mukhliansyah beliau mengawali dengan membaca ayat QS. Al Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. Para ahli tafsir insya Allah sepakat bahwa orang beriman itu bersaudara, sehingga kita tidak usah mempermasalahkan perbedaan tafsir justru saat ini kita cari titik temunya.

Ketika hijrah nya Rasulullah, ada kaum Anshor mereka telah menyatakan bai’at kepada Rasulullah yang kita kenal dengan Bai’at Aqobah 1 dan 2, kenapa melalui bai’at? Justru mereka ingin memperkuat saudara seimannya. Maka ketika Abbas paman Nabi Saw mengatakan kepada penduduk Yatsrib (Madinah), “Wahai penduduk Yatsrib maukah kalian membela Nabi Muhammad Saw ini karena dinegrinya (Mekah) beliau didzalimi? Jawab Anshor kami siap membela beliau seperti mana kami membela saudara kami, namun apa keuntungannya untuk kami? Rasulullah Saw menjawab “Alaikum bil Jannah” artinya “untukmu surga”. Jadi intinya persaudaraan yang Allah terangkan didalam ayat-Nya diatas itu harus diperkuat dengan sumpah (bai’at) untuk menegakkan Ad Din, inilah yang harus kita fikirkan dan hal ini sudah dicontohkan oleh para sahabat lihat QS At Taubah ayat 100. “Iya itu benar, celetuk Bpk Haji Purnomo dan Bpk Zainal, ketika mendengarkan paparan yang disampaikan Ust. Mukhliansyah.

            Upaya penegakkan Ad Din ini telah Allah Subahanahu wata’ala sampaikan konsep-konsepnya secara detail didalam ayat-ayatNya.  Didalam QS An Nisa (4) ayat 59 tentang kepemimpinan Islam, namun justru karena banyaknya tafsir sehingga ada yang menafsirkan Ulil Amri disini adalah “Presiden”. Maka kepada orang yang menafsirkan “Ulil Amri” itu adalah Presiden, ana ada pertanyaan. Karena lanjutan dari QS. An Nisa ayat 59 itu adalah “Ketika kamu berbeda pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah)”. Petama ketika hukum korupsi menurut ana harus potong tangan, namun kata Presiden harus di penjara, maka maukah Presiden kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah untuk membuktikan kebenaran QS An Nisa : 59 ? Begitu juga ketika ana katakan bahwa tidak boleh hukumnya pemimpin itu adalah wanita, namun kata Presiden boleh, maka maukah Presiden kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah ? maka jawabnya pasti tidak mau maka gugurlah bahwa Presiden itu adalah “Ulil Amri” yang ditafsirkan oleh sebagian Ulama.

            Lanjut Ust. Mukhliansyah, “maka dalam kesempatan ini kami mengajak kepada hadirin untuk menegakkan Islam melalui bingkai Kekhalifahan Islam, yang merupakan satu-satunya sistem Islam yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya dan telah diikuti oleh generasi terbaik yaitu Sahabat hingga tahun 1924 ketika Kekhalifahan Utsmani runtuh oleh konfirasi Yahudi. Maka saat ini telah dimaklumatkan kembali tegaknya Kekhalifahan Islam pada 13 Rabi’ul Awwal 1418 H atau 18 Juli 1997 M dengan Khalifah / Amirul Mukmininnya : Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja.

            Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Ust. Syamsudin (wakil ketua BKPAKSI), beliau mengatakan apa yang telah disampaikan Ust. Mukhliansyah menurutnya sudah cukup, bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mendasar. Bahwa dari beberapa pergerakan Islam sesungguhnya ada benang merah yang harus digabungkan, sehingga Kekhalifahan Islam memang harus sering-sering digaungkan, namun perlu kehati-hatian.

            Namun untuk saat ini kami melihat dari kebijakan pemerintah apa kira-kira yang bisa kita masuk didalamnya, seperti kebijakan tentang pendidikan maka kita coba masukan “Pendidikan Al Qur’an dengan metode Iqra. Kemudian kebijakan dibidang sosial kita masuk melalui “Keluarga Sakinah” dan menggalakan kegiatan dimesjid-mesjid, dan lain-lain.

            Menurut Ust. Syamsudin yang mengaku kenal dengan Ust. Mukhliansyah ketika bertemu di Malaysia melalui kakak iparnya Ust. Mukhliansyah yaitu Ust. Darka, “bahwa hendaklah orang beriman itu seperti “Lebah” dengan membaca hadits Rasulullah Saw,  yang intinya memakan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik dan bermanfaat serta ketika hinggap tidak merusak”, itulah sesungguhnya pribadi muslim. Saat ini Kekhalifahan Islam belum tegak, maka kita tetap berusaha bagaimana walaupun sistem belum tegak kita bisa meraih surganya Allah Subahanahu wata’ala, maka kita beramal sesuai kemampuan”.

            Kesimpulan, bahwa sesungguhnya Allah perintahkan kaum muslimin itu bersatu didalam wadah persautan ummat yang sudah diperintahkan dan haram hukumnya berpecah-belah yang menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah dan menyebabkan syari’at Islam tidak tegak secara kaafah. Maka ketika sistem Kekhalifahan Islam sudah dikumandangkan maka kewajiban ummat Islam untuk segera merapatkan diri dan beramal di sistem Islam tersebut. Sebagai contoh ketika orang menanam di kebun orang, maka yang meraup hasilnya tentunya orang lain, maka menanamlah dikebun sendiri agar kita merasakan hasilnya. Begitu juga dengan sebuah sistem, ketika kita habis-habisan melakukan perbaikan disistem yang bukan Islam, maka sistem itulah yang akan meraup hasilnya yang seharusnya sistem Islam yang kita perjuangkan. Wallahu a’lam. [TB]

Facebook Comments
Tags:

Related Posts